GAZA — Penderitaan jutaan warga terisolasi di Jalur Gaza tak lagi sebatas perjuangan merebut setetes air bersih, mengais sisa makanan, atau melarikan diri dari hujan bom Israel. Memasuki cuaca panas ekstrem, ancaman baru kini merayap masuk ke dalam tenda-tenda pengungsian saat malam tiba: teror Ular dan berbagai jenis reptil berbisa.
Ketika masyarakat berusaha bertahan di tengah himpitan hidup yang brutal, mereka terpaksa menghadapi ancaman lingkungan dan kesehatan yang kian tak terkendali. Tenda terpal yang semestinya menjadi satu-satunya perlindungan terakhir dari serangan udara kini berubah menjadi perangkap yang amat menakutkan.
Unggahan video yang viral dalam beberapa hari terakhir memperjelas mimpi buruk ini. Tayangan tersebut memperlihatkan seekor ular berukuran cukup besar meliuk di dalam tenda keluarga pengungsi, sesebuah pemandangan yang menyulut ketakutan massal di tengah minimnya alat perlindungan diri.
Ummu Muhammad: Malam-Malam Tanpa Tidur
Ummu Muhammad Hawash, seorang ibu yang tinggal di dalam tenda sempit bersama suami dan lima anaknya selama berbulan-bulan, menuturkan bahwa ketakutan terhadap reptil kini telah menjadi bagian dari rutinitas harian yang menyiksa.
Ia mengawali paginya bukan dengan menyiapkan sarapan, melainkan membersihkan area sekitar tenda dari tumpukan sampah dan semak kering demi mencegah ular bersarang. Namun, saat malam tiba, kecemasan yang sebenarnya baru dimulai. Ia harus menyisir setiap sudut kain tenda dan melarang anak-anaknya melangkah tanpa alas kaki.
“Tidur nyenyak adalah hal yang sangat mewah bagi kami. Kami terbangun berkali-kali setiap malam hanya karena mendengar pergeseran kecil atau suara desiran. Kadang itu hanya kucing atau tikus, tetapi bayangan akan keberadaan ular membuat kami terus bersiaga penuh. Setiap malam anak-anak bertanya apakah tenda kami aman, dan saya tidak punya jawaban untuk menenangkan mereka,” tuturnya memilukan.
Hal yang paling membayanginya adalah keselamatan balita dan anak-anak kecil yang kerap tak menyadari bahaya ular atau kalajengking saat bermain maupun tertidur di atas tanah tebal.
Bersiaga Malam Berbekal Senter dan Kayu
Abu Ahmad Muhanna, seorang pengungsi lainnya, menceritakan bahwa warga kamp terpaksa mengandalkan diri mereka sendiri untuk melawan ancaman ini akibat tiadanya fasilitas sanitasi maupun bahan kimia pembasmi hama.
Setiap malam, Abu Ahmad bersama para pemuda kamp berpatroli mengelilingi area pengungsian. Berbekal penerangan senter seadanya dan tongkat kayu, mereka menyisir semak-semak pasir di sekitar pemukiman kain tersebut.
Menurutnya, penampakan ular berbisa kini bukan lagi peristiwa langka seperti masa sebelum perang.
“Sebelum mengungsi, kami hanya mendengar keberadaan ular di lahan pertanian jauh atau daerah perbatasan. Namun hari ini, ular-ular itu muncul tepat di depan pintu tenda dan di tempat anak-anak berkumpul. Ini memicu kepanikan luar biasa, terutama saat kegelapan malam melingkupi kamp,” ujarnya.
Warga berupaya menutup celah-celah bawah tenda dengan benteng sederhana dari tumpukan batu dan pasir. Namun, langkah darurat tersebut dinilai tak cukup mampu menahan laju hewan melata.
Yusuf: Masa Kecil yang Dihantui Ketakutan
Yusuf, seorang bocah berusia 11 tahun, mengaku tak lagi berani melangkahkan kaki keluar dari tenda setelah matahari terbenam.
Ia menceritakan pengalaman traumatiknya saat melihat langsung seekor ular melintas di area bermain anak-anak. Sejak hari itu, melangkah di atas padang pasir kamp menjadi hal yang menakutkan baginya.
“Saya selalu menatap tanah dan memeriksa setiap pijakan sebelum melangkah. Bahkan ketika terbangun malam hari, saya sangat takut ada sesuatu yang merayap di samping tempat tidur saya,” tutur Yusuf polos.
Anak-anak di pengungsian kini saling bertukar cerita horor tentang penampakan ular dan sengatan kalajengking, menambah beban trauma psikologis di tengah kecamuk perang.
Dampak Kehancuran Sanitasi Lingkungan
Para pakar lingkungan dan kesehatan menegaskan bahwa penumpukan ribuan ton sampah yang membusuk, puing-puing bangunan yang tak terurus, serta tidak adanya penyemprotan hama secara berkala menjadi pemicu utama meledaknya populasi reptil dan pengerat di Gaza. Terlebih, lonjakan suhu udara musim panas kian mendorong hewan-hewan tersebut keluar mencari tempat bernaung.
Di tengah gumpalan tenda yang padat dan fasilitas hidup yang lumpuh, teror ular menjadi babak baru penderitaan warga Palestina. Di Gaza hari ini, kematian tak lagi hanya datang meluncur dari langit, tetapi juga merayap diam-diam di atas tanah.
*Diterjemahkan dan diolah dari Palestinian Information Center










