RAMALLAH – Sebuah rekaman amatir berdurasi pendek kembali mengoyak klaim moralitas militer Israel di Tepi Barat. Video yang viral di jagat maya itu menangkap fragmen kekerasan saat pasukan Israel menyerbu Desa Al-Mughayyir, timur laut Ramallah. Di sana, seorang serdadu terekam mengintimidasi dan menganiaya seorang bocah Palestina yang tampak tak berdaya.
Dalam potongan gambar tersebut, sejumlah tentara terlihat menyekap dua anak di bawah umur. Salah satu tentara ISrael dengan kasar mencengkeram bocah pertama, mendorong, dan menyiksanya saat korban berusaha melepaskan diri. Sementara itu, rekan-rekan tentara lainnya mengepung anak kedua, memastikan tak ada ruang untuk menghindar.
Video ini menjadi bukti keras yang memicu gelombang kemarahan internasional. Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di Palestina, Francesca Albanese, merespons melalui akun resminya di platform X.
“Saya sudah melihat cukup banyak untuk mengatakan dengan keyakinan penuh, Tentara Israel adalah militer yang paling mengalami dekadensi moral,” tulis Albanese.
Bukan Insiden Tunggal, Melainkan Pola
Aktivis kemanusiaan dan praktisi hukum menegaskan bahwa kekerasan di Al-Mughayyir bukanlah kecelakaan lapangan atau tindakan individu “oknum” semata. Hal ini dipandang sebagai refleksi dari eskalasi kebijakan represi yang kian sistematis selama penggerebekan lapangan di Tepi Barat.
Penyergapan dan penahanan anak-anak di bawah umur dengan cara-cara kekerasan dianggap sebagai pelanggaran telanjang terhadap Konvensi Hak Anak dan hukum humaniter internasional. “Masa kecil di Palestina telah berubah menjadi perjuangan harian untuk bertahan hidup,” tulis seorang warganet dalam diskusi yang memanas di platform digital. Bagi otoritas pendudukan, kehadiran fisik anak-anak Palestina tampaknya dianggap sebagai ancaman eksistensial yang harus diredam dengan popor senjata.
Penjara Bagi Anak-Anak
Di balik layar rekaman video tersebut, data statistik menunjukkan kenyataan yang lebih kelam. Saat ini, Israel dilaporkan menyekap sekitar 360 anak Palestina di penjara-penjaranya. Kondisi mereka tak jauh berbeda dengan tahanan dewasa: menghadapi isolasi, keterbatasan akses medis, dan tekanan psikologis yang berat.
Kelompok hak asasi manusia mendesak agar komunitas internasional tidak lagi bungkam. Keheningan global dianggap sebagai “lampu hijau” yang melanggengkan praktik impunitas. Mereka menuntut dibukanya investigasi internasional yang independen untuk menyeret para pelaku kekerasan ke pengadilan hak asasi manusia.










