Sedikitnya delapan warga Palestina syahid dan sejumlah lainnya terluka dalam serangan udara Israel yang menghantam wilayah tengah Jalur Gaza, Sabtu dini hari (11/4). Serangan ini menambah daftar panjang korban sipil di tengah situasi yang disebut berbagai pihak kian tidak aman, meski gencatan senjata diklaim masih berlaku.

Sumber medis di Gaza menyebutkan, serangan tersebut menyasar sekelompok warga sipil di area “Blok 9” Kamp Al-Bureij. Delapan korban dinyatakan syahid di lokasi, sementara sejumlah lainnya mengalami luka, beberapa di antaranya dalam kondisi kritis. Tim medis mengevakuasi korban ke rumah sakit dalam kondisi serba terbatas, di tengah tekanan fasilitas kesehatan yang terus melemah.

Di lokasi terpisah, Kompleks Medis Nasser melaporkan menerima tiga korban luka akibat serangan drone Israel yang menghantam tenda pengungsi di wilayah Bani Suhaila, timur Khan Younis, area yang berada dekat garis kendali militer Israel.

Sementara itu, laporan lapangan mencatat intensitas serangan belum mereda. Artileri Israel dan tembakan tank dilaporkan terus menyasar wilayah timur Kota Gaza dan Khan Younis.

Pola Serangan terhadap Sipil Disorot

Di tengah eskalasi ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa mengecam berlanjutnya serangan terhadap warga sipil di Gaza. Komisioner Tinggi HAM PBB, Volker Türk, menyatakan bahwa warga Gaza masih hidup dalam kondisi tanpa rasa aman, meski gencatan senjata rapuh telah diumumkan sejak Oktober tahun lalu.

Türk menilai pola serangan yang terjadi menunjukkan pengabaian terhadap nyawa warga sipil Palestina. Data yang ia sampaikan menyebut lebih dari 32 warga Palestina syahid sejak awal April, dengan serangan yang terus menyasar rumah, tempat pengungsian, jalan, hingga fasilitas umum.

Kondisi kemanusiaan juga dilaporkan terus memburuk. Pembatasan masuknya bantuan serta kerusakan infrastruktur memperparah situasi di lapangan. PBB memperingatkan, kondisi ini berpotensi menggagalkan komitmen apa pun terhadap gencatan senjata.

Senada, Pusat Hak Asasi Manusia Gaza menyebut selama enam bulan terakhir Israel secara sistematis melemahkan kesepakatan gencatan senjata. Dalam pernyataannya, lembaga itu menilai kesepakatan tersebut kini hanya menjadi kerangka formal tanpa perlindungan nyata bagi warga sipil.

Tim lapangan lembaga itu mencatat pelanggaran terus terjadi, baik melalui serangan militer langsung maupun kebijakan pembatasan yang memperburuk krisis kemanusiaan. Sejak kesepakatan diberlakukan, tercatat 743 warga Palestina syahid, termasuk 205 anak-anak, 86 perempuan, dan 21 lansia, serta lebih dari 2.000 orang luka-luka.

Secara keseluruhan, jumlah korban sejak pecahnya agresi pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 72 ribu jiwa, dengan puluhan ribu lainnya mengalami luka.

Sumber: AFP, QNA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here