Di tengah klaim gencatan senjata yang masih berlaku, rentetan serangan penjajah Israel justru terus meluas. Pada Kamis (2/4), satu perempuan Palestina dilaporkan syahid dan seorang anak terluka akibat tembakan tentara Israel, di saat artileri dan tembakan intensif mengguncang berbagai titik di Jalur Gaza.
Sumber medis menyebut korban syahid bernama Rawan Fayyad. Ia ditembak di luar area penyebaran pasukan penjajah, tepatnya di timur Kamp Al-Maghazi, Gaza tengah. Insiden ini menambah daftar korban sipil yang terus bertambah di tengah situasi yang disebut “tenang” di atas kertas.
Di utara Gaza, seorang anak berusia 12 tahun mengalami luka tembak di kawasan Al-Atatra, Beit Lahia. Ia dilarikan ke Rumah Sakit Al-Shifa untuk mendapat perawatan. Kondisinya dilaporkan sedang, namun situasi di lapangan membuat akses penanganan medis tetap penuh risiko.
Eskalasi di Banyak Titik
Sehari sebelumnya hingga Kamis dini hari, intensitas serangan meningkat tajam. Wilayah timur Gaza tengah, Khan Younis, dan Kota Gaza menjadi sasaran tembakan artileri dan senjata berat, disertai pergerakan masif kendaraan militer Israel.
Serangan terkonsentrasi di wilayah yang berada dalam kendali militer Israel, dengan intensitas yang dilaporkan lebih tinggi dibanding pekan-pekan sebelumnya. Sepanjang Rabu, tembakan artileri dan senapan berat berlangsung hampir tanpa jeda, dari pagi hingga malam.
Pergerakan kendaraan militer terlihat aktif di sepanjang garis yang dikenal sebagai “garis kuning”—zona pemisah yang membelah wilayah Gaza dan membatasi ruang gerak warga Palestina.
Hingga kini, sekitar 53 persen wilayah Gaza bagian timur masih berada dalam cengkeraman militer Israel. Wilayah tersebut terpisah dari area lain yang masih bisa diakses warga, itupun dalam kondisi yang sangat terbatas dan penuh tekanan.
Pembongkaran dan Serangan Terkoordinasi
Militer Israel juga dilaporkan melakukan tiga operasi penghancuran bangunan di dalam zona tersebut. Wilayah Bani Suhaila, Sheikh Nasser, dan Al-Tahlia di timur Khan Younis menjadi target, selain kawasan Qizan Rashwan dan Qizan al-Najjar di selatan.
Serangan berlangsung berlapis. Selain artileri dan tembakan dari kendaraan militer serta helikopter, bom suar juga ditembakkan ke langit wilayah timur, menandakan operasi yang berjalan secara terkoordinasi.
Di Gaza tengah, kawasan timur Kamp Al-Bureij dan Deir al-Balah turut dibombardir. Sementara di utara, tembakan artileri dan senjata berat terus menghantam wilayah timur Kota Gaza, termasuk lingkungan Al-Zaytoun, Al-Shujaiya, Al-Tuffah, serta Jabalia.
Militer Israel juga melakukan peledakan di timur kawasan Al-Tuffah, memperluas dampak kerusakan di wilayah padat penduduk.
Serangan Laut dan Pelanggaran Gencatan Senjata
Tak hanya dari darat dan udara, serangan juga datang dari laut. Kapal perang Israel menembaki secara intensif tenda-tenda pengungsi di pesisir Kota Gaza dan wilayah utara.
Serangan berlapis ini kembali menegaskan pola pelanggaran terhadap kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025. Data Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak kesepakatan itu diberlakukan, sedikitnya 713 warga Palestina syahid dan 1.940 lainnya terluka akibat pelanggaran yang terus terjadi.
Secara keseluruhan, sejak dimulainya agresi pada Oktober 2023, jumlah korban mencapai 72.289 syuhada dan 172.040 luka-luka.










