GAZA — Dengan tubuh lelah dan hati teriris, Osama Deeb terpaksa bergerak cepat. Beberapa pekan sebelum musim panen resmi dimulai, petani Palestina ini terburu-buru memetik buah zaitun dari pepohonan miliknya yang telah tumbang.

Tanah tempatnya menggantungkan hidup hancur diratakan buldoser militer Israel demi menjalankan perintah militer dan melapangkan ekspansi pemukiman ilegal.

Sejak beberapa hari terakhir, alat berat militer Israel terus menggempur kawasan Wadi Da’ooq di pintu masuk Kota Arraba, selatan Jenin. Lahan-lahan pertanian warga digilas tanpa ampun, menumbangkan pohon-pohon zaitun yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi dan sumber penghidupan utama keluarga.

Dalih “Mengganggu Pemukim”

Dalam pertemuan terakhir dengan pepohonan yang meratapi nasibnya, Osama memegang sisir plastik kecil. Ia menarik dahan-dahan zaitun yang terkulai di tanah lalu mengumpulkan buah-buah hijau yang belum matang sempurna.

Dia tahu persis buah itu belum siap dipetik, tetapi ia tak punya pilihan lain di bawah tatapan mata para prajurit Israel berlaras panjang yang mengawasi dari dekat.

Osama menuturkan kepada Al Jazeera bahwa militer Israel mengklaim kawasan tersebut sebagai “zona militer tertutup”. Alasan utamanya sederhana, lahan itu berada di dekat pos militer dan jalur utama yang saban hari dilintasi para pemukim ilegal dari permukiman baru seperti Mavo Dotan dan Emek Dotan.

“Ke mana lagi harus kubawa buah-buah ini? Rasanya berdosa jika dibiarkan membusuk begitu saja,” ucap Osama getir.

Pria itu tampak linglung memikirkan nasib hasil panen prematur tersebut. “Lahan ini milik saya dan sembilan saudara saya. Sekitar 20 hari lalu, tentara memasang patok merah sebagai penanda pengerukan.

Kemarin mereka datang dan langsung meratakannya tanpa memberi kami waktu untuk panen,” lanjutnya.

Pengerukan Massal dan Blokade Akses

Kantor berita resmi Palestina, WAFA, melaporkan bahwa area yang menjadi target pengerukan di kawasan tersebut mencapai 27 dunam (sekitar 2,7 hektare), membentang sepanjang 40 hingga 50 meter di kedua sisi jalan utama.

Sembilan bulan sebelumnya, otoritas pendudukan telah menerbitkan enam perintah militer untuk meratakan tanaman di atas lahan seluas 310 dunam di wilayah Jenin, yang mencakup kawasan Ya’bad, Arraba, Anza, dan Ajja.

Pemerintah Kota Arraba mengungkapkan bahwa sejak Oktober 2023, militer Israel telah menutup akses para petani ke sekitar 1.500 dunam lahan zaitun yang mengelilingi pemukiman Mavo Dotan—kompleks pemukiman ilegal yang berdiri di atas tanah warga sejak 1984.

Pengepungan Burqa: Terjepit di Antara Dua Pemukiman

Pola perusakan demi alasan keamanan dan ekspansi ini bukan hal baru. Di pintu masuk Desa Burqa, barat laut Nablus, militer Israel telah menumbangkan tak kurang dari 500 pohon zaitun, ara, dan cemara.

Tekanan terhadap warga Burqa kian tidak tertahankan akibat intensitas serangan para pemukim ilegal. Situasi memburuk setelah berdirinya pos pemukiman (outpost) baru di kawasan Al-Mas’udiya.

Ketua Komite Pertahanan Al-Mas’udiya, Dhiab Hajjah, menegaskan bahwa pos baru tersebut didirikan di atas tanah kategori “Area A”, wilayah yang seharusnya berada di bawah kendali penuh Otoritas Palestina sesuai Perjanjian Oslo.

Wakil Ketua Dewan Desa Burqa, Mahmoud Shabib, membeberkan bahwa para pemukim ilegal nekat memutus jaringan listrik ke permukiman Al-Mas’udiya yang dihuni 80 jiwa. Mereka menghancurkan tiang lampu dan memotong kabel utama.

“Setiap kali kami perbaiki, mereka datang lagi dan memotongnya untuk memperketat cengkeraman. Ini menjadi aksi kejar-kejaran saban hari karena jarak pos mereka hanya sekitar 200 meter dari rumah warga,” kata Shabib.

Ia menggambarkan posisi Desa Burqa kini bagaikan berada di “antara dua rahang buaya”. Desa tersebut dikepung pemukiman Homesh dari utara dan timur, pos baru Al-Mas’udiya di barat, serta pemukiman Shavei Shomron di selatan.

Kondisi ini diperparah dengan penutupan jalan utama menggunakan barikade tanah dan batu selama tiga tahun terakhir.

Dari Tenda Hingga Mencaplok Gunung

Shabib menjelaskan bahwa bahaya pos baru tersebut mengancam keberlangsungan hidup warga. Bantuan air ditahan dan listrik dipadamkan, sementara keberadaan pos yang semula hanya berupa satu tenda kini beranak-pinak menjadi empat tenda besar.

Para pemukim juga mulai merambah lereng gunung terdekat untuk menguasai seluruh bukit. Target akhirnya adalah mencaplok lahan pertanian seluas 10.000 dunam yang membentang di desa Burqa, Ramin, Deir Sharaf, dan Sebastia.

Aksi teror tidak berhenti pada perusakan fasilitas publik. Para pemukim menyerang rumah warga, mengusir petani, hingga merampas hewan ternak.

“Domba-domba yang mereka gembalakan itu adalah hasil curian dari para peternak Palestina. Tujuan mereka jelas: mengusir warga lokal dan menggantikannya dengan pemukim pendudukan,” tegas Shabib.

Data dari Konsorsium Perlawanan Tembok dan Pemukiman (Wall and Settlement Resistance Commission) mencatat bahwa sepanjang Agustus saja, pasukan pendudukan dan pemukim ilegal telah melancarkan 2.030 serangan terhadap warga Palestina beserta tanah dan aset mereka. Wilayah Nablus menjadi panggung kekerasan tertinggi dengan 380 insiden, disusul Jenin dengan 230 aksi penyerangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here