Rem Husam Al-Bali (16 tahun) selamat dari maut setelah terjebak di bawah reruntuhan selama empat hari. Dengan tubuh penuh debu dan kelelahan, ia akhirnya berhasil keluar sendiri ke jalan di Beit Lahia, utara Jalur Gaza. Warga sekitar yang melihatnya sangat terkejut.

Sebelumnya, Rem dinyatakan syahid bersama 12 anggota keluarganya yang tertimbun di bawah puing-puing rumah mereka akibat serangan udara Israel.

Terkubur Hidup-hidup

Empat hari sebelumnya, pada Kamis lalu, Rem sedang berkumpul bersama keluarganya di rumah mereka di kawasan Fadous, Beit Lahia. Tiba-tiba, sebuah roket Israel menghantam rumah mereka. Dinding dan atap runtuh seketika, mengubur semua orang yang ada di dalamnya.

Tim penyelamat segera datang untuk mencari korban selamat. Namun, karena keterbatasan alat, mereka tidak dapat mengangkat reruntuhan dengan cepat. Tidak ada tanda-tanda kehidupan, sehingga Rem dan keluarganya dianggap telah syahid.

Tak ada yang tahu bahwa Rem masih hidup, terperangkap dalam gelap, bernapas dalam debu, dan mendengar suara keluarganya yang telah tiada. Ia tidak bisa bergerak, apalagi meminta tolong.

Bertahan di Antara Hidup dan Mati

Hari demi hari berlalu. Rem tetap terjebak tanpa makanan, air, atau cahaya. Namun, ia tidak menyerah. Dengan sisa tenaga, ia meraba-raba dalam kegelapan, mencari celah untuk keluar.

Setelah empat hari penuh penderitaan, ia berhasil merangkak dan menyingkirkan puing-puing dengan tangan gemetar. Ia akhirnya keluar seorang diri ke jalan.

Matanya berdarah, tubuhnya tertutup debu, dan pandangannya kosong. Ia belum sepenuhnya sadar bahwa dirinya masih hidup, sementara keluarganya telah tiada.

Rumahnya telah menjadi kuburan, dan ia satu-satunya yang selamat dari tragedi itu.

Saksi Hidup Tragedi Gaza

Kisah Rem dengan cepat menyebar di media sosial. Banyak orang menganggapnya sebagai saksi hidup atas penderitaan rakyat Gaza.

Seorang aktivis, Khaled Safi, menulis, “Empat hari dalam kegelapan, bersama jasad-jasad, dalam kesunyian maut… Lalu ia bangkit dan berjalan, seakan keluar dari perut bumi. Ini bukti bahwa Tuhan tidak meninggalkan hamba-Nya.”

Aktivis lainnya, Miqdad Jamil, mengatakan bahwa Rem bukan satu-satunya yang mengalami hal ini. Banyak korban lainnya masih hidup di bawah reruntuhan, tetapi akhirnya meninggal karena pasukan Israel melarang tim penyelamat menolong mereka.

Jurnalis Ahmad Hijazi menambahkan, “Hari ini terjadi sesuatu yang nyaris mustahil. Seorang gadis 16 tahun selamat dan keluar sendiri dari reruntuhan setelah empat hari, saat semua orang mengira ia telah tiada.”

Sementara itu, seorang pengguna media sosial berkomentar, “Empat hari dalam gelap dan kematian, lalu ia bangkit sendiri dari puing-puing… Apakah dunia melihat dan mendengar?”

Selamat dari Serangan, tetapi Dunia Mengkhianatinya

Banyak yang berpendapat bahwa kisah Rem adalah gambaran penderitaan Gaza. Seorang gadis kecil yang harus menghadapi serangan udara sendirian, terjebak di bawah reruntuhan sendirian, dan akhirnya keluar ke jalanan sendirian, mencari rumah yang sudah hancur dan keluarga yang tidak akan pernah kembali.

Mereka bertanya, “Berapa banyak Rem lainnya yang masih terkubur di bawah reruntuhan, berteriak tanpa ada yang mendengar? Berapa banyak dari mereka yang bisa diselamatkan, tetapi Israel menghalangi tim penyelamat?”

Banyak yang meyakini bahwa Rem mungkin telah selamat dari bom, tetapi ia tidak selamat dari pengkhianatan dunia. Ia adalah bukti hidup tentang bagaimana Gaza dihancurkan, sementara dunia hanya diam menyaksikan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here