Di salah satu sudut Kota Gaza, sekelompok anak duduk melingkar di sekitar imam masjid. Mereka bergantian melantunkan ayat-ayat yang baru saja mereka hafal. Suara mereka pelan, kadang terputus, namun penuh semangat.

Di depan mereka, Syekh Nabil Akram mendengarkan dengan saksama. Lingkaran kecil penghafal Al-Qur’an itu menandai kembalinya aktivitas tahfiz di Masjid Al-Omari Besar Gaza, meski hanya sebagian kecil dari masjid tua itu yang bisa dipakai.

Beberapa bulan sebelumnya, serangan militer Israel menghancurkan sebagian besar bangunan masjid yang menjadi salah satu ikon spiritual Gaza tersebut.

Masjid Tertua di Gaza

Masjid Al-Omari dikenal sebagai masjid tertua sekaligus terbesar di Gaza. Bangunannya berdiri jauh sebelum abad ke-5 Masehi, bahkan sebelum lokasi itu berfungsi sebagai masjid. Kompleksnya membentang lebih dari 4.000 meter persegi.

Kini, sisa-sisa batu yang berserakan di halaman masjid menjadi saksi bisu bagaimana bangunan bersejarah itu dihantam bom dan artileri.

Atap-atap berkubah yang dulu menjadi ciri arsitektur masjid runtuh. Untuk sementara, pengelola menutup sebagian area salat dengan lembaran plastik dan terpal. Cara darurat itu dipilih agar jamaah tetap bisa menunaikan salat dan qiyamul-lail selama Ramadhan.

I’tikaf Dibatalkan

Setelah bagian serambi utara berhasil dibersihkan dan diperbaiki seadanya, jamaah mulai kembali berdatangan. Namun ruang salat yang tersisa terlalu sempit untuk menampung semua orang.

Akibatnya, pengurus masjid terpaksa membatalkan tradisi i’tikaf sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan, ritual yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari kehidupan spiritual warga Gaza.

Bagi banyak warga, keputusan itu terasa berat.

Farij Al-Surani, yang sudah puluhan tahun menjadi jamaah tetap masjid tersebut, masih mengingat bagaimana serangan pertama menghantam bangunan itu pada Desember 2023.

Menurutnya, pesawat Israel lebih dulu membombardir masjid. Beberapa bulan kemudian, bagian barat masjid dan sejumlah bangunan yang digunakan untuk kegiatan tahfiz Al-Qur’an ikut dihancurkan. Tidak lama berselang, menara masjid pun menjadi sasaran tembakan artileri.

Surani mengenang bagaimana pada Ramadhan sebelumnya, masjid ini dipenuhi jamaah dari berbagai wilayah Jalur Gaza.

Banyak orang datang karena melihat Al-Omari sebagai “bayangan kecil” dari Masjid Al-Aqsa, simbol spiritual yang bagi warga Gaza sulit dijangkau akibat pembatasan Israel.

Jamaah yang Tak Pernah Pergi

Di salah satu sudut masjid, seorang pria lanjut usia duduk membaca Al-Qur’an.

Ia adalah Ata Al-Dayeh, yang kini berusia lebih dari 90 tahun. Selama tiga dekade terakhir ia hampir tak pernah absen dari masjid itu.

Bahkan saat perang berlangsung dan bom terus jatuh di sekitar kawasan tersebut, ia tetap datang sejauh yang ia mampu.

Kini ia kembali duduk di tempat yang sama, di antara puing dan dinding yang retak.

Masjid Tak Lagi Cukup

Syekh Tariq Haniyeh, yang juga menjadi pemandu sejarah masjid, mengatakan jumlah masjid di Gaza berkurang drastis akibat serangan yang terus berulang.

Ia menulis mushaf Al-Qur’an dengan tangan sambil menceritakan bagaimana ruang-ruang ibadah semakin menyempit.

Banyak bangunan masjid hancur, sementara puing-puing yang menumpuk membuat sulit menyediakan tempat salat alternatif.

Akibatnya, pada malam-malam qiyamul-lail di sepuluh hari terakhir Ramadhan, banyak jamaah tidak lagi mendapatkan tempat di dalam masjid.

Suara yang Hilang

Menurut imam masjid, Syekh Nabil Akram, suasana Ramadhan di masjid ini berubah drastis sejak perang.

Dulu, kata dia, Al-Omari adalah jantung kehidupan spiritual kota. Ulama, penuntut ilmu, dan jamaah berkumpul di sana hampir sepanjang hari. Kajian agama berlangsung dari pagi hingga malam.

Namun perang telah merenggut banyak imam, ulama, dan qari yang dulu memimpin salat dan menghidupkan malam Ramadhan dengan bacaan Al-Qur’an mereka.

“Masjid ini kehilangan banyak suara yang dulu mengisi malam-malamnya,” kata Akram.

Namun ia percaya masjid itu tidak benar-benar mati.

“Selama masih ada jamaah yang datang, masjid ini akan terus hidup,” ujarnya.

Menjaga Jejak Sejarah

Di tengah aktivitas ibadah yang kembali berjalan, upaya lain juga berlangsung: menyelamatkan sisa-sisa bangunan bersejarah.

Hosni Al-Mazloum dari Pusat Riwaq untuk Restorasi Bangunan Bersejarah memimpin tim yang mengumpulkan batu-batu bangunan yang runtuh.

Menurutnya, tingkat kerusakan masjid sangat parah sehingga restorasi penuh belum mungkin dilakukan.

“Prioritas kami sekarang adalah menjaga apa yang masih tersisa,” katanya.

Bagian utama ruang salat—yang mencakup lebih dari 70 persen area masjid—telah hancur hampir sepenuhnya.

Kerusakan Lebih dari 90 Persen

Hamouda Al-Dehdar dari Kementerian Pariwisata dan Purbakala Gaza mengatakan kerusakan pada kompleks masjid Al-Omari mencapai lebih dari 90 persen.

Yang tersisa hanya sebagian kecil bangunan, terutama di halaman utara serta beberapa dinding yang masih berdiri.

Masjid ini memiliki luas sekitar 4.200 meter persegi. Namun area yang berhasil dibersihkan dan dapat dipakai saat ini hanya sekitar 1.200 meter persegi.

Sejarah masjid tersebut sendiri sangat panjang.

Lokasinya dahulu merupakan kuil Romawi untuk pemujaan matahari. Pada abad ke-5 Masehi, bangunan itu diubah menjadi gereja besar. Setelah penaklukan Islam pada abad ke-7, tempat itu kemudian dijadikan masjid dan dikenal sebagai Masjid Al-Omari.

Bangunan itu diperluas pada masa Kesultanan Mamluk, diperbaiki kembali pada era Ottoman, dan dibangun ulang pada 1926 saat masa Mandat Inggris setelah mengalami kerusakan dalam Perang Dunia I.

Di antara ciri khasnya adalah tiang-tiang marmer yang berasal dari era Bizantium dan Romawi, artefak yang bertahan selama berabad-abad.

Namun perang terbaru disebut sebagai serangan paling merusak yang pernah dialami masjid tersebut sepanjang sejarahnya.

Meski begitu, di bawah terpal plastik dan di antara puing-puing batu tua, suara anak-anak yang menghafal Al-Qur’an kembali terdengar.

Bagi warga Gaza, itu cukup untuk menandai satu hal: kehidupan spiritual mereka belum benar-benar padam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here