“Tidak ada yang keluar dari Gaza. Kami menolak diusir.” Kalimat itu keluar dari mulut seorang perempuan Palestina dengan suara bergetar, sesaat setelah ia tiba kembali di Jalur Gaza menggunakan bus pertama yang melintasi Perbatasan Rafah. Hari itu menjadi penanda dibukanya kembali jalur darat Rafah, setelah ditutup lebih dari satu setengah tahun, dan sekaligus menjadi hari pertama pengoperasian efektif perbatasan tersebut.
Bagi perempuan itu, perjalanan pulang bukan sekadar perjalanan fisik. Ia menyebutnya “nyaris seperti kematian”. Sepanjang rute yang dilalui, ia dan penumpang lain harus melewati sejumlah pos pemeriksaan pasukan pendudukan Israel, dengan rasa takut yang terus menekan sejak awal hingga akhir perjalanan.
Ia mengisahkan bagaimana dirinya, sang ibu, dan seorang perempuan lain diperlakukan dengan penghinaan. Mereka mengalami penahanan sewenang-wenang, mata ditutup, barang-barang pribadi disita, serta dihadapkan pada ancaman dan intimidasi selama ditahan.
Perjalanan yang Dipenuhi Tekanan dan Penghinaan
Kesaksian serupa datang dari perempuan lain yang turut kembali melalui perbatasan tersebut. Ia mengaku sempat ditahan sekitar satu setengah jam, sebelum akhirnya dibebaskan dengan susah payah. Menurutnya, waktu singkat itu menjadi salah satu pengalaman paling berat yang pernah ia alami.
Seorang perempuan lanjut usia menceritakan kisah yang tak kalah menyakitkan. Sekitar 50 orang awalnya bersiap memasuki Gaza, namun pasukan Israel hanya mengizinkan 12 orang untuk melintas. Sisanya dipaksa kembali.
“Kami diperlakukan dengan sangat buruk. Menunggu lama, tanpa kepastian,” ujarnya.
Bus yang membawa mereka dikawal dua kendaraan militer dari depan dan belakang, sebelum diarahkan ke area dengan kehadiran militer intensif. Di lokasi tersebut, para penumpang menjalani pemeriksaan dan interogasi selama dua hingga tiga jam.
Pada akhirnya, hanya satu bus dengan 12 penumpang—terdiri dari tiga anak dan selebihnya perempuan—yang berhasil tiba di Gaza. Mereka mencapai halaman Kompleks Medis Nasser, yang disiapkan sebagai titik penerimaan warga yang kembali dari luar wilayah, setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam. Sepanjang perjalanan, mereka mengalami pemeriksaan ketat dan interogasi berulang dari tentara Israel.
Kesaksian-kesaksian ini muncul di tengah pembukaan perbatasan yang sangat terbatas, dengan prosedur keamanan yang ketat dan beban kemanusiaan yang berat, sebagaimana digambarkan para penumpang yang berhasil kembali.
Gelombang Kemarahan di Media Sosial
Cerita para penyintas perjalanan Rafah itu segera memicu kemarahan luas di kalangan warga Gaza dan diaspora Palestina di media sosial. Banyak yang menilai pengalaman para penumpang tersebut mencerminkan penderitaan kolektif warga Gaza, bahkan dalam momen yang seharusnya menjadi simbol harapan.
Warganet menilai kondisi kemanusiaan di perbatasan sangat tidak manusiawi. Mereka menyoroti kesaksian tentang pelecehan, penahanan, dan tekanan psikologis yang dialami para penumpang, meski perbatasan disebut telah “dibuka”.
Sebagian lainnya menyebut jumlah penumpang yang diizinkan melintas—tak lebih dari belasan orang—sebagai gambaran utuh dari situasi yang ada. Pembukaan perbatasan dinilai lebih bersifat simbolik, sementara penderitaan nyata jauh lebih besar dari angka yang diperbolehkan masuk.
Ungkapan “tidak ada yang keluar dari Gaza” pun menjadi simbol perlawanan dan penolakan terhadap pemaksaan penderitaan, yang dialami warga Palestina hanya karena identitas mereka.
Banyak pula yang menyebut hari pertama pembukaan perbatasan sebagai sebuah ironi, bahkan tragedi, mengingat sebelum perang jumlah pelintas bisa mencapai ratusan hingga ribuan orang per hari.
Warganet juga menyoroti keberadaan perlintasan Israel di wilayah tengah yang kini berubah menjadi titik interogasi, intimidasi, penahanan, hingga pemerasan. Mereka menilai prosedur panjang dan ancaman penahanan membuat ribuan keluarga kini takut mencoba keluar atau kembali ke Gaza, serta menghadirkan ketidakpastian atas masa depan mereka.
Pada Senin kemarin, pengoperasian Perbatasan Rafah secara dua arah resmi dimulai untuk pertama kalinya sejak Mei 2024, setelah melalui tahap uji coba sehari sebelumnya. Pembukaan ini merupakan bagian dari implementasi fase kedua kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Namun bagi banyak warga Gaza, kisah dari bus pertama itu menegaskan satu hal: pintu mungkin dibuka, tetapi luka, ketakutan, dan penghinaan masih sepenuhnya menganga.
Sumber: Al Jazeera










