Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) menyerukan kepada negara-negara Arab dan Muslim untuk segera bertindak guna menghentikan agresi terhadap Jalur Gaza. Hamas juga meminta warga Palestina di Tepi Barat yang diduduki untuk melakukan mobilisasi umum setelah salat Subuh pada Jumat besok sebagai bentuk dukungan bagi Gaza menghadapi upaya pembantaian oleh Israel.
Dalam pernyataannya, Hamas menegaskan bahwa Israel terus melakukan pembantaian di Jalur Gaza, yang sejak Selasa telah menyebabkan sekitar 600 warga Palestina syahid, sebagian besar di antaranya adalah wanita dan anak-anak.
Hamas mendesak negara-negara Arab dan Islam untuk segera mengambil tindakan di forum-forum internasional, terutama di Dewan Keamanan PBB, serta mengeluarkan langkah konkret guna menghentikan agresi dan genosida terhadap rakyat Palestina.
Gerakan ini juga menekankan bahwa berlanjutnya pembantaian di Gaza menimbulkan tanggung jawab politik dan moral yang langsung bagi Liga Arab dan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk menghentikan kejahatan yang dilakukan secara terang-terangan di hadapan dunia.
Mobilisasi di Tepi Barat
Dalam konteks yang sama, pemimpin Hamas, Mahmoud Mardawi, menegaskan bahwa warga Palestina di Tepi Barat akan membuktikan dengan segala cara bahwa mereka tetap setia kepada saudara-saudara mereka di Gaza yang tengah menghadapi upaya pembantaian berkelanjutan.
Dalam pernyataannya, Mardawi mengajak warga Tepi Barat untuk memenuhi seruan menghadiri salat Subuh berjamaah pada Jumat besok di masjid-masjid, sebagai bentuk pesan kepada penjajah bahwa penderitaan Gaza adalah penderitaan mereka, dan kemenangan Gaza adalah kemenangan mereka. Ia menegaskan bahwa para pemuda revolusioner dan pejuang perlawanan tidak akan menyia-nyiakan upaya dalam mendukung Gaza.
Mardawi juga menekankan bahwa rakyat Palestina adalah satu kesatuan, dan upaya Israel beserta sekutunya untuk memecah belah mereka tidak akan berhasil. Ia menambahkan bahwa rencana-rencana berbahaya Israel tidak hanya menyasar sebagian warga Palestina, tetapi bertujuan untuk melenyapkan perjuangan mereka dan mengusir mereka dari tanah airnya. Oleh karena itu, diperlukan mobilisasi umum dan perlawanan yang kuat untuk menghadapi penjajahan serta menanggapi agresinya.
Sementara itu, Israel telah mengumumkan dilanjutkannya operasi militernya di Gaza dengan dalih menekan Hamas agar memberikan konsesi terkait para tahanan. Keputusan ini diambil setelah pemerintah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menolak untuk melanjutkan tahap kedua dari kesepakatan gencatan senjata.
Sejak akhir Oktober 2023 hingga pemberlakuan kesepakatan gencatan senjata, Israel telah melakukan agresi besar-besaran yang mencakup invasi darat ke Jalur Gaza yang telah lama terkepung dan hancur akibat serangan.
Sumber: Al Jazeera