PALESTINA 48 — Israel kini dilanda gelombang kemarahan dan kegentingan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Musababnya adalah pemutaran film dokumenter bertajuk “Naza” (NAZA) di ajang internasional.

Film yang membeberkan bukti-bukti kejahatan militer terhadap warga sipil di Jalur Gaza ini berhasil memboyong Penghargaan Khusus Dewan Juri pada perhelatan Festival Film Internasional Venesia ke-83 di Italia.

Respons atas penayangan film ini langsung meletup di tingkat tertinggi komando militer. Kepala Staf Angkatan Darat Israel, Eyal Zamir, secara resmi memerintahkan Jaksa Agung Militer untuk menjajaki langkah hukum serta tindakan pidana terhadap pembuatan film tersebut beserta seluruh pihak yang terlibat di dalamnya.

Zamir juga menginstruksikan pembentukan tim khusus lintas disiplin (membuat konsortium bersama para pakar dari internal Israel maupun internasional) guna membendung narasi film yang ia sebut sebagai “tuduhan palsu dan menyesatkan”.

Selain itu, pertahanan militer Israel mulai melakukan penelusuran internal atas dugaan kebocoran data keamanan. Mereka berupaya mengidentifikasi personel yang dicurigai membocorkan materi dan dokumen rahasia militer yang dipakai dalam produksi dokumenter garapan surat kabar Inggris, The Guardian, bersama dua sutradara peraih Oscar asal Israel, Yuval Abraham dan Rachel Szor.

Mobilisasi Propaganda dan Penolakan Narasi

Langkah tegas Zamir diambil setelah ia menggelar rapat mendadak bersama jajaran perwira tinggi di Markas Besar Kementerian Pertahanan (HaKirya), Tel Aviv. Pertemuan itu menyimpulkan bahwa tuduhan di dalam film tak bisa dibiarkan begitu saja tanpa serangan balik. Zamir menuding film tersebut sebagai upaya terencana untuk meruntuhkan legitimasi tentara dan keberadaan negara Israel di mata internasional.

Guna menangkis dampak sinema ini, unit Juru Bicara Militer memerintahkan wawancara maraton bagi perwira senior—termasuk pilot tempur dan pejabat intelijen pusat, untuk menyuarakan versi resmi versi Tel Aviv.

Juru Bicara Militer Israel, Effie Defrin, menegaskan bahwa cuplikan film yang beredar menyebarkan klaim melenceng dari realitas lapangan. Ia berkali-kali menyebut tentara bertindak sesuai hukum internasional dan nilai-nilai profesionalisme, sembari mendesak tim pembuat film menyerahkan salinan utuh dokumen tersebut agar bisa ditanggapi secara mendetail.

Kepanikan ini menyeret kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kementerian Luar Negeri. Mereka kini sibuk merancang kampanye media balasan, terutama di platform media sosial, guna meruntuhkan kredibilitas film tersebut.

Di saat yang sama, Dewan Film Israel menggelar rapat darurat untuk mengevaluasi standar film yang mewakili citra Israel di mancanegara, seraya menuding para kreator memanfaatkan kebebasan berekspresi demi mengejar penghargaan internasional dari pihak lawan.

Diancam Dicabut Kewarganegaraan Hingga Solidaritas Sineas

Eskalasi perselisihan di dalam negeri merembet ke ranah hukum dan politik. Menteri Kebudayaan Miki Zohar bahkan melontarkan ancaman lewat media sosial untuk mencabut kewarganegaraan Yuval Abraham dan Rachel Szor atas tuduhan pengkhianatan.

Sementara itu, politikus sayap kanan Tzvika Foghel mendesak parlemen (Knesset) menggelar sidang khusus guna merespons penetrasi narasi film tersebut di panggung global.

Meski diterpa ancaman dari lingkaran kekuasaan, dukungan tebal muncul dari komunitas pekerja seni. Lebih dari 200 sineas Israel menandatangani petisi terbuka untuk membela Abraham dan Szor. Mereka mengecam persekusi massal dan intimidasi fisik yang diarahkan kepada kedua sutradara, sekaligus menyesalkan banyaknya pihak yang menghakimi film tersebut tanpa pernah menonton isinya secara utuh.

Istilah “Naza” sendiri diambil dari singkatan yang dipakai intelijen militer Israel (Aman) untuk menghitung perkiraan angka kematian sipil yang dianggap “bisa dimaklumi” dalam sebuah serangan udara.

Dokumenter yang diproduksi secara rahasia selama tiga tahun dari atas atap-atap gedung di Tel Aviv ini merekam pengakuan langsung prajurit Israel mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk melacak target.

Para tentara mengakui bahwa tentara kerap menjatuhkan bom ke rumah-rumah warga pada malam hari, meski tahu pasti bahwa tindakan itu akan menghabisi seluruh anggota keluarga sasaran.

Kini, di tengah perdebatan sengit dan ancaman pidana terhadap para pembuatnya, “Naza” telah telanjang bulat memperlihatkan celah moral di tubuh otoritas militer Israel, di saat korban jiwa di Gaza telah menembus angka 73 ribu jiwa dan 90 persen infrastruktur wilayah tersebut rata dengan tanah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here