GAZA — Pada pagi Kamis, 7 Desember 2023, ketika genosida di Jalur Gaza memasuki bulan ketiga, dua pensiunan jenderal, Benny Gantz dan Gadi Eisenkot, baru saja menyelesaikan kunjungan singkat ke wilayah Gaza. Mereka menuju markas komando Divisi 162 di dekat perbatasan yang ditembus pejuang Palestina pada 7 Oktober. Di sana, keduanya dijadwalkan menerima laporan tentang pertempuran sengit di Kamp Jabalia, Gaza utara.
Gantz dan Eisenkot saat itu menjabat menteri dalam kabinet perang yang dibentuk Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu setelah operasi Taufan Al-Aqsa. Keduanya juga memiliki putra yang bertempur di Jalur Gaza.
Ketika para perwira menjelaskan situasi di medan tempur menggunakan peta, seorang perwira dengan wajah muram memasuki ruangan. Menurut jurnalis Israel Ben Caspit, Gantz dan Eisenkot saling berpandangan. Mereka memahami bahwa di antara laporan pertempuran yang terus berdatangan, ada kabar buruk yang menyangkut salah seorang dari mereka.
Kepala Staf Divisi 162, Nadav Badan, kemudian mengajak Eisenkot keluar ruangan. Setahun setelah kejadian itu, Eisenkot menceritakan kepada surat kabar Maariv bagaimana ia menerima kabar mengenai putranya.
“Gal mengalami luka yang sangat parah, mungkin fatal. Kendarai mobilmu pulang,” kata Badan.
Eisenkot menjawab, “Nadav, luka fatal berarti dia sudah meninggal. Bagaimana kejadiannya?”
Pertempuran berlangsung sengit. Kabar tentang tentara Israel yang tewas terus bermunculan. Eisenkot sendiri pernah menyampaikan kabar kematian kepada banyak keluarga Israel. Karena itu, ia meminta Badan berbicara terus terang.
“Beri saya perkiraan,” katanya.
Eisenkot kemudian mengendarai mobil ke utara, menuju rumahnya di Herzliya. Dalam perjalanan, ia menelepon putra sulungnya untuk menyampaikan kabar duka.
“Pulanglah ke rumah dan pastikan tidak ada yang masuk sampai saya tiba,” katanya.
Ketika sampai di rumah, tiga putrinya sudah berada di sana. Eisenkot kemudian memberi tahu mereka bahwa Gal, anak bungsu dari lima bersaudara, telah meninggal dalam pertempuran di Kamp Jabalia. Gal bertugas dalam Batalion 699, Brigade Cadangan 551, ketika sebuah bahan peledak meledak di dekat pintu masuk terowongan. Seorang tentara Israel lainnya juga tewas dalam ledakan tersebut.
Pada Jumat pagi, Brigade Izzuddin al-Qassam mengeluarkan pernyataan bahwa para pejuangnya telah memasang bahan peledak di pintu masuk sebuah terowongan di sebelah timur Tel al-Zaatar, Gaza utara. Bom itu diledakkan ketika tentara Israel tiba dan berusaha membuka pintu masuk terowongan. Pernyataan tersebut menyebut ledakan itu menewaskan dan melukai sejumlah tentara, tanpa menyebut identitas korban.
Bagi para pejuang Palestina, Gal hanyalah salah seorang tentara Israel yang tewas dalam pertempuran.
Pukul sebelas siang, warga mulai berbaris di sepanjang jalan Herzliya sambil membawa bendera. Di pemakaman militer, hadir Netanyahu, Presiden Israel Isaac Herzog, Menteri Pertahanan Yoav Gallant, Gantz, Yair Lapid, dan mantan perdana menteri Ehud Barak.
Eisenkot berdiri di hadapan jenazah putranya untuk menyampaikan pidato perpisahan.
“Galush, anak kecil kami. Kamu lahir 25 tahun lalu ketika saya menjadi komandan Brigade Golani,” katanya. Ia juga meminta maaf kepada putranya karena terlambat tiba di rumah sakit ketika Gal dilahirkan akibat tugas militer.
Suaranya beberapa kali bergetar. Ben Caspit, jurnalis yang mengenal Eisenkot sejak 1999, menulis bahwa ia belum pernah melihat sang jenderal menangis, bahkan selama perang Lebanon kedua.
“Gadi Eisenkot menangis. Dan betapa dalam tangisannya,” tulis Caspit.
Dua tahun kemudian, Eisenkot sendiri mengatakan kepada radio Israel bahwa ia tidak menangis selama puluhan tahun sampai pemakaman tersebut.
Pada hari yang sama, ketika Gal dimakamkan, sepupunya dari pihak ibu, Maor, tewas akibat ledakan bahan peledak lain di Khan Younis. Maor merupakan tentara Israel yang sedang berusaha menerobos masuk ke sebuah masjid ketika ledakan terjadi.
Doktrin militer yang menghantam keluarga sendiri
Eisenkot bukan menteri biasa. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Staf Umum ke-21 militer Israel dan menjadi salah satu perwira yang merumuskan doktrin militer yang dikenal sebagai Doktrin Dahiyeh sekitar 15 tahun sebelumnya.
Doktrin tersebut mengandalkan penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan penghancuran kawasan tempat serangan terhadap Israel dilancarkan. Dampaknya, warga sipil ikut menanggung akibat dari tindakan kelompok bersenjata.
Doktrin itu pula yang diterapkan di Jabalia, tempat Gal tewas.
Tiga tahun setelah pemakaman putranya, Eisenkot kini memimpin partai yang sempat menduduki posisi teratas dalam sejumlah jajak pendapat selama empat bulan, sebelum akhirnya berada di urutan kedua dalam pemilihan umum. Ia bahkan sempat dipandang berpeluang menjadi perdana menteri pertama Israel keturunan Yahudi Mizrahi, kelompok Yahudi yang berasal dari Timur Tengah dan Afrika Utara.
Namun, kisah Eisenkot jauh lebih rumit daripada cerita tentang seorang jenderal yang meninggalkan militer untuk menyelamatkan Israel dari Netanyahu. Ia adalah bagian dari mesin militer yang membentuk dan menjalankan doktrin penghancuran, sebelum keluarganya sendiri merasakan akibat perang di Jabalia dan Khan Younis.
Dari Gazelle menjadi Besi
Gadi Eisenkot berasal dari keluarga Yahudi Maroko. Ayahnya, Meir, lahir di Marrakesh dan beremigrasi ke Palestina pada 1948. Ibunya, Esther, lahir di Casablanca dan pindah ke wilayah yang kemudian menjadi Israel pada 1953. Keduanya menikah pada 1957.
Nama keluarga mereka semula ditulis sebagai Azankot, nama yang dikenal di kalangan Yahudi Maroko sejak abad ke-17. Sejumlah rabi di Marrakesh dan Tangier menggunakan nama tersebut. Ada dugaan nama itu berasal dari kata Amazigh, azenkad, yang berarti gazelle atau kijang. Sebuah suku dengan nama serupa di dekat oasis Tata, Maroko selatan, disebut pernah melindungi komunitas Yahudi setempat.
Di Israel, nama tersebut berubah menjadi Eisenkot. Ejaannya menyerupai nama Jerman karena kata eisen dalam bahasa Jerman berarti besi.
Ketika Eisenkot ditunjuk sebagai kepala staf militer pada akhir 2014, surat kabar Haaretz mempertanyakan bagaimana seorang keturunan Maroko bisa memiliki nama keluarga yang terdengar Ashkenazi, sebutan bagi orang Yahudi yang berakar dari Eropa Tengah dan Timur. Surat kabar itu menduga seorang petugas imigrasi mungkin salah menuliskan namanya.
Apa pun penyebabnya, nama Eisenkot membuat seorang keturunan Maroko tampil dengan identitas yang terdengar Eropa. Dalam masyarakat Israel yang lama mengenal diskriminasi terhadap Yahudi Mizrahi, perubahan nama tersebut menjadi bagian menarik dari perjalanan hidupnya.
Gadi lahir di Tiberias pada 19 Mei 1960, anak kedua dari lima bersaudara. Setahun kemudian, keluarganya pindah ke Eilat, kota pesisir yang diduduki Israel setelah penduduk desa Umm al-Rashrash terusir pada 1949.
Orang tuanya kemudian berpisah. Ayahnya menikah lagi dan memiliki empat anak tambahan. Itulah sebabnya sejumlah kantor berita menyebut Eisenkot sebagai satu dari sembilan bersaudara.
Ketika berusia sembilan tahun, Eisenkot dikirim untuk tinggal dan belajar di kibbutz Tze’elim, kawasan permukiman kolektif di Gurun Negev. Ia menghabiskan dua tahun di sana bersama anak-anak kibbutz, tetapi tidak benar-benar menjadi bagian dari lingkungan tersebut. Gambaran seorang anak yang berdiri di ambang rumah—tidak sepenuhnya berada di dalam ataupun di luar—seolah menjadi bagian dari pengalaman hidupnya.
Ia bersekolah di SMA Goldwater di Eilat, mengambil jalur teknik mekanik kelautan. Pada akhir pekan, ia kerap menghabiskan waktu di pantai-pantai Sinai yang ketika itu berada di bawah pendudukan Israel.
Ketika mengikuti wajib militer, Eisenkot meninggalkan angkatan laut dan bergabung dengan Brigade Golani, satuan infanteri yang banyak merekrut tentara dari kota-kota pinggiran dan keluarga berpenghasilan rendah. Jalur ini berbeda dari Sayeret Matkal, satuan elite yang pernah menjadi tempat bertugas Netanyahu dan Naftali Bennett.
Puluhan tahun kemudian, ketika ditanya mengapa bertahan begitu lama di militer, Eisenkot menjawab, “Setiap tahun saya berpikir untuk mengundurkan diri, lalu menandatangani kontrak untuk satu tahun lagi.”
Ia akhirnya menghabiskan 41 tahun dalam militer Israel.
Israel Kedua dan batas mobilitas sosial
Untuk memahami mengapa peluang Eisenkot mendekati kursi perdana menteri dianggap sebagai peristiwa penting, perlu melihat sejarah kedatangan Yahudi Maroko ke Israel.
Pada 1948–1967, sebagian besar komunitas Yahudi Maroko bermigrasi ke Israel. Sekitar 100 ribu orang dipindahkan pada 1961–1964 melalui operasi rahasia bernama Yakhin yang dikelola Mossad. Dalam operasi tersebut, lebih dari tiga perempat penduduk Yahudi Marrakesh meninggalkan kota itu.
Setibanya di Israel, banyak dari mereka ditempatkan di ma’abarot, kamp-kamp pengungsian yang terdiri atas tenda dan gubuk seng. Pada akhir 1951, sekitar 220 ribu orang tinggal di 125 kamp semacam itu. Lebih dari 80 persen penghuninya merupakan Yahudi dari negara-negara Arab dan dunia Islam.
Sejarawan Shay Hazkani menemukan ringkasan surat yang ditulis tentara Yahudi Maroko kepada keluarga mereka pada 1949 dalam arsip sensor militer. Salah seorang tentara menulis, “Kami melihat orang Yahudi yang hatinya seperti orang Jerman [Nazi].”
Tentara lainnya memberikan nasihat kepada keluarganya, “Jika kalian meminta pendapat saya, tetaplah tinggal di Afrika Utara.”
Menurut kesimpulan petugas sensor, sekitar 70 persen tentara dalam kumpulan surat tersebut ingin kembali ke Maroko.
Setelah itu, para imigran ditempatkan di kota-kota pengembangan di wilayah pinggiran Galilea dan Negev. Di sejumlah kota tersebut, warga Mizrahi membentuk 85–90 persen populasi. Hingga kini, sebagian kota itu masih termasuk wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi di antara komunitas Yahudi Israel.
Tiberias dan Eilat, dua kota tempat Eisenkot menghabiskan masa kecilnya, merupakan bagian dari kawasan pinggiran tersebut.
Dari wilayah inilah muncul gelombang kemarahan yang kemudian dikenal sebagai fenomena “Israel Kedua”, istilah untuk menggambarkan kelompok masyarakat yang merasa terpinggirkan oleh elite politik dan ekonomi Israel.
Pada Juli 1959, polisi menembak seorang imigran Yahudi Maroko di kawasan Wadi Salib, Haifa. Peristiwa itu memicu demonstrasi dan kerusuhan. Ratusan orang merusak etalase toko di lingkungan Ashkenazi, sementara kerusuhan meluas hingga Tiberias dan Beersheba.
Pada 1971, anak-anak muda keturunan imigran Maroko di kawasan Musrara, Al-Quds, mendirikan gerakan Black Panthers Israel. Gerakan tersebut berupaya mendorong revolusi sosial berhaluan kiri untuk melawan diskriminasi yang dialami Yahudi Mizrahi.
Namun, mobilitas politik kelompok ini tetap dibatasi oleh semacam plafon yang sulit ditembus.
David Levy, yang lahir di Rabat, pernah menjabat menteri luar negeri dan wakil perdana menteri. Meski demikian, ia berulang kali gagal merebut kepemimpinan Partai Likud dari Yitzhak Shamir dan kemudian Netanyahu.
Amir Peretz, yang berasal dari kota Boujad di Maroko, memimpin Partai Buruh pada 2006. Sebuah kabel diplomatik Amerika Serikat ketika itu menggambarkannya sebagai sosok “tidak berpengalaman, agresif, dan Maroko”.
Selama 78 tahun sejak Nakba, belum pernah ada Yahudi Mizrahi yang terpilih menjadi perdana menteri Israel.
Di militer, situasinya sedikit berbeda. Sebelum Eisenkot, tiga perwira keturunan Timur Tengah telah menjabat kepala staf: Moshe Levy, dari keluarga Irak, pada 1983; Shaul Mofaz, yang lahir di Teheran, pada 1998; dan Dan Halutz, putra imigran Iran, pada 2005.
Dari prajurit Golani ke komandan operasi
Eisenkot bergabung dengan Batalion 51 Brigade Golani pada Oktober 1978. Ia dikenal sebagai prajurit berprestasi, kemudian mengikuti pelatihan komandan peleton dan sekolah perwira.
Pada 1980, saat menjalani latihan sekolah perwira, ia mengemudikan kendaraan lapis baja pengangkut personel. Senapan mesin MAG tiba-tiba melepaskan tembakan ke dalam ruang pengemudi dan melukainya di bagian mulut.
Sepanjang karier militernya, Eisenkot mengalami tiga kali luka akibat tembakan. Menurut kisah yang beredar tentang perjalanan militernya, ketiganya berasal dari tembakan kawan sendiri. Salah satu bekas lukanya masih terlihat di dahi.
Pada Juni 1982, ketika militer Israel menginvasi Lebanon, Eisenkot sedang menjalani cuti menjelang pembebasan dari dinas. Setelah komandan Kompi A di batalionnya terluka di dekat Benteng Beaufort, ia menghentikan kendaraan yang melintas di jalan hingga berhasil mencapai garis depan dan mengambil alih komando kompi.
Ia kemudian memimpin kompi dalam pertempuran di Ain al-Tineh. Dalam pertempuran tersebut, pejuang perlawanan Lebanon menewaskan dua sahabat dekatnya. Eisenkot juga terlibat dalam pendudukan Nabatieh, Jezzine, dan Bandara Beirut.
Setahun kemudian, ia meninggalkan dinas militer dan menjalani kehidupan sipil selama tiga bulan. Namun, kepala sekolah perwira memanggilnya kembali untuk memimpin kompi siswa. Eisenkot pun kembali bertugas penuh dan tidak pernah meninggalkan militer sampai pensiun.
Ia bukan prajurit yang mudah menerima perintah tanpa perdebatan. Pada 1984, ia dicopot dari jabatan komandan kompi antitank Brigade Golani sebulan sebelum masa tugasnya berakhir. Penyebabnya adalah perselisihan terbuka dengan komandan brigade, Tzvi Poleg, setelah Eisenkot menolak perintah untuk memanggil kembali prajuritnya dari cuti.
Pada Agustus 1997, Eisenkot mengambil alih komando Brigade Golani dalam sebuah pemakaman militer di Herzliya. Dua belas jam kemudian, perlawanan Lebanon melancarkan penyergapan di Ansariya yang menewaskan 12 tentara unit komando angkatan laut Israel.
Dalam bulan-bulan berikutnya, satu peleton di Batalion 51 memberontak terhadap komandannya. Eisenkot mengirim puluhan tentara ke penjara dan membubarkan peleton tersebut.
Ia menghabiskan dua tahun di zona keamanan Israel di Lebanon selatan. Dalam periode itu, Hizbullah menewaskan 14 prajurit di bawah komandonya. Pada masa tersebut pula Gal, putra yang kelak tewas dalam pertempuran di Gaza, dilahirkan.
Pada 1999, Eisenkot naik pangkat menjadi brigadir jenderal. Perdana Menteri Ehud Barak, yang saat itu baru mengalahkan Netanyahu, menunjuknya sebagai sekretaris militer meskipun sejumlah perwira senior menentang keputusan tersebut.
Dalam jabatan itu, Eisenkot menyaksikan perundingan dengan Suriah di bawah pemerintahan keluarga Assad, penarikan pasukan Israel dari Lebanon pada Mei 2000, pertemuan Camp David dengan Yasser Arafat, dan pecahnya Intifada Kedua. Ia tetap menjabat ketika Ariel Sharon menggantikan Barak, hingga Juli 2001.
“Memangkas rumput”: warga Palestina sebagai sasaran
Pada 2001, Eisenkot kembali ke lapangan sebagai komandan Divisi 366. Dua tahun kemudian, ia ditunjuk memimpin Divisi Yudea dan Samaria, satuan militer yang mengendalikan wilayah pendudukan Tepi Barat ketika Intifada Kedua mencapai puncaknya.
Jurnalis Amir Bohbot menulis bahwa hanya 90 menit setelah upacara serah terima komando, Eisenkot sudah menghadiri rapat perencanaan operasi di Hebron untuk menangkap seorang pejuang Palestina.
Dalam periode ini, Eisenkot dikaitkan dengan konsep yang disebut “memangkas rumput” (mowing the grass). Strategi tersebut mengacu pada serangkaian serangan dan penggerebekan berkala ke kota-kota Palestina untuk menekan kemampuan perlawanan, tetapi tidak benar-benar mengakhirinya.
Dengan kata lain, perlawanan dibiarkan tetap ada pada tingkat tertentu, sementara militer Israel secara berkala melancarkan operasi untuk melemahkannya. The New York Times menyebut rekam jejak Eisenkot di Tepi Barat juga mencakup pembangunan tembok pemisah yang dianggap sebagai tembok apartheid.
Dalam praktiknya, warga Palestina menjadi pihak yang menanggung akibat dari strategi tersebut.
Pada dini hari 18 Desember 2003, sekitar 50 kendaraan militer Israel memasuki Nablus dari arah selatan dan timur, dengan dukungan helikopter. Pasukan menerobos Kamp Balata dan mengepung Kota Tua.
Sekitar pukul 03.30, tentara menembak Alaeddin Duwaya ketika pemuda itu sedang menuju tempat kerjanya di sebuah toko roti. Ia dibiarkan mengalami pendarahan selama setengah jam tanpa akses bagi ambulans. Pasukan Israel kemudian menembaknya delapan kali.
“Warga Palestina adalah rumput yang dipangkas oleh Eisenkot dan pasukannya.”
Sepekan kemudian, Eisenkot memulai operasi selama 12 hari di Kota Tua Nablus. Enam warga Palestina terbunuh dan lebih dari 50 lainnya terluka.
Pada 3 Januari 2004, seorang penembak jitu Israel membunuh Amjad al-Masri, remaja berusia 15 tahun, dengan dua tembakan di dada ketika ia melempar batu dari atap rumah. Kerabatnya, Muhammad al-Masri, kemudian tewas akibat tembakan di kepala saat pemakaman Amjad.
Pada 23 April tahun yang sama, Amer Abu Limon, dosen Universitas Al-Quds Terbuka, ditembak di kepala dan dada ketika berjalan bersama saudara perempuannya menuju tanah keluarga di Talluza. Sehari kemudian, pasukan Israel melukai Ali Samoudi, jurnalis Al Jazeera, dengan serpihan peluru di dada dan wajahnya di Jenin.
Organisasi hak asasi manusia Israel B’Tselem mencatat bahwa pasukan Israel membunuh 803 warga Palestina di Tepi Barat dan Jalur Gaza sepanjang 2004, termasuk 174 anak-anak.
Ironisnya, pada tahun yang sama Eisenkot mengatakan kepada Yedioth Ahronoth bahwa putra bungsunya, yang ketika itu berusia lima tahun, kelak mungkin akan bertempur di Tepi Barat atau Gaza. Ia tidak memperkirakan apa yang kemudian akan dilakukan Gaza terhadap putranya.
Meski rekam jejak operasi militernya mencakup banyak korban Palestina, nama Eisenkot tidak selalu diingat para korban sebagai komandan yang bertanggung jawab atas operasi tersebut. Ketika The New York Times berbicara dengan sejumlah warga Palestina bulan lalu, tidak seorang pun yang diwawancarai mengingat secara khusus perannya dalam penindasan Intifada.
Sebagian melihatnya sebagai pilihan yang dianggap “lebih ringan di antara dua keburukan” dibandingkan Netanyahu, yang menjadi sasaran surat perintah penangkapan Mahkamah Pidana Internasional.
Eisenkot tidak meninggalkan jejak personal yang menonjol sebagai komandan operasi mematikan. Ia menjadi bagian dari mesin militer Israel yang membuat wajah orang-orang di balik operasi tersebut sulit dikenali oleh para korbannya.
Doktrin Dahiyeh
Eisenkot kemudian naik pangkat menjadi mayor jenderal dan menjabat kepala Direktorat Operasi di Markas Besar Militer Israel. Ia bertanggung jawab atas perencanaan operasi militer selama perang Lebanon pada Juli 2006, yang berlangsung selama 34 hari.
Pertempuran terjadi di berbagai wilayah Lebanon, terutama basis Hizbullah di Lebanon selatan, Lembah Bekaa, dan Dahiyeh, pinggiran selatan Beirut. Serangan juga menjangkau Galilea, Karmel, dan Lembah Jezreel di wilayah Palestina yang diduduki Israel.
Dalam buku Spider Web, sejarawan Amos Harel dan Avi Issacharoff menjelaskan bahwa sebuah latihan militer sebelum perang menunjukkan ketidakmampuan militer Israel menghentikan peluncuran roket jarak pendek.
Eisenkot kemudian mengusulkan pendekatan alternatif: menyerang “pusat saraf” Hizbullah di Dahiyeh sebagai bagian utama dari upaya membangun daya gentar.
Dalam perang yang sama, ia merekomendasikan rencana “pemecah es”, yakni serangan udara berskala luas terhadap infrastruktur Lebanon, serta operasi darat besar di Bint Jbeil. Pada Oktober 2006, setelah komandan Komando Utara Udi Adam mengundurkan diri, Eisenkot mengambil alih komando wilayah tersebut.
Dua tahun kemudian, pada 2 Oktober 2008, Yedioth Ahronoth menerbitkan wawancara dengan Eisenkot. Ia mengatakan bahwa kehancuran Dahiyeh pada 2006 akan terulang di setiap desa tempat tembakan terhadap Israel dilancarkan.
“Kami akan menggunakan kekuatan yang tidak proporsional dan menyebabkan kehancuran besar di sana. Dari sudut pandang kami, itu bukan desa sipil, melainkan pangkalan militer,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Ini bukan rekomendasi. Ini rencana. Dan rencana itu telah disetujui.”
Pada hari yang sama, peneliti Gabi Siboni dari Institut Studi Keamanan Nasional Israel menerbitkan makalah berjudul Disproportionate Force. Ia menyerukan serangan terhadap kepentingan ekonomi dan pusat kekuatan sipil yang menopang para pejuang yang melawan Israel di Lebanon.
Gagasan tersebut kemudian dikenal luas di media Israel sebagai “Doktrin Dahiyeh”.
Empat hari kemudian, kolumnis Yaron London menulis di Yedioth Ahronoth untuk menjelaskan logika di baliknya: “Semua warga Palestina di Gaza adalah Khaled Meshal, semua warga Lebanon adalah Hassan Nasrallah, dan semua warga Iran adalah Ahmadinejad.”
Sejumlah sumber Israel terkadang mengaitkan kalimat tersebut dengan Eisenkot sendiri. Kalimat itu menggambarkan cara pandang yang mengaburkan batas antara kelompok bersenjata dan penduduk sipil.
Pada musim panas 2006, Dahiyeh berubah menjadi puing-puing. Serangan dimulai pada 13 Juli dan berlangsung hampir setiap malam.
Jan Egeland, koordinator bantuan kemanusiaan PBB yang mengunjungi kawasan tersebut, menyebut kondisi yang dilihatnya sebagai pelanggaran mengerikan terhadap hukum humaniter.
Menurut data Palang Merah dan Human Rights Watch, lebih dari seribu warga Lebanon tewas dalam perang itu. Sekitar 900 ribu orang mengungsi, sementara kurang lebih 30 ribu rumah hancur seluruhnya atau sebagian.
Laporan Goldstone yang diterbitkan PBB pada 2009 mengenai serangan Israel ke Gaza juga menguraikan doktrin tersebut sebagai penggunaan kekuatan yang tidak proporsional, penghancuran luas terhadap properti dan infrastruktur sipil, serta penderitaan penduduk sipil. Laporan itu menyimpulkan bahwa pendekatan tersebut diterapkan di Gaza.
Mantan pelapor khusus PBB Richard Falk menyebutnya sebagai pelanggaran nyata terhadap prinsip paling mendasar dalam hukum perang dan etika. Ia menggambarkannya sebagai doktrin kekerasan yang seharusnya disebut dengan nama sebenarnya: terorisme negara.
“Militer Israel menerapkan Doktrin Dahiyeh dalam setiap perang yang dilancarkannya ke Gaza.”
Doktrin tersebut diterapkan dalam serangan Israel ke Gaza pada 2008, 2012, 2014, dan 2021, sebelum mencapai skala paling parah dalam perang yang dimulai pada 7 Oktober 2023.
Dalam perang terbaru itu, lebih dari 74 ribu warga Palestina dilaporkan syahid dan lebih dari 174 ribu lainnya terluka, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Pada Oktober 2025, PBB memperkirakan 81 persen bangunan di Jalur Gaza mengalami kerusakan atau kehancuran.
Eisenkot tidak pernah secara terbuka menarik kembali doktrin tersebut. Pada Maret 2026, ketika perang di Lebanon kembali memanas, ia menulis bahwa Doktrin Dahiyeh belum pernah sedemikian relevan dan harus diterapkan.
Pada Juni 2026, dalam sebuah konferensi politik, ia membanggakan operasi pemboman dan serangan Israel sebagai “serangan tidak proporsional” yang pernah ia jalankan sendiri.
Kepala Staf Militer Israel
Pada Desember 2014, Netanyahu menyetujui pengangkatan Eisenkot sebagai kepala staf militer atas rekomendasi Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon. Keputusan itu diambil setelah Netanyahu sempat ragu selama sekitar dua pekan.
Ketika seorang presenter televisi Israel bertanya kepada ibunya, Esther, bagaimana perasaannya atas penunjukan tersebut, ia menjawab, “Saya kecewa. Saya ingin dia menjadi rabi, tetapi dia malah menjadi rav aluf”—istilah militer Israel untuk pangkat letnan jenderal.
Eisenkot mulai menjabat pada 16 Februari 2015 dari kantornya di lantai 14 gedung Markas Besar Militer di kawasan Kirya, Tel Aviv.
Sebagai kepala staf, ia memusatkan perhatian pada penguatan pasukan darat dan pelaksanaan rencana multiyear Gideon. Rencana yang diajukan pada Juli 2015 dan disetujui kabinet pada April 2016 itu menekankan pembangunan kekuatan militer, operasi darat, penanganan terowongan, serta pembentukan komando operasi siber.
Pada Agustus 2015, Eisenkot juga menerbitkan dokumen Strategi Militer Israel. Dokumen itu memperkuat konsep “pertempuran di antara perang”, yakni serangkaian serangan berkelanjutan di luar perbatasan ketika tidak ada perang resmi yang diumumkan.
Di bawah kepemimpinannya, militer Israel melancarkan lebih dari 200 serangan terhadap sasaran yang disebut sebagai target Iran di Suriah. Dalam wawancara pertamanya sebagai kepala staf, ia membanggakan bahwa pemerintahan Bashar al-Assad tidak membalas serangan-serangan tersebut.
“Faktanya, kami melancarkan ratusan serangan dengan berbagai pola operasi dan tidak ada satu pun balasan,” katanya.
Di dalam negeri Israel, nama Eisenkot juga terkait dengan sejumlah pernyataan yang membuat Netanyahu dan kelompok kanan berang.
Ia pernah mengkritik apa yang disebutnya sebagai kelonggaran dalam penggunaan tembakan terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata. Kritik itu muncul setelah seorang anak perempuan Palestina syahid dan seorang lainnya terluka akibat tembakan langsung di dekat pos pemeriksaan Israel. Militer Israel berdalih salah satu dari mereka membawa gunting.
Politikus sayap kanan Bezalel Smotrich kemudian menulis kepada menteri pertahanan, menuntut agar Eisenkot dijatuhi sanksi.
Perselisihan lain muncul pada Maret 2016, ketika seorang tentara Israel menembak kepala Abd al-Fattah al-Sharif, pemuda Palestina yang telah terluka dan tergeletak di tanah di Hebron. Militer Israel memutuskan mengadili tentara tersebut dan menjatuhkan hukuman penjara 18 bulan.
Netanyahu menentang proses pengadilan itu dan menelepon keluarga tentara untuk menyampaikan dukungan. Sehari setelah putusan dibacakan, Eisenkot menerima sekitar 2.500 ancaman dalam satu hari. Para demonstran Israel di depan markas militer mengangkat spanduk bertuliskan, “Gadi, awas. Rabin sedang mencari teman.”
Namun, Eisenkot sendiri kemudian mengurangi hukuman tentara tersebut menjadi 14 bulan. Tentara itu akhirnya dibebaskan setelah menjalani sembilan bulan penjara.
Kisah-kisah semacam ini membuat sebagian warga Israel dan kalangan internasional menggambarkan Eisenkot sebagai “jenderal bermoral”. Sebagian warga Palestina dan Arab bahkan melihatnya sebagai pilihan yang lebih baik daripada Netanyahu. Pandangan itu, bagaimanapun, kerap mengabaikan bagian lain dari rekam jejaknya.
Pada 28 Maret 2018, dua hari sebelum demonstrasi damai yang kemudian dikenal sebagai Pawai Kepulangan Akbar dimulai di perbatasan Gaza, Eisenkot mengatakan kepada Maariv bahwa militer telah menempatkan lebih dari 100 penembak jitu di sepanjang pagar perbatasan. Ia menyebut instruksi yang diberikan kepada pasukan sebagai penggunaan “kekuatan berlebihan” terhadap demonstran.
Selama tujuh bulan berikutnya, menurut PBB, penembak jitu Israel menewaskan sedikitnya 189 demonstran yang tidak bersenjata, termasuk 35 anak-anak, tiga petugas medis, dan dua jurnalis. Lebih dari 6.000 orang terkena peluru tajam.
Komisi penyelidikan PBB menyimpulkan bahwa sejumlah tindakan dalam penindasan demonstrasi itu dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Pada Januari 2019, Eisenkot menyerahkan jabatan kepala staf kepada Aviv Kochavi.
Setelah pensiun, ia bergabung dengan Washington Institute for Near East Policy dan Institut Studi Keamanan Nasional Israel. Ia menerbitkan makalah berjudul Guidelines for Israel’s Security Concept, yang menempatkan Iran—terutama ambisinya memperluas pengaruh regional dan mengembangkan kemampuan nuklir—sebagai ancaman utama. Ia juga mendorong penggabungan strategi serangan berkelanjutan dengan operasi darat berskala besar.
“Eisenkot mengaku telah memperingatkan Netanyahu satu setengah bulan sebelum serangan Taufan Al-Aqsa.”
Pada 14 Agustus 2022, menjelang pemilihan umum Israel, Eisenkot terjun langsung ke politik. Ia bergabung dengan daftar bersama partai Biru dan Putih pimpinan Benny Gantz serta Harapan Baru pimpinan Gideon Sa’ar. Koalisi itu memakai nama Kamp Negara dan memperoleh 12 kursi.
Eisenkot kemudian menjadi anggota Komite Luar Negeri dan Pertahanan Knesset. Dalam forum tersebut, ia membaca dan mengulang peringatan intelijen militer Israel mengenai potensi meningkatnya ketegangan dari Gaza.
Menurut pengakuannya, ia telah memperingatkan Netanyahu satu setengah bulan sebelum serangan 7 Oktober 2023. Namun, ia menilai para politisi yang berkuasa tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Perang Gaza dan kematian Gal
Sekitar pukul 06.30 pada 7 Oktober 2023, Eisenkot berada di rumahnya di Herzliya ketika kabar tentang serangan di permukiman sekitar Gaza mulai berdatangan.
Belakangan, ia mengatakan sulit memahami apa yang dilihatnya. Ia membangunkan Gal, yang sedang menghabiskan akhir pekan di rumah.
“Gal, bangun. Ini perang,” katanya.
“Apa maksud Ayah?”
“Ini perang.”
Eisenkot membawa putranya ke apartemennya di Tel Aviv untuk mengambil perlengkapan militer. Setelah itu, ia mengantarkan Gal ke titik kumpul tempat putranya bergabung dengan rekan-rekannya di militer Israel.
Lima hari kemudian, partai Eisenkot bergabung dengan pemerintahan darurat. Pada 12 Oktober, ia dilantik sebagai menteri tanpa portofolio dan menjadi pengamat dalam kabinet perang yang terdiri atas Netanyahu, Gallant, dan Gantz, sekaligus anggota kabinet keamanan.
Dalam upaya menjauhkan dirinya dari kesan bersekutu dengan kelompok kanan ekstrem, ia kemudian mengatakan kepada majalah The New Yorker, “Saya bergabung meskipun tidak pernah membayangkan akan duduk satu meja dengan Itamar Ben-Gvir dan Bezalel Smotrich.”
Rapat pertama berlangsung pada 11 Oktober pukul lima sore. Menurut Eisenkot, ketika memasuki ruangan, ia melihat Netanyahu kehilangan keseimbangan dan berbicara mengenai serangan ke Lebanon serta rencana pembunuhan pemimpin Hizbullah Hassan Nasrallah.
Eisenkot mengatakan pesawat-pesawat Israel hampir lepas landas pada pukul tujuh malam itu. Namun, Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah meminta Netanyahu agar tidak melanjutkan operasi tersebut.
Eisenkot sependapat dengan pihak Amerika. Menurutnya, Israel tidak seharusnya membuka front baru di utara ketika ancaman utama datang dari Hamas di Gaza.
Dalam rapat tersebut, para pejabat Israel berpindah ke bunker bawah tanah karena khawatir rudal perlawanan mencapai Tel Aviv. Mereka kemudian sepakat membatalkan operasi pembunuhan Nasrallah dan memerintahkan pesawat kembali.
Dalam wawancara setelahnya, Eisenkot mengatakan bahwa jika rencana pembunuhan Nasrallah saat itu dijalankan, “mimpi strategis Yahya Sinwar akan terwujud”—merujuk pada kemungkinan Hizbullah langsung memasuki perang.
Setelah keluar dari rapat, Eisenkot mendapati pesan dari Gal di teleponnya. Sebelumnya, ia sempat menyarankan ayahnya untuk pensiun. Kali ini, Gal justru mendorongnya terlibat dalam perang melalui jalur politik.
“Saya sekarang mengerti mengapa penting bagi Ayah untuk berada dalam pekerjaan politik,” tulis Gal.
Namun, sekitar dua bulan kemudian, Gal tewas dalam pertempuran di Jabalia. Ketika ia dimakamkan, media Israel membandingkan nasibnya dengan Yair Netanyahu, putra perdana menteri, yang menghabiskan masa perang di pantai Miami, Amerika Serikat, dan tidak menjalani dinas cadangan.
Beberapa hari setelah pemakaman putra dan keponakannya, Eisenkot kembali ke meja kabinet perang.
Enam pekan setelah kematian Gal, pada 18 Januari 2024, Eisenkot memberikan wawancara pertamanya sejak 7 Oktober kepada Channel 12. Ia mengatakan para tawanan Israel tidak mungkin dipulangkan dalam keadaan hidup dalam waktu dekat tanpa kesepakatan pertukaran.
Ia juga menuduh kepemimpinan politik menjual harapan palsu kepada masyarakat Israel dengan menjanjikan kemenangan mutlak di Gaza.
“Keberatan Eisenkot bukan terhadap tujuan perang, kelanjutannya, ataupun kebrutalannya, melainkan terhadap pengelolaannya dan ketiadaan rencana untuk hari setelah perang.”
Perselisihan yang ia sampaikan di depan publik akhirnya berujung pada pengunduran diri.
Pada 9 Juni 2024, setelah delapan bulan berada dalam pemerintahan darurat, Eisenkot mengundurkan diri bersama Gantz. Sebelumnya, Gantz memberi Netanyahu tenggat hingga 8 Juni untuk menyampaikan rencana yang jelas mengenai masa depan Gaza setelah perang.
Dalam surat pengunduran dirinya, Eisenkot menuduh pemerintahan Netanyahu telah lama menghindari keputusan penting yang diperlukan untuk mencapai tujuan perang dan memperbaiki posisi strategis Israel.
Ia juga menyebut pertimbangan eksternal dan perhitungan politik telah masuk ke ruang-ruang pengambilan keputusan.
Eisenkot tidak menolak tujuan perang, tidak menyerukan penghentiannya karena penderitaan warga Palestina, dan tidak mengutuk kehancuran yang ditimbulkan. Perselisihannya terutama menyangkut cara perang dikelola dan ketiadaan strategi untuk masa setelah pertempuran.
Ia pun meninggalkan pemerintahan yang dimasukinya setelah Taufan Al-Aqsa, beralih dari mitra dalam pengambilan keputusan perang menjadi salah satu penentang utama Netanyahu.
Politikus yang mengaku lurus dan berintegritas
Pada 30 Juni 2025, Eisenkot mengumumkan keluar dari partai Gantz dan meninggalkan Knesset. Ia secara resmi mengundurkan diri pada 2 Juli.
Pada 16 September 2025, sehari setelah Netanyahu menyatakan Israel harus menjadi seperti Athena dan Sparta serta menerima isolasi internasional akibat kejahatan perang di Gaza dan Lebanon, Eisenkot mengumumkan pendirian partai baru bernama Yashar!, yang dalam bahasa Ibrani berarti “lurus” atau “jujur”.
Anggota parlemen Matan Kahana, salah satu pendiri partai, mengatakan nama itu antara lain terinspirasi oleh Eli Sharabi, mantan tawanan Hamas. Sharabi pernah mengatakan bahwa pemulangan para tawanan bukan perkara kiri atau kanan, melainkan persoalan integritas.
Eisenkot sendiri menyatakan, “Saya yakin saya orang yang lurus dan berintegritas, dan saya telah membuktikannya sepanjang perjalanan saya.”
Partai tersebut didirikan bersama 120 orang, termasuk Yoav Horowitz, mantan kepala kantor Netanyahu, serta Nir Zohar, presiden perusahaan layanan internet Wix. Pada Mei 2026, mantan kepala Shin Bet Yoram Cohen bergabung dengan mereka.
Daftar kandidat partai itu diumumkan pada 7 September 2026. Di bagian akhir daftar, Eisenkot memasukkan seorang mantan tawanan yang pernah ditahan selama 491 hari sebelum dibebaskan oleh perlawanan Palestina. Daftar tersebut juga mencakup Adina Bar Shalom, putri Ovadia Yosef, tokoh agama konservatif yang mendirikan Partai Shas.
Program Yashar! menjanjikan pembentukan komisi penyelidikan resmi segera untuk mengusut kegagalan yang memungkinkan serangan 7 Oktober terjadi. Partai itu juga mengusung slogan “Dinas untuk Semua”, yang bertujuan mewajibkan kaum Haredi menjalani dinas militer, dengan pengecualian hanya bagi 3 persen pelajar Taurat.
Selain itu, Eisenkot mengusulkan penulisan konstitusi Israel dan pembatasan masa jabatan perdana menteri.
Ia menilai polarisasi internal merupakan ancaman yang lebih mendesak bagi Israel daripada musuh eksternal seperti Iran. Ia menyerukan upaya memperkecil jurang politik dan melawan para pemimpin yang memperkuat perpecahan.
Namun, syarat yang ia tetapkan bagi partai-partai yang ingin bergabung dalam pemerintahannya memperlihatkan batas-batas politiknya. Ia mensyaratkan pengakuan terhadap karakter Yahudi negara Israel, dukungan terhadap wajib militer bagi kaum Haredi, serta pengakuan bahwa Hamas adalah organisasi teroris yang harus dibubarkan.
Dalam wawancara dengan The Jerusalem Post sebulan sebelum pemilihan, Eisenkot mengatakan persyaratan tersebut membuat partai-partai Arab tidak bisa menjadi mitra potensialnya. Ia menyatakan tidak ingin didukung partai-partai Arab dan tidak mengajak mereka memberikan dukungan.
Pernyataan itu berpotensi menjadi persoalan setelah hasil awal pemilihan menunjukkan partai-partai Arab meraih 19 kursi, sedangkan blok Eisenkot memperoleh 48 kursi.
Kandidat “orang kita”
Pada 2012, intelektual Palestina Basil al-Araj, yang kemudian syahid, menulis sebuah unggahan singkat di Twitter: “Kaum kiri Israel adalah kaum kanan yang berpendidikan.”
Kalimat itu mungkin paling tepat menggambarkan posisi Eisenkot. Meski tampil di tengah spektrum politik atau mendekati kelompok kiri, ia memiliki kedekatan kuat dengan kalangan Yahudi Mizrahi yang religius.
Ibunya, Esther, menurut pengakuan Eisenkot, telah memilih Partai Shas selama 30 tahun. Kali ini, ia harus membujuk ibunya untuk memilih dirinya.
Dalam kampanye, Eisenkot menayangkan video yang memperlihatkan ibunya berbicara tentang putranya dengan aksen Maroko.
Pada 11 Juli 2026, dalam pengajian mingguannya, pemimpin spiritual Shas, Rabbi Yitzhak Yosef, menyebut Eisenkot sebagai “orang baik dan Yahudi yang berhati hangat”. Ia mengatakan nenek Eisenkot memilih Shas dan berharap cucunya menjadi rabi.
“Apakah Benjamin Netanyahu akan bertobat? Mustahil! Kalau Eisenkot, mungkin,” katanya.
Kantor sang rabi kemudian menyangkal bahwa ia mengucapkan kalimat tersebut dalam bentuk itu. Namun, pernyataan tersebut telanjur menyebar luas.
Pada awal Juli 2026, Eisenkot duduk di kursi empuk di ruang keluarga Michal Elmalem Abu, manajer kampanyenya di Dimona sekaligus anggota dewan kota dari Likud. Sekitar 40 aktivis dan tetangga yang penasaran mendengarkan ceritanya.
Ia berbicara tentang masa kecil di Eilat dan ibunya yang menua di wilayah selatan tanpa memperoleh layanan kesehatan memadai. Setelah itu, ia menyantap kuskus di dapur sebelum pergi ke sebuah aula di pinggiran kota yang dipenuhi sekitar 300 orang.
Salah seorang peserta berteriak bahwa perubahan akan dimulai dari Dimona. Ia juga menyebut Eisenkot berpeluang menjadi perdana menteri Mizrahi pertama.
Eisenkot berterima kasih, tetapi menegaskan, “Saya tidak sampai pada posisi sekarang hanya karena saya orang Maroko.”
Seorang perempuan Israel yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan kepada media bahwa ia pernah menangis ketika melihat Eisenkot di televisi.
“Kami memilih berkali-kali, tetapi tidak ada yang berubah. Sekarang Gadi datang. Dia orang Maroko seperti kami. Mengapa kami tidak mendukungnya? Ini pertama kalinya saya memilih orang selain Netanyahu,” katanya.
Eisenkot memusatkan kampanyenya di kota-kota yang ia sebut sebagai “kota-kota emas” di wilayah pinggiran Israel, termasuk Ashkelon, Kiryat Shmona, Holon, dan Bat Yam.
Jajak pendapat menunjukkan persentase pemilih Mizrahi di antara pendukungnya meningkat dari sekitar seperempat menjadi sepertiga dalam tiga bulan.
Di basis-basis Likud, sebagian pendukung memanggilnya dengan istilah dialek Maroko, “Dyalna”, yang berarti “orang kita”. Kampanyenya bahkan menggunakan istilah itu dalam sejumlah materi promosi menjelang pemilihan.
Komentator politik Israel Nahum Barnea menjelaskan daya tarik Eisenkot sebagai sosok keturunan Maroko dari wilayah pinggiran yang ingin dirangkul masyarakat.
“Orang melihat pria bertubuh besar seperti beruang, hangat dan tidak kaku, tidak seperti gambaran seorang jenderal. Ia serius. Dan ya, ia kehilangan putranya dalam perang. Ia tahu bahwa kehilangan itu menjadi modal politik,” tulis Barnea.
The Wall Street Journal memperingatkan beberapa hari sebelum pemilihan bahwa suara Mizrahi menjadi kunci pertarungan kekuasaan. Kelompok tersebut mencakup lebih dari separuh populasi Yahudi Israel, termasuk sekitar satu juta orang keturunan Maroko.
Selama puluhan tahun, banyak pemilih Mizrahi mendukung Likud karena Netanyahu, yang berasal dari keluarga Polandia, memosisikan dirinya sebagai pembela mereka terhadap elite Ashkenazi.
Eisenkot berupaya merebut basis pemilih tersebut tanpa menjadikan identitas etnis sebagai pusat kampanye. Ia lebih banyak menyoroti kegagalan Netanyahu, serangan 7 Oktober, korupsi, dan kewajiban militer bagi kaum Haredi.
Media Channel 14 yang dekat dengan Likud merespons dengan serangan pribadi. Pembawa acara Yinon Magal menyebut Eisenkot “monyet” dan menuduh para pendukungnya terlalu bersemangat karena ia berasal dari kelompok Mizrahi.
“Kalian mengambil seekor monyet yang di belakangnya berdiri seluruh elite Ashkenazi, mengendalikannya, dan menyuruhnya apa yang harus dikatakan,” ujarnya.
Ia kemudian menyindir, “Padahal kami sudah memberi kalian seorang perdana menteri Maroko!”
Apa arti Eisenkot bagi Palestina?
Pada Mei 2020, Eisenkot menyatakan dukungan terbatas terhadap solusi dua negara, dengan Israel tetap mempertahankan blok-blok permukiman besar di Tepi Barat dan Lembah Yordan. Menurutnya, langkah itu diperlukan untuk menjaga karakter Yahudi negara Israel.
Setelah serangan 7 Oktober 2023, sikapnya berubah.
Pada Mei 2025, Eisenkot mengatakan gagasan negara Palestina tidak lagi relevan setelah 7 Oktober. Ia menolak pembicaraan mengenai pembentukan negara Palestina dan pemberian “hadiah” kepada Palestina, yang menurutnya tidak pernah diberikan kepada Otoritas Palestina sejak Kesepakatan Oslo satu generasi sebelumnya.
Pada September 2025, ia menyebut pengakuan negara-negara Barat terhadap Palestina sebagai tindakan bodoh dan penghargaan terhadap terorisme.
Dalam program Meet the Press di Channel 12 pada Juni 2026, Eisenkot mengatakan ia tidak pernah menyerukan solusi dua negara untuk dua bangsa.
“Saya memahami kedalaman konflik agama, nasional, dan sosial ini. Siapa pun yang berbicara tentang perdamaian sekarang, tentang dua negara, tidak memahami konflik tersebut,” katanya.
Pada bulan yang sama, ia mengatakan kepada Haaretz bahwa dirinya sangat mendukung permukiman Israel di Tepi Barat. Pada 27 Agustus 2026, ia menyebut solusi dua negara sebagai kesalahan besar dan mengatakan perlawanan Arab Palestina terhadap Israel berakar dalam.
Dalam menghadapi perang di Gaza, Eisenkot juga jarang menyampaikan kritik terhadap skala kehancuran yang ditimbulkan.
David Remnick, pemimpin redaksi The New Yorker, yang mengikuti kampanyenya selama beberapa pekan di Israel, menulis bahwa Eisenkot jarang menunjukkan keberatan terhadap skala perang di Gaza. Ia juga menolak mengkritik Netanyahu secara terperinci atas kebrutalan dan lamanya perang.
Eisenkot menjelaskan sikapnya kepada Remnick dengan mengatakan bahwa setelah 7 Oktober dan dimulainya perang, pemikiran masyarakat Israel bergerak ke kanan.
“Saya tetap di tempat saya. Namun, saya memahami bahwa jika Israel tidak memukul dengan keras dan menunjukkan kekuatan, kita tidak memiliki masa depan di sini,” katanya.
Namun, klaim bahwa dirinya tetap berada di posisi semula sulit dipertahankan jika melihat perubahan sikapnya mengenai Palestina.
Eisenkot menginginkan “pemisahan” tanpa pembentukan negara Palestina. Ia menghendaki satu otoritas keamanan Israel yang menguasai wilayah antara Laut Tengah dan Sungai Yordan, tanpa kekuatan keamanan atau pertahanan Palestina yang mandiri, sekaligus mempertahankan “mayoritas Yahudi yang kokoh”.
Karena itulah ia menentang aneksasi Tepi Barat. Bukan karena menolak pendudukan, melainkan karena menurutnya aneksasi akan memasukkan warga Palestina ke dalam Israel dan berpotensi menghasilkan negara binasional yang mengancam proyek Zionisme.
“Kita harus mengizinkan Otoritas Palestina memerintah 2,8 juta warga Palestina. Saya tidak ingin memerintah mereka,” ujarnya.
Ia juga menentang proyek permukiman E1 di sebelah timur Al-Quds, tetapi lebih karena pertimbangan waktu. Menurutnya, “sekarang bukan waktunya” karena proyek tersebut akan menimbulkan biaya diplomatik bagi Israel. Ia tetap mendukung pembangunan permukiman jika dinilai melayani kepentingan Israel.
Pada 15 Oktober 2026, Eisenkot mengunjungi perbatasan Gaza dan berjanji bahwa dalam 18 bulan setelah dirinya memasuki kantor perdana menteri, Hamas tidak akan lagi memerintah Jalur Gaza.
Menurutnya, keberadaan Hamas dalam pemerintahan merupakan kekalahan Israel. Jika harus memilih, ia menganggap Otoritas Palestina sebagai pilihan yang “lebih sedikit keburukannya” dibandingkan Hamas. Namun, ia tetap menginginkan keberadaan koridor keamanan yang dikendalikan Israel di dalam Gaza.
Di Lebanon, Eisenkot menginginkan zona keamanan sedalam delapan kilometer serta kebebasan bagi Israel untuk menyerang Hizbullah di mana saja dan kapan saja, termasuk di pusat Beirut. Ia menyebut gencatan senjata yang dipaksakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebagai “kenyataan yang gila”.
Di Iran, ia mendukung perang Amerika Serikat dan Israel yang dimulai pada 28 Februari 2026. Ia mengatakan pemimpin tertinggi Iran Ali Khamenei “pantas mati, bersama seluruh lingkaran kepemimpinannya”.
Namun, pada Oktober 2026, Eisenkot kembali menyatakan bahwa perubahan rezim tidak dapat dipaksakan melalui serangan udara. Ia juga menilai Netanyahu tidak layak memimpin operasi militer baru terhadap Iran.
Kampanye Eisenkot dikelola pensiunan brigadir jenderal Ronen Manelis, mantan juru bicara militer Israel yang pernah bertugas di bawah komandonya dekat Nablus selama Intifada Kedua.
Sejumlah penasihat kampanye, termasuk warga Amerika, berusaha meyakinkannya agar bergerak lebih jauh ke kanan untuk merebut pemilih kanan moderat yang belum menentukan pilihan. Namun, hasil pemilu tidak menunjukkan bahwa strategi tersebut berhasil.
Netanyahu juga berusaha menuduh Eisenkot mendekati partai-partai Arab. Ia merilis video buatan kecerdasan buatan yang memperlihatkan Eisenkot berlari dengan tangan terbuka untuk memeluk Mansour Abbas. Likud kemudian mengusung slogan, “Tidak ada Gadi tanpa [Ahmad] Tibi.”
Eisenkot menjawab dengan menegaskan, sebulan sebelum pemilihan, bahwa ia tidak menginginkan dukungan partai-partai Arab dan tidak mengajak mereka mendukungnya. Ia juga mengatakan tidak melihat partai Arab yang bersedia menerima prinsip-prinsipnya.
Mansour Abbas, pemimpin Daftar Arab Bersatu, menyatakan bahwa kerja sama dengan blok Eisenkot merupakan satu-satunya pilihan.
Sementara itu, Yusuf Jabareen, pemimpin Front dan Daftar Bersama, menegaskan bahwa partainya bukan milik siapa pun dan tidak akan memberikan dukungan tanpa syarat.
Peneliti Joseph Mansour dari Arab Center di Washington telah memperingatkan dilema itu tiga bulan sebelum pemilihan.
“Eisenkot bisa menang, tetapi ia tidak bisa memerintah tanpa partai Arab dalam koalisinya,” katanya.
Majalah The Nation, dalam artikel berjudul “Jangan Percaya Gembar-gembor Gadi Eisenkot”, menilai bahwa Eisenkot hanya menawarkan “hal yang sama dalam kemasan baru”. Menurut majalah tersebut, ia kemungkinan akan menjalankan perang dan pengusiran yang sama, tetapi dengan pertimbangan, perencanaan, dan persiapan yang lebih panjang.
Penulis Palestina Ziad Barakat juga tidak melihat perbedaan mendasar antara Eisenkot dan Netanyahu.
“Orang-orang yang memilih Eisenkot untuk membalas Netanyahu sebenarnya memilih salah satu dari dua penjagal Israel yang hanya berbeda pendapat tentang arti genosida,” tulisnya.
Kejutan pada malam pemilihan
Pada pukul 22.00, Selasa, 27 Oktober 2026, ketika tempat pemungutan suara ditutup, tiga stasiun televisi Israel menyiarkan hasil hitung cepat.
Likud diperkirakan memperoleh 24–25 kursi, sementara Yashar! berada di posisi kedua dengan 21–23 kursi.
Susunan blok politik tampak sesuai dengan harapan Eisenkot. Partai-partai Yahudi yang menentang Netanyahu diperkirakan memperoleh 52–53 kursi, sedangkan blok Netanyahu meraih 50 kursi. Partai-partai Arab diperkirakan memperoleh 17–18 kursi.
Di markas Yashar! di Tel Aviv, para pendukung meneriakkan, “Bibi, pulanglah!”
Setengah jam kemudian, Eisenkot berdiri di hadapan mereka.
“Ini masih hasil hitung cepat. Kita harus menunggu penghitungan akhir. Namun, sudah jelas malam ini bahwa Netanyahu menghadapi mayoritas Zionis yang lebih bertanggung jawab, lebih besar, dan lebih kuat. Publik memilih perubahan. Koalisi kegagalan telah kehilangan kepercayaan rakyat,” katanya.
Ia mendesak Netanyahu menerima penolakan publik dan menyebut pemilihan ulang sebagai kesalahan. Eisenkot juga berjanji membentuk pemerintahan Zionis yang berkomitmen terhadap wajib militer.
Di Tel Aviv, Naftali Bennett turut menyatakan bahwa Netanyahu telah kalah dan pemerintahan yang bertanggung jawab atas kegagalan 7 Oktober akan meninggalkan kekuasaan.
Namun, pemimpin Shas Aryeh Deri meminta publik menunggu hasil sebenarnya. Ia mengatakan hasil hitung cepat memiliki selisih besar dan belum bisa dijadikan dasar kesimpulan.
Deri ternyata benar.
Selepas pukul tiga dini hari, Netanyahu berdiri di markas Likud di Al-Quds. Ia mengatakan penghitungan sebenarnya masih berlangsung, tetapi Likud tetap menjadi partai terbesar di Israel. Ia juga menyatakan bahwa blok kanan memiliki mayoritas yang jelas di kalangan pemilih Zionis.
Menurut Netanyahu, tidak masuk akal membentuk pemerintahan yang bergantung pada partai-partai Arab yang dianggapnya menentang Zionisme.
Ia kemudian menyebut adanya “kesempatan bersejarah yang tidak terulang” bersama sahabatnya, Presiden Trump, untuk menghilangkan ancaman Iran sekali dan selamanya.
Namun, pada pagi hari, angka-angka mulai berubah.
Hingga akhir Rabu, setelah penghitungan suara reguler yang mencakup sekitar 90 persen total suara, Likud memperoleh 26 kursi dan Yashar! mendapatkan 21 kursi.
Blok Netanyahu mengumpulkan 53 kursi, sedangkan blok Eisenkot hanya 48. Partai-partai Arab meraih 19 kursi, pencapaian tertinggi mereka dalam sejarah pemilu Israel.
Sekitar setengah juta suara dalam amplop ganda—termasuk suara tentara, tahanan, dan diplomat—masih harus dihitung di Knesset hingga Kamis malam. Hasil resmi dijadwalkan diumumkan pada 4 November.
Secara historis, suara dalam kategori tersebut cenderung menguntungkan kelompok kanan. Karena itu, blok Netanyahu mungkin memperoleh tambahan satu atau dua kursi. Namun, jumlahnya masih jauh dari 61 kursi yang dibutuhkan untuk membentuk mayoritas parlemen.
Kini, jalan Eisenkot menuju pemerintahan justru bergantung pada 19 kursi partai Arab yang sebelumnya ia katakan tidak diinginkannya.
Pria yang membangun kampanyenya dengan janji membentuk “mayoritas Zionis” mendapati bahwa mayoritas Zionis memilih Netanyahu. Sementara itu, suara yang ia perlukan untuk memerintah justru berasal dari kelompok yang ia singkirkan sejak awal.
Para pemilih Yahudi Mizrahi yang menjadi tumpuan kampanyenya di Dimona dan Ashkelon pun tidak seluruhnya beralih ke Eisenkot. Pada Juli 2026, sejumlah pakar jajak pendapat telah memperingatkan Haaretz bahwa perpindahan pemilih Likud ke Eisenkot belum tentu terjadi. Kenaikan dukungannya, menurut mereka, justru lebih banyak mengambil suara dari mitra-mitranya di kubu oposisi ketimbang dari blok Netanyahu.
“Eisenkot membangun kampanye dengan janji mayoritas Zionis, tetapi mayoritas Zionis memilih Netanyahu. Untuk memerintah, ia justru membutuhkan pihak yang sejak awal ditolaknya.”
Setelah tiga tahun sejak Taufan Al-Aqsa, perang penghancuran di Gaza, dan perang berdarah melawan Iran yang tidak mencapai seluruh tujuannya, hampir separuh pemilih Israel kembali memberikan suara kepada blok yang menjalankan perang-perang tersebut.
Netanyahu telah membentuk Israel sesuai dengan pandangannya sendiri. Dan, pada akhirnya, ia kembali memperoleh hasil yang menguntungkan dirinya.
Dua hari sebelum pemilihan, kolumnis Ezra Klein menulis di The New York Times bahwa pemilihan itu berlangsung berdasarkan kerangka yang ditentukan Netanyahu. Para pemimpin utama oposisi telah menerima pandangan Netanyahu tentang dunia, bahkan bergerak lebih jauh ke kanan.
“Netanyahu mungkin kalah, tetapi hanya karena lawan-lawannya menerima sepenuhnya premis-premis yang ia ajukan,” tulis Klein. Menurutnya, sebagian besar warga Yahudi Israel kini melihat dunia sebagaimana Netanyahu telah lama memandangnya.
Hasil pemilihan justru menunjukkan bahwa Netanyahu tidak kalah, bahkan dalam kerangka politik tersebut.
Ketika dua kandidat bersaing untuk menentukan siapa yang paling cepat “menuntaskan misi di Gaza”, siapa yang paling leluasa membombardir Beirut, siapa yang paling keras menolak negara Palestina, dan siapa yang paling kuat mendukung para pemukim, nama pemenangnya menjadi persoalan politik domestik Israel.
Bagi warga Palestina, pergantian nama di kursi kekuasaan tidak serta-merta mengubah kenyataan.
Di Tepi Barat yang terkepung, para pemukim diperkirakan akan terus membakar desa-desa dengan dukungan pemerintah, baik yang dipimpin Netanyahu maupun Eisenkot. Keduanya sama-sama beranggapan bahwa pembangunan permukiman dapat melayani kepentingan Israel.
Di Gaza, sekitar dua juta orang hidup di tengah puing-puing bangunan yang sebagian besar telah rusak atau hancur. Militer Israel, di bawah pemerintahan Netanyahu dan dengan keterlibatan Eisenkot dalam kabinet perang, telah menyebabkan lebih dari 74 ribu warga Palestina syahid, termasuk lebih dari 21 ribu anak-anak, menurut angka yang dikutip dalam laporan sumber.
Bagi orang yang kelaparan dan mengantre tepung, tidak banyak perbedaan ketika nama pemimpin baru terdengar Jerman, bukan Polandia—atau ketika orang yang berkuasa tidak berganti sama sekali. Perancang doktrin penghancuran dan pelaksana perang itu masih berada dalam sistem politik yang sama.
Adapun perlawanan Palestina telah menunjukkan sikapnya sejak pernyataan Brigade Izzuddin al-Qassam pada Jumat, 8 Desember 2023, ketika mereka tidak menyebut nama tentara Israel yang tewas akibat ledakan di dekat pintu terowongan di Jabalia.
Bagi para pejuang, identitas tentara itu bukan persoalan utama. Ia bisa saja putra seorang kepala staf militer, anak imigran Rusia, atau warga negara lain yang identitasnya baru diketahui ketika ditawan.
Demikian pula, bagi perlawanan Palestina, tidak penting apakah kelak perdana menteri Israel berasal dari Marrakesh atau Warsawa.
Pendudukan tetaplah pendudukan. Dan warga Palestina yang menghadapi kekerasan di Gaza, Tepi Barat, serta wilayah Palestina yang diduduki Israel memahami kenyataan itu lebih baik daripada mereka yang memberikan suara dan para politikus yang mereka pilih.










