RAMALLAH — Gerakan Perlawanan Islam Palestina, Hamas, memperingatkan meningkatnya pelanggaran terhadap tahanan perempuan Palestina di penjara-penjara Israel. Mereka dilaporkan mengalami kekerasan fisik dan tindakan represif yang merampas martabat serta melanggar privasi. Hamas mendesak langkah segera untuk melindungi para tahanan dan memperkuat dukungan bagi mereka.

Pemimpin Hamas, Abdul Rahman Shadid, dalam pernyataan pers pada Senin, meminta otoritas Israel bertanggung jawab atas keselamatan seluruh tahanan laki-laki maupun perempuan. Ia juga mendesak lembaga hak asasi manusia dan organisasi kemanusiaan internasional menyelidiki laporan penyiksaan, kelaparan paksa, serta pembatasan akses terhadap pengobatan.

Shadid menekankan pentingnya memastikan para tahanan memperoleh layanan kesehatan yang layak. Ia juga menyinggung syahidnya Ahmad Zahir Humaidat, tahanan asal Kamp Pengungsi Jalazone, yang dilaporkan wafat di dalam penjara Israel pada Ahad.

Menurut Shadid, kematian Humaidat berkaitan dengan penyiksaan, kelaparan, dan kelalaian medis. Ia menilai kasus tersebut memperlihatkan bahaya kebijakan perlakuan buruk dan perampasan hak yang dihadapi para tahanan Palestina.

Ia menegaskan pembebasan tahanan akan tetap menjadi prioritas nasional Palestina. Shadid menyerukan berbagai kelompok dan lembaga Palestina untuk meningkatkan aksi solidaritas, mendampingi keluarga tahanan, serta terus mengangkat persoalan mereka di forum internasional dan media.

17 tahanan perempuan dilaporkan diisolasi

Pernyataan Hamas itu muncul setelah Kantor Media Tahanan Palestina merilis laporan mengenai serangkaian kekerasan terhadap tahanan perempuan di penjara Israel.

Menurut laporan tersebut, seorang perwira Israel membuka hijab sejumlah tahanan untuk memeriksa rambut mereka. Sebanyak 17 tahanan perempuan juga dilaporkan ditempatkan dalam isolasi dan dipaksa mengurai kepangan rambut mereka.

Pasukan represif penjara, menurut kantor media itu, memaksa sejumlah tahanan perempuan tengkurap selama satu jam. Setelah mengalami pemukulan, mereka dikembalikan ke kamar yang dipenuhi gas air mata.

Dalam insiden lain, petugas penjara menyemprotkan gas merica ke dalam kamar yang dihuni 15 tahanan perempuan, termasuk perempuan lanjut usia. Serangan tersebut menyebabkan sejumlah tahanan muntah. Seorang tahanan harus dibawa keluar dengan digendong, sementara tahanan lainnya tidak mampu berjalan.

Kantor Media Tahanan Palestina juga melaporkan penyemprotan gas terhadap tahanan perempuan di ruang mandi. Di antara mereka terdapat seorang perempuan hamil yang kemudian dibawa ke klinik setelah kondisi kesehatannya memburuk.

Lembaga tersebut mendesak intervensi segera untuk menghentikan kekerasan dan menjamin keselamatan para tahanan perempuan.

Sumber: Palinfo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here