GAZA — Pelapor Khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk hak asasi manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese, menggambarkan situasi di Jalur Gaza sebagai kondisi yang sangat mengerikan. Tiga tahun genosida telah membuat warga Palestina yang terkepung menghadapi penderitaan berkepanjangan hingga perlahan kehilangan kesempatan untuk bertahan hidup.

Mengutip Al Jazeera, Albanese mengatakan, kekuatan bom yang dijatuhkan ke Gaza selama genosida setara dengan enam bom nuklir. Pernyataan itu disampaikan bertepatan dengan peringatan tiga tahun genosida.

Menurut Albanese, serangan Israel belum berhenti meski kehancuran di Gaza sudah sangat luas. Militer Israel terus membombardir wilayah tersebut, menghancurkan puing-puing bangunan hingga menjadi debu. Di tengah serangan yang berlanjut, warga Palestina nyaris tidak memiliki tempat untuk berlindung.

Data Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut Israel telah menjatuhkan sekitar 223 ribu ton bom ke wilayah itu dalam beberapa tahun terakhir. Serangan tersebut menyebabkan lebih dari 74 ribu warga Palestina syahid dan 157 ribu lainnya terluka. Ribuan orang masih dinyatakan hilang.

Albanese mengatakan kondisi yang sebelumnya ia peringatkan, bahkan sejak beberapa tahun lalu, kini terlihat nyata di Gaza. Situasi terus memburuk dari hari ke hari. Menurut dia, istilah apa pun sulit menggambarkan keadaan di wilayah itu secara tepat.

Warga bukan hanya menghadapi serangan militer, tetapi juga penyebaran penyakit dan malnutrisi dalam skala luas. Kombinasi krisis tersebut memperparah penderitaan mereka dan membuat banyak orang menghadapi kematian secara perlahan.

Pengungsian massal turut memperburuk keadaan. Warga dipaksa meninggalkan wilayah utara maupun selatan Gaza dan berpindah ke tempat lain. Kota Rafah di selatan bahkan nyaris hancur seluruhnya.

Sementara itu, sekitar 1,8 juta warga Palestina kini berdesakan di wilayah yang luasnya kurang dari 30 persen dari total area Jalur Gaza. Kepadatan ini mempersempit ruang hidup warga yang kehilangan rumah, sementara serangan dan krisis kemanusiaan terus berlangsung.

Albanese menilai situasi tersebut sulit dihadapi tanpa dukungan internasional. Namun, upaya menghimpun tekanan terhadap Israel juga menghadapi hambatan politik, terutama dari Amerika Serikat.

Ia menyinggung tekanan Washington yang, menurutnya, mendorong sejumlah negara, termasuk Senegal dan Kolombia, menarik diri dari The Hague Group. Kelompok itu dibentuk dalam sebuah pertemuan tingkat tinggi internasional di Kolombia untuk mengoordinasikan langkah pemerintah berbagai negara dalam merespons dugaan pelanggaran hukum internasional oleh Israel.

Menghadapi tekanan Amerika Serikat bukan perkara mudah, kata Albanese. Ia menilai tantangan itu semakin berat ketika berhadapan dengan pemerintahan yang bertindak secara represif dan membalas pihak-pihak yang menentangnya.

Di dalam Gaza, kehancuran juga telah lama melumpuhkan sektor kesehatan. Albanese mengatakan sistem layanan kesehatan di wilayah itu sudah runtuh, sementara bantuan kemanusiaan tidak kunjung masuk secara memadai. Pada saat yang sama, belum ada solusi politik yang mampu mengakhiri krisis tersebut.

Meski demikian, kecaman terhadap serangan Israel terus disuarakan di berbagai belahan dunia. Albanese menyoroti berlanjutnya aksi protes internasional yang menuntut penghentian kekerasan dan mengecam kondisi yang dialami warga Gaza.

Albanese berulang kali menyebut perlakuan terhadap warga Palestina di Gaza sebagai genosida. Sikapnya itu juga membuatnya menghadapi tekanan berat. Ia mengungkapkan bahwa dirinya mendapat desakan kuat agar mengundurkan diri dari jabatan sebagai pejabat PBB.

Peringatannya kali ini kembali menyoroti besarnya kehancuran di Gaza setelah tiga tahun genosida. Di tengah korban jiwa yang terus bertambah, pengungsian massal, penyakit, malnutrisi, dan runtuhnya layanan kesehatan, warga Palestina masih harus bertahan tanpa perlindungan yang memadai dan tanpa kepastian penyelesaian politik.

Sumber: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here