JAKARTA- Ratusan kendaraan roda dua hingga roda empat membelah jalanan Jakarta sejak Sabtu pagi, 10 Oktober 2026. Dari pengemudi ojek online, tenaga pendidik, mahasiswa, hingga berbagai komunitas tumpah ruah menyemut dalam barisan “Indonesia Peace Convoy”. Dengan berbalut syal, kaus, dan kibaran bendera Palestina, mereka membawa satu pesan yang terang: menolak lupa atas tiga tahun genosida di Gaza.
Konvoi solidaritas ini dipimpin langsung oleh Pimpinan AQL Islamic Center, KH Bachtiar Nasir (UBN). Berangkat dari titik kumpul di Maqdisi AQL, Tebet, Jakarta Selatan, iring-iringan massa menyusuri urat nadi utama Ibu Kota. Rute panjang dari Jalan Gatot Subroto, menyapu kawasan Semanggi dan Bundaran HI, melewati Harmoni, hingga akhirnya berlabuh di kawasan Kota Tua, Jakarta Utara.
Sepanjang jalan, letupan semangat massa tak kunjung surut. Pekik “Free Palestine!” dan “Adili penjahat perang Israel!” terus menggema bersahut-sahutan dari atas jok motor maupun kursi mobil. Mereka tidak sekadar berpawai, tetapi juga menuntut dunia internasional agar segera membuka keran bantuan kemanusiaan yang lebih luas bagi warga Gaza.
Para peserta menegaskan bahwa aksi ini adalah alarm kemanusiaan. Meski terpisah jarak ribuan kilometer dan tidak sedang memanggul senjata, masyarakat sipil Indonesia menolak diam melihat penderitaan rakyat Palestina. Gerakan ini menjadi simbol perlawanan tanpa kekerasan, membuktikan bahwa dukungan untuk kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjidil Aqsa dari cengkeraman Zionis Israel tidak akan pernah padam.
Bagi mereka, turun ke jalan hari ini adalah langkah kecil yang menjadi kesaksian besar. Sebuah wujud aksi nyata bahwa Indonesia akan terus berdiri bersama Gaza, sampai penjajahan di tanah Palestina benar-benar berakhir.
Ratusan peserta “Indonesia Peace Convoy” memadati jalanan protokol Jakarta, Sabtu (10/10/2026), membawa atribut bendera Palestina untuk menyuarakan perlawanan terhadap tiga tahun genosida di Gaza.Seorang anak kecil menatap dari jendela angkutan umum yang dipasangi bendera Palestina, menjadi simbol bahwa aksi solidaritas dan alarm kemanusiaan ini menembus berbagai lapisan usia.Iring-iringan massa bermotor menyusuri urat nadi utama Ibu Kota, menegaskan pesan bahwa Indonesia menolak lupa atas perjuangan dan pengorbanan rakyat Gaza.Letupan semangat yang tak kunjung surut, sejumlah peserta mengibarkan bendera Palestina dari sunroof mobil saat membelah jalan raya Jakarta.Tak hanya kendaraan bermotor, masyarakat yang mengayuh sepeda pun turut menyemut di tengah barisan konvoi demi menuntut kebebasan Masjidil Aqsa dari cengkeraman penjajah.Bendera Palestina berkibar dari atas deretan kendaraan roda dua yang membelah jalan Ibu Kota, membawa tuntutan agar penjahat perang Zionis Israel segera diadili.Sejumlah kaum ibu mengenakan syal keffiyeh dan membawa atribut bertuliskan “Free Palestine”, berdiri bersama menuntut dunia internasional segera membuka keran bantuan bagi warga Gaza.Pekik “Free Palestine!” terus menggema bersahut-sahutan dari para peserta aksi, menjadi kesaksian nyata bahwa dukungan Indonesia untuk tanah Palestina tidak akan pernah padam.Seorang peserta aksi mengibarkan bendera Palestina berukuran besar di titik kumpul massa, Sabtu (10/10/2026), menyuarakan perlawanan tanpa kekerasan demi kemerdekaan rakyat Gaza.Tumpah ruah di kawasan Kota Tua, Jakarta: Massa dari berbagai elemen masyarakat mengepalkan tangan ke udara di depan Gedoeng Jasindo, menuntut dunia internasional segera menghentikan genosida yang telah berlangsung tiga tahun di Palestina.Simbol perlawanan lintas generasi; seorang anak kecil berdiri tegak mengibarkan bendera Palestina di titik akhir konvoi kawasan Kota Tua, membawa pesan bahwa rakyat Indonesia tidak akan pernah melupakan penderitaan Gaza.