PALESTINA 48 — Sebuah dakwaan di Israel mengungkap rencana serangan berskala besar yang diduga disusun seorang akademisi di Universitas Bar-Ilan selama hampir tiga tahun. Menurut jaksa, rencana tersebut menargetkan warga Palestina di wilayah Palestina 48, warga Arab, serta warga Palestina di Tepi Barat.
Pelaku diduga memperkirakan serangkaian serangan serentak itu dapat membunuh 600 hingga 700 warga Arab dan mendorong sejumlah besar penduduk meninggalkan wilayah tersebut.
Namun, persoalan dalam kasus ini bukan hanya isi rencana serangan tersebut. Haaretz melaporkan badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, tidak mengambil alih penyelidikan meski kasus tersebut berada dalam kewenangan unit yang menangani apa yang disebut Israel sebagai “terorisme Yahudi”.
Keputusan itu tetap berlaku setelah penyelidik mengetahui bahwa tersangka memiliki senjata berizin dan telah mengambil sejumlah langkah konkret untuk menjalankan rencananya.
Identitas akademisi tersebut masih dirahasiakan berdasarkan perintah pengadilan. Universitas Bar-Ilan mengatakan telah segera menonaktifkannya dari pekerjaan.
Pihak universitas menyatakan “sangat terkejut” dengan tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan yang dituduhkan, jika terbukti, bertentangan secara mendasar dengan nilai-nilai universitas.
Shin Bet Menolak Mengambil Alih Kasus
Menurut Haaretz, akademisi yang merupakan dosen matematika itu sempat menjalani pemeriksaan singkat oleh Shin Bet. Namun, badan keamanan tersebut kemudian menyerahkan kasus kepada polisi.
Haaretz melaporkan berkas perkara telah sampai ke sejumlah pejabat senior Shin Bet. Namun, instruksi kemudian dikeluarkan agar badan tersebut tidak menangani penyelidikan lebih lanjut. Personel Shin Bet juga tidak ikut dalam penggeledahan rumah tersangka.
Sumber yang mengetahui penanganan kasus tersebut kepada Haaretz menggambarkan respons Shin Bet sebagai “terlalu lunak”. Sumber itu mempertanyakan alasan badan keamanan tersebut begitu cepat melepaskan kasus sebelum seluruh aspek penyelidikan dituntaskan.
Polisi Israel juga tidak segera mengambil tindakan, menurut Haaretz. Padahal, rencana tersebut memiliki karakter luar biasa dan dalam beberapa bagian penyelidikan muncul nama seorang tokoh politik terkemuka.
Akademisi itu baru ditangkap pada 17 September. Setelah penangkapan, jaksa mendakwanya dengan sejumlah pelanggaran, termasuk persiapan melakukan aksi teror, pemerasan dengan ancaman, serta menghalangi proses hukum.
12 Sel dan 72 Orang Bersenjata
Surat dakwaan yang dikutip Israel Hayom mengungkap rincian rencana tersebut.
Menurut laporan itu, tersangka mulai menyusun rencana pada Februari 2023. Ia menamainya “Ayit”, akronim dari frasa Ibrani yang berarti “bangsa akan melakukan pemindahan”.
Jaksa menuduh rencana itu mengandalkan pembentukan 12 sel bersenjata, masing-masing beranggotakan enam orang. Totalnya 72 orang, termasuk tersangka.
Kelompok tersebut direncanakan menggunakan senapan, kapak, dan palu. Mereka akan menyerang kota-kota campuran dan permukiman Arab secara bersamaan dengan mengandalkan unsur kejutan.
Menurut Israel Hayom, tersangka memperkirakan serangan serentak, ditambah keterlibatan warga sipil lain dan anggota militer yang bertindak di luar aturan, dapat menyebabkan 600 hingga 700 orang syahid.
Ia juga membayangkan kekacauan yang muncul akan mendorong warga Arab di Israel dan warga Palestina di Tepi Barat melakukan eksodus massal keluar wilayah tersebut.
Rencana itu, menurut surat dakwaan, tidak berhenti pada gagasan.
Tersangka disebut mengumpulkan foto udara terperinci di sekitar Tubas al-Zanghariyya, sebuah komunitas Badui di Israel utara. Ia juga melakukan survei lapangan selama beberapa hari untuk menentukan jalur yang akan digunakan dalam serangan.
Ia bahkan menyusun dokumen sepanjang 20 halaman yang memuat landasan ideologis dan instruksi operasional.
Dokumen tersebut antara lain berisi seruan untuk melakukan pembunuhan massal, merebut jalur-jalur utama, melancarkan serangan intensif, kemudian menjalankan operasi pemindahan penduduk secara cepat tanpa mengecualikan perempuan dan anak-anak.
Mencoba Merekrut Politikus
Israel Hayom melaporkan tersangka berupaya menyempurnakan jaringan beranggotakan 72 orang itu sepanjang 2025.
Ia mencoba menghubungi politikus sayap kanan Moshe Feiglin, mantan pemimpin Partai Zehut. Tersangka disebut percaya Feiglin dapat membantunya merekrut orang-orang yang dianggap dapat dipercaya dari basis politiknya.
Namun, menurut laporan tersebut, Feiglin berulang kali mengabaikannya.
Setelah gagal mendapatkan respons, tersangka diduga beralih menggunakan ancaman dan pemerasan.
Ia juga mencoba menghubungi sejumlah tokoh dari kalangan keamanan, media, akademisi, dan masyarakat umum. Namun, upayanya untuk mendapatkan bantuan atau merekrut mereka ke dalam rencana tersebut tidak berhasil.
Haaretz melaporkan beberapa orang yang pernah ditemui tersangka kemudian mengatakan kepada penyidik bahwa mereka langsung menolak gagasannya setelah memahami sifat rencana tersebut.
Salah seorang di antara mereka bahkan mengaku menyesal karena tidak melaporkan rencana itu kepada polisi sejak awal.
Kasus ini kini menimbulkan pertanyaan bukan hanya tentang rencana kekerasan yang diduga disusun selama bertahun-tahun, tetapi juga mengenai bagaimana aparat keamanan Israel menangani dugaan ancaman yang berasal dari kelompok atau individu Yahudi.
Sumber: Haaretz dan Israel Hayom










