AL-QUDS — Kompleks Masjid Al-Aqsha kembali menjadi lokasi pelaksanaan ritual keagamaan Yahudi secara terbuka pada Rabu pagi, 30 September 2026. Pada hari kelima perayaan Sukkot atau Hari Raya Pondok Daun, sebanyak 1.317 pemukim Israel memasuki kompleks masjid, termasuk mantan anggota Knesset, Moshe Feiglin, yang mengikuti sejumlah ritual keagamaan di bawah pengawalan polisi Israel.
Menurut data Pemerintah Kegubernuran Al-Quds, Feiglin melakukan ritual empat jenis tanaman dan membawa apa yang disebut sebagai persembahan tumbuhan ke kawasan timur Al-Aqsha. Ia kemudian bergabung dalam lingkaran nyanyian dan lantunan doa di halaman masjid.
Rekaman yang beredar memperlihatkan Feiglin menjalankan ritual tersebut. Sejumlah pemukim lain tampak mengenakan tallit, kain selendang yang digunakan dalam ibadah Yahudi, dan mengikuti ritual secara berkelompok dengan pengawalan polisi Israel.
Dalam rangkaian kegiatan yang sama, para pemukim juga melaksanakan doa Berkat Imam atau Birkat Kohanim, serta menggelar ritual Hallel. Rabi Zionis Benyahu Bronner bahkan terlihat mengambil foto di dalam kompleks Al-Aqsha saat kunjungannya pada hari kelima Sukkot.
Lantunan “Atas Nama Tuhan, Binasakan Mereka”
Ritual Hallel berlangsung di halaman timur Al-Aqsha. Dalam tradisi Yahudi, ritual ini berupa pembacaan sejumlah bagian Kitab Mazmur, terutama selama perayaan hari-hari besar keagamaan.
Dalam lingkaran nyanyian tersebut, para peserta melantunkan bagian dari Mazmur 118. Salah satu penggalannya berbunyi, “Atas nama Tuhan, aku akan membinasakan mereka.”
Kalimat itu terdengar di tengah nyanyian dan tepuk tangan bersama yang berlangsung di halaman masjid. Pusat Informasi Palestina menempatkan peristiwa tersebut dalam konteks seruan kelompok-kelompok Temple Mount dan kalangan ekstremis Zionis yang selama ini mengampanyekan penghancuran Al-Aqsha dan pembangunan kuil Yahudi di lokasi tersebut.
Rangkaian ritual itu menambah daftar aktivitas keagamaan terbuka yang berlangsung di kompleks masjid selama Sukkot. Dalam beberapa hari terakhir, rekaman juga memperlihatkan pelaksanaan doa berjemaah, nyanyian, tarian, serta masuknya benda-benda yang disebut sebagai persembahan tumbuhan ke area masjid.
Feiglin Bawa Persembahan Tumbuhan ke Al-Aqsha
Sebelum mengikuti nyanyian, Feiglin membawa persembahan tumbuhan ke bagian timur kompleks Al-Aqsha dan menjalankan ritual empat jenis tanaman. Kegiatan tersebut berlangsung dengan pengawalan polisi Israel.
Ritual itu menggunakan sejumlah jenis tanaman yang berkaitan dengan perayaan Sukkot. Tanaman tersebut dibawa dan digerakkan ke berbagai arah sebagai bagian dari tata cara ibadah.
Penyelenggara memandang praktik itu sebagai bagian dari tradisi keagamaan Sukkot. Namun, otoritas Palestina menilai pelaksanaannya di dalam kompleks Al-Aqsha sebagai pelanggaran terhadap kesucian masjid sekaligus upaya memasukkan ritual keagamaan Yahudi ke kawasan tersebut.
Kantor berita Palestina sebelumnya juga mendokumentasikan pelaksanaan ritual Feiglin, bersamaan dengan masuknya ratusan pemukim ke kompleks masjid pada hari yang sama.
Aktivitas tersebut berlangsung sejak pagi dengan pengamanan ketat. Pada saat bersamaan, otoritas Israel menutup jalan menuju kawasan Bab al-Asbat dan akses Jalan al-Turba yang mengarah ke Silwan. Penutupan dilakukan untuk mengamankan perjalanan pemukim menuju kawasan Tembok Al-Buraq.
1.317 Pemukim Masuk dalam Sehari
Pemerintah Kegubernuran Al-Quds mencatat 1.317 pemukim memasuki halaman Al-Aqsha pada Rabu pagi. Jumlah tersebut menjadikan hari kelima Sukkot sebagai salah satu hari dengan intensitas penerobosan tertinggi sejak musim hari raya Yahudi dimulai.
Kegiatan itu berlangsung di tengah pembatasan terhadap akses warga Palestina yang hendak beribadah, terutama selama periode masuknya pemukim.
Sehari sebelumnya, Selasa, 966 pemukim juga memasuki kompleks masjid pada hari keempat Sukkot. Mereka dilaporkan melaksanakan doa dan ritual Talmud, menyanyikan lagu bersama, serta bertepuk tangan di halaman Al-Aqsha.
Data Pemerintah Kegubernuran Al-Quds menyebut jumlah pemukim yang memasuki kompleks masjid sejak awal 2026 telah mencapai 52.277 orang. Angka tersebut tercatat di tengah berlangsungnya kunjungan harian dan meningkatnya pelaksanaan ritual keagamaan secara terbuka di dalam kompleks.
Sukkot dan Peningkatan Aktivitas di Al-Aqsha
Sukkot tahun ini berlangsung sejak 26 September hingga 2 Oktober. Sejak hari-hari pertama perayaan, intensitas masuknya pemukim meningkat, disertai pelaksanaan ritual dan penggunaan simbol-simbol keagamaan Yahudi di halaman Al-Aqsha.
Pada hari kedua Sukkot, sebanyak 1.143 pemukim dilaporkan memasuki kompleks masjid. Mereka membawa persembahan tumbuhan, melaksanakan doa dan ritual Talmud, serta menggelar nyanyian dan tarian di sekitar Bab al-Qattanin.
Rangkaian kegiatan tersebut berlangsung ketika otoritas Israel menerapkan pembatasan pergerakan warga Palestina di Kota Tua Al-Quds dan membatasi akses jamaah menuju masjid.
Sejumlah pihak Palestina memperingatkan bahwa pengulangan ritual semacam ini berpotensi mengubah praktik yang sebelumnya bersifat insidental menjadi kegiatan rutin di dalam kompleks Al-Aqsha.
Di tengah situasi tersebut, warga Palestina bersama sejumlah kelompok Arab dan Islam serta organisasi internasional bersiap menggelar aksi pada Jumat, 2 Oktober, dengan tajuk “Hari Kemarahan dan Solidaritas untuk Al-Aqsha”.
Aksi itu direncanakan berlangsung ketika penerobosan pemukim dan pelaksanaan ritual keagamaan terbuka di kompleks masjid masih terus berlanjut.
Mengenal Ritual Hallel
Hallel merupakan ritual pujian kepada Tuhan dalam tradisi Yahudi. Pelaksanaannya mencakup pembacaan Mazmur 113 hingga 118. Dalam perayaan Sukkot, pembacaan tersebut dilakukan setelah ritual persembahan tumbuhan.
Hallel juga dibacakan dalam sejumlah hari raya Yahudi lainnya, antara lain Paskah Yahudi (Pesach), Shavuot, dan Hanukkah.
Menurut penjelasan Pusat Informasi Palestina, sebagian rabi dari kalangan Zionisme religius juga mulai mendorong pembacaan Hallel dalam peringatan nasionalisme Zionis, termasuk Hari Kemerdekaan Israel dan peringatan pendudukan Al-Quds pada 1967.
Dalam kunjungan ke Al-Aqsha, para pemukim secara khusus melantunkan Mazmur 118, yang dalam tradisi tersebut berkaitan dengan pujian kepada Tuhan dan Bait Suci.
Ayat 10 dan 11 dalam mazmur itu memuat penggalan yang diterjemahkan sebagai berikut:
“Segala bangsa mengelilingi aku. Atas nama Tuhan, aku akan membinasakan mereka. Mereka mengelilingi dan mengepung aku. Atas nama Tuhan, aku akan membinasakan mereka.”
Penggalan tersebut menjadi bagian dari nyanyian yang dilantunkan para pemukim di dalam kompleks Al-Aqsha.
Sejumlah peserta juga terlihat mengenakan tallit atau selendang doa saat mengikuti ritual. Seluruh kegiatan berlangsung di bawah pengawalan polisi Israel.










