AL-QUDS — Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir kembali memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa pada Senin (28/9), ketika lebih dari seribu pemukim Israel juga menyerbu kompleks tersebut di bawah perlindungan polisi Israel.
Sebanyak 1.271 pemukim dilaporkan memasuki halaman Al-Aqsa. Aksi tersebut berlangsung bersamaan dengan penutupan Masjid Ibrahimi di Hebron bagi warga Palestina hingga Rabu malam dengan alasan perayaan hari raya Yahudi.
Pemerintah Kota Al-Quds mengatakan otoritas Israel menutup sejumlah persimpangan dan ruas jalan di sekitar Kota Tua yang mengarah ke Al-Aqsa. Langkah itu dilakukan untuk mengamankan pergerakan pemukim pada hari ketiga perayaan Sukkot.
Sejumlah pemukim juga dilaporkan menggelar tarian dan nyanyian secara berkelompok di halaman Al-Aqsa. Pemerintah Kota Al-Quds menyebut lebih dari seribu pemukim memasuki kompleks tersebut sepanjang Senin pagi.
Ben Gvir: Kami Pemilik Tempat Ini
Kehadiran Ben Gvir menjadi perhatian karena menteri sayap kanan tersebut turut memasuki kompleks Al-Aqsa.
Koresponden Al Jazeera melaporkan, Ben Gvir menyampaikan pernyataan dari dalam kompleks masjid.
“Kami adalah pemilik tempat ini di sini, dan di penjara,” kata Ben Gvir. Ia kemudian mengklaim bahwa pemerintah Israel telah mengubah kehidupan para tahanan yang disebutnya “teroris” menjadi “neraka”.
Ia juga mengatakan Israel sedang menuju apa yang disebutnya sebagai “kemenangan mutlak”.
“Hari ini kami berdoa di Al-Aqsa, tempat terpenting bagi orang Yahudi,” ujarnya.
Pemerintah Kota Al-Quds juga melaporkan Menteri Pertahanan Israel Israel Katz memasuki kawasan sekitar Al-Aqsa bersama ribuan pemukim.
Hamas Kecam Penyerbuan
Penyerbuan tersebut mendapat kecaman dari Hamas.
Harun Nasser al-Din, anggota biro politik Hamas sekaligus kepala urusan Al-Quds organisasi tersebut, memperingatkan peningkatan penyerbuan pemukim ke Masjid Al-Aqsa, terutama dengan keterlibatan langsung Ben Gvir.
Dalam pernyataan pers pada Senin, Nasser al-Din mengatakan penyerbuan yang dipimpin Ben Gvir pada hari ketiga Sukkot merupakan bagian dari apa yang disebutnya sebagai rencana sistematis untuk menargetkan Al-Aqsa dan Al-Quds.
Menurut dia, tujuan dari langkah tersebut adalah mengubah karakter dan identitas Arab-Islam di kota tersebut.
Nasser al-Din mengatakan upaya itu tidak akan berhasil selama warga Al-Quds terus bertahan dan menghadapi apa yang disebutnya sebagai rencana “Yahudisasi”.
Ia menyerukan gerakan yang lebih aktif di berbagai tingkat untuk menghadapi kebijakan Israel di Al-Quds dan Masjid Al-Aqsa.
Ia juga meminta adanya sikap Palestina, Arab, dan Islam yang bersatu menghadapi berbagai ancaman terhadap masjid. Selain itu, ia menyerukan warga Palestina di Al-Quds, wilayah Palestina yang diduduki sejak 1948, serta Tepi Barat untuk mendatangi dan memadati Al-Aqsa.
Shalat dan Azan Dibatasi di Masjid Ibrahimi
Pada saat yang sama, Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina menyatakan penutupan Masjid Ibrahimi di Hebron mencakup larangan melaksanakan shalat dan mengumandangkan azan.
Dalam pernyataannya, kementerian mengatakan kebijakan tersebut dilakukan sebagai persiapan untuk memberikan ruang kepada pemukim menggunakan masjid selama perayaan hari raya Yahudi.
Kementerian menilai tindakan tersebut merupakan “serangan terang-terangan” terhadap kesucian Masjid Ibrahimi serta pembatasan terhadap kebebasan beribadah dan hak umat Islam menjalankan ritual keagamaan.
Mereka menegaskan Masjid Ibrahimi merupakan wakaf Islam sepenuhnya.
Kementerian juga memperingatkan bahaya berlanjutnya kebijakan Israel yang dinilai berupaya memberlakukan pembagian waktu dan ruang di tempat suci tersebut.
Menurut kementerian, langkah itu merupakan preseden berbahaya dalam penguasaan terhadap situs-situs suci Islam. Mereka meminta masyarakat internasional, lembaga hak asasi dan kemanusiaan, serta UNESCO segera bertindak menekan Israel agar menghentikan pelanggaran terhadap wakaf Islam dan situs-situs keagamaan.
Ritual Yahudi di Dalam Al-Aqsa
Koresponden Al Jazeera di Ramallah, Tharwat Shaqra, mengatakan penyerbuan pada hari ketiga Sukkot menunjukkan peningkatan dalam bentuk ritual yang dilakukan di dalam kompleks Al-Aqsa.
Menurut Shaqra, sejumlah pemukim melakukan ritual Yahudi yang lebih jauh, termasuk berbaring dan bersujud di lantai yang oleh sebagian kelompok disebut sebagai “sujud epik”. Mereka juga membawa tanaman atau benda-benda yang digunakan dalam ritual keagamaan ke dalam halaman masjid.
Penyerbuan tersebut, kata dia, juga melibatkan sejumlah menteri pemerintah Israel, terutama Ben Gvir, anggota parlemen Israel, serta rabi dari organisasi permukiman “Temple Mount”.
Kelompok tersebut selama ini menyerukan pemberian hak kepada umat Yahudi untuk beribadah di dalam kompleks Al-Aqsa atau, menurut laporan tersebut, membatasi hak umat Islam untuk beribadah di sana.
Menurut Shaqra, otoritas Israel juga meningkatkan pembatasan dengan menjauhkan ratusan warga Palestina yang biasa berjaga di Al-Aqsa, warga Al-Quds, serta warga Palestina dari wilayah 1948.
Langkah tersebut, menurutnya, membuat dokumentasi terhadap aksi-aksi tersebut semakin sulit sekaligus memudahkan ribuan pemukim memasuki kompleks masjid.
Hebron Seperti di Bawah Jam Malam
Situasi serupa terjadi di sekitar Masjid Ibrahimi di Hebron.
Koresponden Al Jazeera di Hebron, Muhammad al-Atrash, melaporkan otoritas Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap puluhan ribu warga yang tinggal di sekitar masjid setelah kompleks tersebut ditutup sepenuhnya bagi umat Islam sejak Ahad malam.
Menurut al-Atrash, hanya satu pintu yang masih dibuka bagi warga Palestina. Namun, pemeriksaan ketat membuat akses tersebut nyaris tidak dapat digunakan.
Di sisi lain, para pemukim dapat bergerak di sekitar kawasan dengan perlindungan polisi. Warga Palestina justru dibatasi pergerakannya.
Sejumlah keluarga di Hebron bahkan disebut tidak diperbolehkan membuka jendela rumah atau naik ke atap karena khawatir terjadi serangan oleh pemukim selama perayaan berlangsung.
Seorang warga Hebron mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pelajar Palestina juga dilarang mencapai sekolah mereka selama perayaan hari raya Yahudi.
Al-Atrash juga melaporkan pemukim memasang bendera Israel baru di atas menara Masjid Ibrahimi. Tindakan tersebut disebut sebagai bagian dari upaya yang terus berlangsung untuk mengubah karakter Islam masjid tersebut.
Penyerbuan Meningkat Selama Hari Raya
Sehari sebelumnya, Departemen Wakaf Islam Al-Quds menyatakan sekitar 1.500 pemukim Israel memasuki kompleks Masjid Al-Aqsa. Mereka melakukan ritual Yahudi di bawah pengawalan polisi Israel, sementara akses bagi jamaah Palestina diperketat.
Penyerbuan pemukim ke Al-Aqsa terus meningkat sejak dimulainya rangkaian hari raya Yahudi. Pengamanan ketat aparat Israel dan berbagai pembatasan militer diberlakukan di kawasan Al-Quds.
Rangkaian hari raya tersebut dimulai dengan Rosh Hashanah pada 12-13 September, dilanjutkan Yom Kippur pada 21-22 September. Setelah itu, Sukkot berlangsung pada 26 September hingga 2 Oktober, sebelum ditutup dengan Simchat Torah pada 3 Oktober.
Di tengah rangkaian perayaan tersebut, penyerbuan berulang ke Al-Aqsa dan pembatasan terhadap jamaah Palestina kembali menempatkan status quo di kompleks masjid tersebut dalam sorotan.










