GAZA — Di sebuah ruangan bersahaja yang dirancang menyerupai tenda tradisi Palestina di Kota Gaza, sepuluh pelukis muda duduk mengahadap kanvas putih. Memegang kuas dan cat, jemari mereka mencoba menghidupkan kembali jejak-jejak kehidupan yang memudar akibat gempuran meluas militer Israel di wilayah tersebut.

Bagi para peserta lokakarya bertajuk “Kan Huna” (Pernah Ada Di Sini), warna bukan sekadar goresan estetika. Cat dan kuas menjadi medium untuk menuturkan kisah tentang rumah yang hancur, jalanan yang tak lagi berbekas, hingga rasa aman yang sempat terenggut oleh peperangan dan pengungsian.

Di dalam ruangan tersebut, setiap pelukis menuangkan potret kenangan mereka. Ruang itu menjelma panggung kisah yang hening: ada puing rumah yang pernah hangat, sudut jalan yang telah berubah rupa, hingga gambaran ketenangan yang dirindukan.

Lokakarya ini menghimpun para seniman muda yang berupaya mengabadikan memori, merawat ingatan, sekaligus mengurai trauma yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ruang Pulih yang Terenggut

Farah Ajjour, seniman rupa sekaligus penggerak komunitas, menjelaskan bahwa proyek bertajuk “Deira” (wadah yang menaungi lokakarya ini) mengangkat konsep “rumah dan perlindungan.” Tema ini menjadi cermin atas lenyapnya tempat tinggal, ruang aman, dan ketenangan warga Palestina sejak perang berkecamuk.

Menurut Farah, proyek “Deira” berfokus menyediakan ruang kreatif bagi para perempuan muda. “Kami para seniman kehilangan bagian dari hidup kami, sama seperti seluruh warga Gaza lainnya—baik kehilangan studio, rumah, atau sekadar rasa aman,” ujar Farah.

Ia menegaskan bahwa lokakarya ini diselenggarakan untuk memberikan ruang bagi para pelukis muda melukiskan apa yang telah hilang, baik sosok tercinta, benda bermakna, maupun perasaan yang sirna.

“Ini bukan sekadar mengabadikan kenangan yang telah pergi, tetapi juga menjadi sarana pemulihan jiwa bagi para seniman hari ini,” lanjutnya.

Bagi Farah, seni adalah bahasa untuk menyampaikan rasa kepada dunia luar, khususnya bagi mereka yang melintasi penderitaan, duka, dan pengungsian.

“Seni menjadi jalan bagi para pelukis untuk menyuarakan ketakutan dan harapan mereka ke dunia luar. Hari ini kami menyampaikan pesan tentang apa yang kami rasakan, apa yang hilang, dan apa yang ingin kami hidupkan kembali,” tutur Farah.

Nama lokakarya “Kan Huna” menyiratkan pesan mendalam: bahwa segala sesuatu yang pernah ada di sana akan tetap bernyawa dalam ingatan. “Gaza tetap ada, harapan masih membumbung, dan kami tidak pernah lupa. Kreativitas kami akan terus hidup,” tegas Farah.

Melukis Rumah dalam Ingatan

Di antara para peserta, Marah Khalid Al-Za’anin (18 tahun) duduk tekun menatap kanvasnya. Lewat paduan warna, ia mencoba menghadirkan kembali kenangan tentang rumahnya yang hancur di Beit Hanoun, Gaza utara, tempat yang terpaksa ia tinggalkan demi hidup di dalam tenda pengungsian.

“Saya melukis sejak kecil. Namun selama perang, saya menjadikan seni sebagai bentuk perlawanan agar sanggup bertahan,” ungkap Marah.

Di tengah situasi sulit, Marah tak pernah berhenti berkarya. Ia telah menghasilkan lebih dari 700 karya seni dan menyulap tenda pengungsiannya menjadi galeri mungil, tempat ia menuangkan kepedihan, rasa takut, dan rasa lapar ke atas lembaran kertas.

Keterbatasan alat tak menyurutkan langkahnya. Ketika cat melukis sulit didapat, Marah dan kawan-kawannya memanfaatkan bahan seadanya. “Kami memakai pulpen, arang sisa pembakaran, hingga melukis di atas potongan kardus,” kenangnya.

Lokakarya ini memberi Marah ruang yang berbeda. Ia tak lagi melukis sekadar melepas trauma, tetapi juga merebut kembali apa yang hilang. “Hari ini saya melukis rumah, karena rumah adalah hal yang paling melekat dalam ingatan saya. Sejak awal perang, kami terpaksa tinggal di dalam tenda,” kata Marah.

Bagi Marah, hadir dalam lokakarya ini mendatangkan kebahagiaan tersendiri. Selain menemukan ruang aman untuk melukis, ia dapat bertukar cerita dengan sesama pelukis dan kembali menyentuh peralatan melukis yang sesungguhnya.

“Saya bahagia menemukan tempat aman untuk melukis, bertemu rekan-rekan seniman, dan menggunakan cat warna yang sempat mustahil kami dapatkan selama perang. Kehadiran alat-alat ini seolah mengembalikan jiwa kami yang sempat hilang,” tuturnya.

Para pelukis muda ini percaya bahwa karya yang mereka torehkan akan terus menjadi saksi atas apa yang pernah berdiri, dan apa yang akan selalu membakar ingatan mereka.

Kehidupan warga Gaza sendiri terus dihimpit oleh agresi militer yang telah berlangsung sejak Oktober 2023. Serangan beruntun ini telah merenggut lebih dari 73 ribu jiwa dan melukai lebih dari 174 ribu warga Palestina (sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak) serta meratakan hampir 90 persen infrastruktur di kawasan tersebut.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here