GAZA — Gelombang kekerasan kembali menerjang Jalur Gaza. Layanan Ambulans dan Darurat Gaza melaporkan sejumlah warga Palestina mengalami luka-luka akibat tembakan pasukan Penjajah Israel di luar zona kendali mereka di wilayah Jabalia, utara Jalur Gaza.

Di saat bersamaan, koresponden Al Jazeera melaporkan gempuran artileri Israel menghantam sejumlah titik dalam radius kendali pasukan Penjajah Israel. Serangan ini menyasar kawasan Khan Younis di selatan, Al-Bureij di area tengah, hingga Beit Lahia di sektor utara.

Rentetan serangan udara dan artileri ini meletus hanya beberapa jam setelah Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak dokumen 15 poin peta jalan (roadmap) yang dirancang untuk menuntaskan kesepakatan penghentian perang di Gaza.

Netanyahu menegaskan bahwa militer Israel (IDF) tidak akan melakukan penarikan pasukan sekecil apa pun sebelum persenjataan Hamas dilucuti secara total. Di sisi lain, kelompok perlawanan Hamas menyatakan tetap teguh memegang hasil negosiasi yang telah disepakati bersama para mediator.

Sikap konfrontatif Netanyahu kembali memicu ketakutan mendalam di kalangan warga Palestina atas potensi dimulainya kembali operasi militer berskala besar. Padahal, publik Gaza belakangan sempat diliputi optimisme terukur terkait peluang dimulainya langkah-langkah konkret untuk memulihkan krisis kemanusiaan serta menstabilkan gencatan senjata.

Manuver Politik dan Restu Washington

Di panggung politik internasional, dinamika ini ditanggapi dingin oleh Amerika Serikat. Portal berita Axios mengutip pernyataan seorang pejabat tinggi AS yang menyebut bahwa Gedung Putih “tidak terkejut” dengan penolakan eksplisit Netanyahu terhadap rencana perdamaian Gaza.

Washington menilai retorika keras tersebut tak lebih dari bagian dari “komoditas musim kampanye” menjelang pemilu Knesset yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober mendatang.

“Kami tidak melihat adanya masalah selama Netanyahu tetap menjalankan apa yang kami minta, terutama terkait penekanan intensitas serangan di Gaza,” ujar pejabat AS tersebut.

Ia mengungkapkan bahwa Netanyahu telah berjanji kepada Jared Kushner (menantu sekaligus penasihat Presiden AS) untuk memberikan kesempatan pada implementasi rencana perdamaian Gaza serta menahan laju serangan militer demi membendung eskalasi hingga proses demiliterisasi wilayah tersebut dapat dimulai.

Sumber yang sama menambahkan bahwa militer Israel saat ini tengah menarik diri secara bertahap menuju apa yang disebut sebagai “Garis Kuning” (Yellow Line). Di saat bersamaan, Washington dan para mediator internasional terus mendesak Hamas untuk mulai menyerahkan persenjataan mereka demi melapangkan jalan menuju fase perdamaian permanen.

*Diterjemahkan dan diolah dari Axios dan Al-Jazeera.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here