GAZA — Rumah Sakit Al-Quds, yang dikelola oleh Perhimpunan Bulan Sabit Merah Palestina (Palestinian Red Crescent Society), kembali menorehkan tinta emas kemanusiaan di tengah reruntuhan Gaza.
Unit Kateterisasi Jantung (Cath Lab) di rumah sakit tersebut berhasil melampaui 1.013 tindakan kateterisasi jantung dalam kurun waktu kurang dari satu tahun sejak dioperasikan kembali.
Pencapaian ini menjadi sangat krusial mengingat mesin kateterisasi jantung di RS Al-Quds merupakan satu-satunya alat kateterisasi jantung yang masih berfungsi di seluruh wilayah Jalur Gaza saat ini.
Di tengah lumpuhnya 90 persen fasilitas medis akibat gempuran militer dan blokade ketat obat-obatan, keberadaan unit ini menjadi dinding pembatas tipis antara hidup dan mati bagi ratusan pasien jantung di Gaza.
Penyelamat di Kala Kritis
Pihak manajemen rumah sakit menegaskan bahwa angka seribu lebih tindakan ini bukanlah sekadar statistik di atas kertas. Di balik setiap angka tersebut, ada nyawa manusia yang berhasil diselamatkan melalui intervensi diagnosis dan terapi yang sangat cepat.
Layanan darurat yang terus berjalan di tengah keterbatasan ini meliputi:
- Kateterisasi Diagnostik: Mendeteksi penyumbatan pembuluh darah secara akurat.
- Pemasangan Ring Jantung (Stent): Membuka aliran darah yang tersumbat untuk mencegah serangan jantung fatal.
- Implantasi Alat Pacu Jantung (Pacemaker): Menstabilkan ritme jantung pasien yang kritis.
Unit ini juga menjadi tumpuan akhir bagi kasus-kasus rujukan darurat dari ruang ICU berbagai rumah sakit utama di wilayah Gaza tengah hingga selatan yang membutuhkan tindakan bedah pembuluh darah instan.
Bekerja dengan Satu-Satunya Mesin Tersisa
Kepala Unit Kateterisasi Jantung RS Al-Quds, Dr. Ahmad Nassar, menyatakan bahwa unit yang dipimpinnya baru saja menyelesaikan operasi ke-1.013 sejak resmi dibuka kembali pada 30 Agustus 2025 pasca-rekonstruksi darurat rumah sakit.
“Hari ini kami menangani kasus ke-13 setelah melewati angka 1.000. Prestasi luar biasa ini kami capai dengan mengoptimalkan satu-satunya mesin kateterisasi yang masih menyala di seantero Jalur Gaza,” ujar Dr. Nassar.
Ia menambahkan, keterbatasan alat dan bahan medis menjadi penghalang terbesar bagi mereka untuk menolong lebih banyak orang.
“Jika pasokan medis mengalir normal, kami tidak perlu menerapkan sistem daftar tunggu (waiting list). Kami pasti sudah menyelamatkan pasien dalam jumlah berlipat-lipat dari angka hari ini,” keluhnya.
Krisis Logistik: 500 Pasien Masih Mengantre Nyawa
Kendati berhasil mencatatkan prestasi gemilang, ancaman penghentian layanan akibat blokade terus membayangi. Unit Cath Lab RS Al-Quds saat ini menghadapi krisis pasokan medis yang sangat akut, meliputi:
- Kelangkaan ring jantung (stent) berbagai ukuran.
- Menipisnya stok balon pelebar pembuluh darah dan kabel penuntun (guide wires).
- Sangat sulitnya mendapatkan suku cadang (spare parts) asli untuk perawatan berkala mesin kateterisasi yang bekerja nonstop setiap hari.
Dr. Nassar menekankan bahwa jika seluruh bahan medis tersebut tersedia tanpa hambatan blokade, unit yang dipimpinnya memiliki kapasitas untuk melakukan hingga 3.000 operasi jantung per tahun.
Hingga pertengahan Juli 2026 ini, tercatat sedikitnya 500 pasien jantung di Gaza masih berada dalam daftar tunggu hanya untuk mendapatkan kateterisasi diagnostik guna menentukan prosedur penyelamatan nyawa mereka selanjutnya. Setiap hari penundaan akibat habisnya alat medis berarti meningkatkan risiko serangan jantung fatal bagi ratusan pasien yang sedang menanti dalam senyap tersebut.









