RAMALLAH — Penderitaan fisik yang dialami tahanan Palestina di dalam penjara Israel kembali mencapai titik paling krusial. Ghassan Zawahra, seorang tahanan paruh baya, dilaporkan ambruk di halaman penjara setelah mengalami pendarahan hebat hingga kehilangan kemampuan bergerak secara total.

Berdasarkan kesaksian tertulis yang dirilis oleh Perhimpunan Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club), Ghassan sempat dilarikan ke klinik penjara sebelum akhirnya dipindahkan ke Rumah Sakit Soroka untuk menjalani pemeriksaan darurat.

Hasil diagnosis dokter menunjukkan kondisi yang mengerikan, penyumbatan aliran darah akut telah memicu kerusakan fatal pada organ reproduksinya. Tim medis tidak punya pilihan selain melakukan tindakan bedah darurat untuk mengangkat bagian organ yang telah membusuk akibat infeksi tersebut.

Dianiaya Pasca-Operasi

Ironisnya, alih-alih mendapatkan perawatan intensif pasca-operasi besar, Ghassan justru langsung dikembalikan ke sel penjara kurang dari 24 jam setelah keluar dari ruang bedah.

Pihak keluarga membeberkan bahwa selama proses pemindahan dari rumah sakit kembali ke dalam jeruji besi, Ghassan justru menjadi sasaran kekerasan fisik dan intimidasi verbal oleh sipir penjara. Kondisi tubuhnya yang baru saja disayat pisau bedah sama sekali tidak dipedulhi oleh aparat keamanan.

“Kami menuntut pembebasan segera demi menyelamatkan nyawanya. Kondisinya kini sangat memprihatinkan, ia sepenuhnya lumpuh dan harus bergantung pada kursi roda untuk aktivitas apa pun,” ujar perwakilan keluarga Zawahra dalam sebuah pernyataan terbuka.

Target Berulang Rezim Penjara

Ghassan Zawahra bukanlah nama baru dalam daftar target penahanan otoritas Israel. Pria yang telah menikah dan memiliki empat anak ini merupakan mantan tahanan politik yang sebelumnya telah menghabiskan waktu selama 17 tahun hidupnya di balik jeruji besi.

Ia sempat menghirup udara bebas sebelum akhirnya kembali ditangkap secara sewenang-wenang oleh militer Israel pada Februari 2025 lalu. Keluarga Zawahra sendiri merupakan salah satu potret keluarga yang harus membayar mahal garis perjuangan di Tepi Barat; saudara laki-laki Ghassan, Muataz Zawahra, telah lebih dulu gugur sebagai martir dalam bentrokan terdahulu.

Kasus yang menimpa Ghassan kian memperpanjang bukti empiris di lapangan terkait penggunaan kelalaian medis (medical negligence) yang disengaja oleh pihak berwenang Israel. Praktik ini dinilai sengaja dirawat sebagai instrumen psikologis untuk melumpuhkan fisik para tahanan secara permanen bahkan setelah mereka dibebaskan nantinya.

Sumber Bahan: Al Jazeera

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here