Gaza — Tepat pada hari Jumat ini, genap sudah 1.000 hari sejak eskalasi hebat dan agresi militer Israel melanda Jalur Gaza yang bermula pada 7 Oktober 2023. Namun, bagi dua juta lebih warga Palestina yang terperangkap di dalamnya, waktu tidak lagi dihitung dengan kalender, melainkan dari berapa kali mereka harus melarikan diri, berapa banyak rumah yang rata dengan tanah, dan seberapa sering mereka melepas kepergian orang-orang tercinta.
Memasuki hari ke-1.000, kenyataan yang dihadapi kian kelam: pertumpahan darah yang terjadi setiap jam, runtuhnya seluruh fasilitas publik, dan krisis kemanusiaan yang berada di titik nadir.
Rumah yang Menjadi Zona Militer
Peluru dan bom tidak hanya menghancurkan bangunan, tetapi juga memutus benang-benang keluarga. Raisah al-Razani, seorang pengungsi dari Kamp Jabalia, mengisahkan bagaimana 1.000 hari ini telah menjungkirbalikkan hidupnya. Ia kehilangan saudara perempuan serta kerabat dekatnya, sementara anggota keluarganya yang tersisa kini terpencar di berbagai kamp pengungsian.
“Saya sekarang tinggal di dalam tenda seadanya yang tidak layak disebut tempat tinggal. Keinginan terbesar saya sederhana, hanya ingin kembali ke kamar saya sendiri,” tuturnya lirih.
Namun, impian sederhana itu harus terkubur dalam-dalam. Rumah yang dirindukannya kini berada di dalam zona militer tertutup Israel, berbatasan langsung dengan garis perimeter wilayah konflik yang mustahil untuk didekati.
Nestapa Pasien Kanker di Tengah Runtuhnya Medis
Di sektor kesehatan, kondisinya jauh lebih mengerikan. Muhammad al-Kahlout, seorang pengawas keperawatan, memaparkan bahwa sektor medis di Gaza menghadapi hantaman yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern. Target berulang terhadap rumah sakit dan pembunuhan para tenaga medis telah memicu kelumpuhan total pada sistem kesehatan masyarakat.
Kondisi Sektor Kesehatan Gaza:
[Infrastruktur Medis Dihancurkan] -> [Kelangkaan Obat & Alat Medis] -> [Kelumpuhan Total Pelayanan]
Dampak paling fatal dari ambruknya sistem ini dirasakan langsung oleh para penderita penyakit kronis. Kisah pilu datang dari Almazah Abu Haniyah, seorang ibu paruh baya yang berjuang melawan kanker. Tepat di awal perang, ia sebenarnya telah mengantongi izin rujukan medis untuk berobat ke luar Gaza. Namun, blokade ketat dan penutupan seluruh pintu perbatasan membatalkan asa tersebut.
Selama 1.000 hari menanti dalam ketidakpastian, sel kanker di tubuhnya terus menggerogoti hingga kini ia kehilangan kemampuan untuk berjalan. Di atas kursi rodanya, ia hanya bisa menatap gerbang perbatasan yang tertutup, berharap keajaiban datang sebelum napasnya terhenti.
Masa Kecil yang Direnggut dan Antrean Bertahan Hidup
Bagi anak-anak Gaza, perang telah menghapus arti kata “kebahagiaan”. Muhammad al-Qadoumi, seorang anak yang kehilangan dunianya, menceritakan bagaimana ia harus menyaksikan teman-teman bermainnya tewas satu demi satu. Sekolah tempatnya belajar telah runtuh menjadi puing, begitu pula dengan rumah, kamar mainan, dan klub olahraga tempatnya biasa menghabiskan waktu.
Di sudut pengungsian lain, Anas al-Naqlah yang melarikan diri dari lingkungan Tel al-Sultan di Rafah, membagikan getirnya taktik bertahan hidup setelah kehilangan ayah dan sepupu-sepupunya.
“Hidup kami kini menyusut menjadi rutinitas yang melelahkan: mengantre berjam-jam demi beberapa liter air bersih dan sepiring makanan dari dapur umum. Kami terjebak dalam siklus penderitaan tanpa tahu kapan semua ini akan berakhir,” kata Anas.
Rumah yang Dibangun Bertahun-tahun, Rata dalam Sekejap
Kepedihan serupa juga dirasakan oleh Munawwar al-Ra’i, pengungsi dari wilayah Juhr al-Dik. Saat ini, ia dan keluarganya terpaksa meringkuk di dalam tenda plastik yang pengap dan membakar di bawah terik matahari. Yang paling menyakitkan, ia mengetahui rumahnya telah hancur justru dari sebuah foto yang tidak sengaja lewat di media sosial.
“Bertahun-tahun kami memeras keringat dan menabung untuk membangun rumah itu. Semuanya lenyap hanya dalam hitungan detik. Sekarang, mimpi untuk memiliki hidup yang stabil terasa jauh lebih jauh dari langit,” ucapnya menahan tangis.
Seribu hari telah berlalu, namun bagi warga Gaza, setiap fajar yang menyingsing bukanlah tanda dimulainya hari yang baru, melainkan babak baru dari perjuangan panjang untuk tidak mati di tanah mereka sendiri.










