RAMALLAH – Eskalasi kekerasan di Tepi Barat yang diduduki mencapai titik didih baru pada Senin (22/6/2026) dini hari. Gelombang penyerbuan serentak yang dilancarkan oleh tentara Israel dan kelompok pemukim ilegal (settlers) menyapu belasan kota dan desa. Malam berdarah ini menyisakan duka mendalam dengan syahidnya dua remaja, puluhan warga terluka, serta rentetan penangkapan sepihak.
Distrik Hebron menjadi titik paling mematikan dalam agresi fajar tersebut. Di dekat permukiman ilegal Karmei Tzur, militer Israel melepaskan tembakan rentetan peluru tajam ke arah kerumunan pemuda. Dua remaja, yakni Issa Arafat Ismail Awad (19 tahun) dan Reda Sami Hassan Awad (15 tahun), syahid seketika di tempat kejadian.
Ironisnya, setelah mengeksekusi kedua remaja tersebut, pasukan Israel langsung menyita dan menahan jenazah keduanya, sebuah praktik kontroversial yang sering digunakan Tel Aviv sebagai posisi tawar politik. Di saat yang sama, beberapa kilometer dari lokasi penembakan, seorang anak kecil lainnya dilaporkan terluka parah akibat ditembak langsung oleh pemukim ilegal Israel di kota Beit Ummar.
Teror Pembakaran di Ramallah dan Penggerebekan Rumah Dokter
Teror tidak hanya datang dari moncong senapan tentara, melainkan juga dari tindakan anarkis para pemukim ilegal. Di wilayah barat distrik Ramallah dan Al-Bireh, tepatnya di desa Shaqba, kelompok ekstrimis pemukim Israel menyusup di bawah kegelapan malam dan membakar sejumlah mobil milik warga Palestina yang terparkir di depan rumah.
Tak jauh dari lokasi pembakaran, armada militer Israel merangsek masuk ke desa Rantis. Mereka mengepung dan mendobrak rumah seorang tokoh intelektual setempat, Dr. Mazen Al-Rantisi. Tanpa adanya surat perintah atau tuduhan yang jelas, dokter tersebut langsung diborgol dan dibawa ke lokasi penahanan yang tidak diketahui.
Penyerbuan Nablus, Jenin, dan Tulkarm: Perempuan dan Pemuda Jadi Korban Pemukulan
Di Nablus, gerbang militer di pos pemeriksaan Sarra dibuka lebar untuk meloloskan konvoi jip tentara. Pasukan Israel menyebar ke wilayah barat, menggeledah paksa sebuah rumah di kota Beit Wazan, lalu bergerak mengacak-acak lingkungan Rafidia dan Al-Makhfiya. Di Al-Makhfiya, seorang pemuda diseret keluar dari rumahnya untuk ditahan.
Brutalitas aparat juga menyasar kaum perempuan. Di desa Kafr Qallil, sebelah timur Nablus, seorang wanita paruh baya harus dilarikan ke pusat medis setelah pingsan akibat dipukuli secara membabi buta oleh tentara Israel menggunakan popor senapan saat rumahnya digerebek.
Sementara itu di Jenin, serangan fajar difokuskan di lingkungan Al-Kharouba. Pasukan Israel menangkap seorang pemuda bernama Ziyad Al-Saadi setelah menggeledah rumah keluarganya. Operasi serupa juga melumpuhkan wilayah Tulkarm; kota-kota seperti Bala’a, Allar, dan Saida dicekam suara sepatu lars tentara. Di Saida, seorang pemuda dilaporkan mengalami cedera serius di kepala setelah menjadi sasaran amuk fisik tentara selama proses interogasi lapangan.
Rentetan serangan terstruktur di Tepi Barat ini menunjukkan bahwa intensitas kekerasan di luar Jalur Gaza sama sekali tidak mereda. Di tengah kepungan penangkapan masal dan hilangnya nyawa anak-anak di bawah umur, faksi-faksi sipil Palestina kini mengeluarkan seruan bersama untuk meningkatkan eskalasi perlawanan guna melindungi tanah dan keluarga mereka dari kebrutalan yang kian tak terkendali.










