GAZA — Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) mendesak komunitas internasional dan badan-badan PBB untuk segera menyeret Israel ke pengadilan internasional atas eskalasi pelanggaran kemanusiaan yang kian brutal terhadap para tahanan Palestina. Hamas memperingatkan adanya dampak fatal dari pengetatan aturan sepihak di dalam jeruji besi Israel.

Kantor Media Tahanan Palestina (lembaga non-pemerintah) pada Sabtu melansir pernyataan resmi Hamas yang membongkar praktik intimidasi terbaru di Penjara Ofer. Pihak otoritas penjara Israel dilaporkan menerapkan prosedur yang sangat ketat dan merendahkan martabat para tahanan, terutama saat mereka hendak ditemui oleh tim hukum.

Bentuk pembatasan baru ini terbilang ekstrem. Durasi pertemuan legal antara tahanan dan pengacara mereka dipangkas paksa hingga hanya tersisa beberapa menit saja. Tak cukup sampai di situ, intelijen Israel juga memasang kamera pengawas (CCTV) di dalam ruang konsultasi hukum, sebuah langkah yang jelas-jelas melanggar privasi dan hak pembelaan terdakwa.

Hamas menegaskan, keberanian sipir penjara Israel menerapkan aturan seketat ini terjadi akibat bungkamnya dunia internasional atas kejahatan pendudukan selama ini. Karena itu, Hamas menyerukan aksi nyata dari negara-negara dunia dan PBB untuk mengisolasi serta menekan Tel Aviv.

Selain itu, organisasi-organisasi hak asasi manusia internasional diminta tidak lepas tangan dan segera bergerak menghentikan pelanggaran ini. Hamas juga mengetuk kesadaran masyarakat Arab dan dunia Islam untuk melipatgandakan dukungan agar sekecil apa pun penderitaan para tahanan di dalam sel tidak berhasil ditutupi oleh Israel.

Penyiksaan dan Kelaparan Sistematis

Sebelumnya, Kantor Media Tahanan Palestina telah mengeluarkan peringatan merah terkait anjloknya kondisi kesehatan para tahanan. Penjara-penjara Israel kini menjadi inkubator penyebaran penyakit akibat pembiaran medis, sanitasi buruk, gizi buruk, hingga kebijakan melaparkan tahanan secara sengaja yang membuat tubuh mereka kurus kering.

Lembaga tersebut juga mengutuk keras rangkaian kejahatan berat yang dialami para tahanan, mulai dari penyiksaan fisik, kekerasan seksual, intimidasi verbal, hingga penghinaan yang merendahkan martabat manusia. Berbagai laporan dari lembaga HAM (baik dari internal Palestina maupun Israel sendiri) mengonfirmasi bahwa puluhan tahanan telah tewas di dalam sel akibat perlakuan tidak manusiawi ini.

Kondisi paling mengerikan dilaporkan terjadi di pusat-pusat penahanan militer. Kamp-kamp ini menampung sebagian besar warga Palestina yang diculik dari Jalur Gaza sejak meletusnya operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Investigasi sejumlah media Israel bahkan sempat membongkar adanya praktik penyiksaan di luar batas kemanusiaan di fasilitas-fasilitas militer tersebut.

Saat ini, diperkirakan ada sekitar 9.500 warga Palestina (termasuk perempuan dan anak-anak) yang mendekam di penjara-penjara Israel. Mereka bertahan hidup di tengah kepungan kelaparan, siksaan, dan diskriminasi medis sistematis yang terus memakan korban jiwa setiap bulannya.

Kondisi jeruji besi Israel ini dilaporkan merosot tajam ke titik nadir sejak Itamar Ben-Gvir menduduki kursi Menteri Keamanan Nasional Israel pada akhir 2022. Politikus sayap kanan radikal tersebut memang secara terbuka menginstruksikan penerapan kebijakan tangan besi untuk mempersulit kehidupan para tahanan Palestina di dalam penjara.

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here