GAZA — Bagi mereka yang menonton perang lewat bentangan layar gawai, konflik di Jalur Gaza mungkin sekadar barisan angka yang bergerak cepat: sekian gedung hancur, sekian korban jiwa baru jatuh, lalu layar digulirkan ke berita lain. Namun bagi dua juta jiwa yang terkurung di dalam kantong pemukiman itu, hidup tidak berjalan sekejap usapan jempol. Di sana, perang telah mereduksi eksistensi manusia ke titik paling primitif, mengubah napas menjadi komoditas mahal, dan menetapkan harga mati untuk sepotong papan kuburan.
Dua laporan investigasi mendalam yang dirilis secara simultan oleh The New York Times (Amerika Serikat) dan Financial Times (Inggris) pada pertengahan tahun 2026 ini memotret realitas mengerikan tersebut. Melalui pendekatan yang berbeda, kedua media elite global itu bermuara pada satu kesimpulan yang sama: agresi militer Israel tidak lagi sekadar menghancurkan beton, melainkan telah merancang ulang struktur harian masyarakat Gaza lewat senjata kelaparan, invasi penyakit, komersialisasi logistik, dan runtuhnya sanitasi paling dasar.
Bilik Operasi di Kamar Kos London
Napas Saleh Abu Shamala (34) tidak pernah benar-benar lega sejak 7 Oktober 2023. Pemuda asal Rafah yang mengadu nasib di London sejak 2022 demi mengejar gelar master di University of Exeter itu mendadak harus mengubah kamar kosnya menjadi ruang kendali darurat. Tugasnya satu: menjaga agar ayah, ibu, dan lima adiknya di Gaza tidak mati besok pagi.
Investigasi The New York Times bertajuk “The Cost of Survival in Gaza” membeberkan bagaimana Saleh telah menguras habis tabungan masa depannya dan mengutang kanan-kiri hingga menembus angka 250.000 dolar AS (sekitar Rp4 miliar) demi membiayai kebutuhan pangan dan medis keluarganya. Kini, ia terjerat utang finansial lebih dari 125.000 dolar AS di Inggris.
Namun, duit hanyalah satu fraksi kecil dari penderitaan. Bagi Saleh, takdir seperti sedang bermain-main dengan warisan traumanya. Saat berusia 10 tahun pada masa Intifada Kedua, adik perempuannya, Shaima (8), tewas ditembak tank baja Israel di depan rumah mereka. Saleh masih ingat betul bagaimana ayahnya berlari membopong tubuh kecil Shaima ke rumah sakit dan pulang dengan baju yang kuyup oleh darah.
Tahun 2021, rumahnya sendiri rata oleh bom, yang memaksanya pergi ke Inggris. Ketika perang besar ini meletus, sejarah kelam itu seperti diputar ulang dengan volume yang lebih keras. Melalui pesan pendek yang didokumentasikan The New York Times, Saleh sempat mengirim pesan peringatan kepada adiknya, Rashad: “Mereka tidak akan menyisakan satu batu pun di atas batu lainnya.”
Ekonomi Gelap di Balik Tepung Terigu
Bagaimana uang ratusan ribu dolar milik Saleh bisa habis dalam waktu singkat untuk satu keluarga? Jawabannya ada pada sistem monopoli logistik yang tercipta akibat blokade ketat Israel.
The New York Times membongkar bahwa militer Israel memangkas habis izin impor dan hanya memberikannya kepada segelintir pedagang Palestina tertentu. Kebijakan ini otomatis melahirkan kartel dagang, sistem makelar berlapis, dan pungutan liar (coordination fees) yang tidak masuk akal untuk setiap truk yang diizinkan melintasi perbatasan.
Biaya pengiriman barang yang nilai awalnya hanya 100 syikal (sekitar 28 dolar AS), bisa melonjak hingga 20.000 syikal (5.700 dolar AS) ketika berhasil menembus perbatasan Gaza akibat rantai suap makelar. Ketua Kamar Dagang Gaza menyatakan bahwa akumulasi biaya koordinasi dan pungli logistik yang dibayarkan para pedagang sejak awal perang telah melampaui 1,5 miliar dolar AS.
Untuk mengirim uang ke keluarganya yang kini terlunta-lunta di tenda darurat kawasan Mawasi, Khan Younis, Saleh terpaksa menggunakan jaringan transfer informal (hawala). Di sini, para makelar memotong komisi hingga 60 persen. Artinya, dari setiap 100 dolar yang dikirim Saleh dengan memeras keringat di London, hanya 40 dolar yang benar-benar sampai ke tangan ibunya.
Mimpi Saleh untuk mengevakuasi keluarganya keluar dari neraka itu pun pupus total setelah militer Israel menduduki dan menutup permanen pintu perbatasan Rafah sejak pertengahan 2024.
Suara Tengkorak Bocah yang Pecah
Sistem bantuan kemanusiaan resmi pun telah berganti wajah. Pasca-runtuhnya sistem distribusi lama, AS menyokong berdirinya “Institusi Kemanusiaan Gaza”. Namun, menurut data PBB, titik-titik pembagian bantuan ini justru berubah menjadi perangkap maut. Sedikitnya 1.000 warga sipil tewas di sekitar area distribusi bantuan, mayoritas akibat tembakan tentara Israel yang mengamankan perimeter.
Rashad, adik Saleh, menceritakan kepada jurnalis bagaimana ia mengantre tepung di Rafah dan menyaksikan pemandangan yang meremukkan nalar kemanusiaannya. Di tengah kerumunan massa yang panik oleh letusan senjata, seorang bocah kecil yang tengah berlindung bersama ayahnya di balik beton mencoba melongokkan kepala.
Sebuah peluru tajam langsung menghantam batok kepala anak itu.
“Suara peluru yang merobek dan memecahkan tengkorak kepala anak kecil itu… suaranya persis seperti suara buah semangka yang dibelah dua dengan pisau tajam,” ujar Rashad Abu Shamala, Penyintas di Gaza.
Kematian yang Mahal dan Tragedi Raji
Tragedi keluarga ini mencapai puncaknya sepanjang tahun 2025. Sang ayah, Kamal Abu Shamala, yang mengidap penyakit saraf kronis (Multiple Sclerosis) dan bergantung pada alat pacu jantung, terserang stroke berat. Ia sempat dilarikan ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis. Namun, obat-obatan di sana sudah habis.
Malam di bulan Mei 2025, jet tempur Israel membom bangsal bedah rumah sakit tempat Kamal dirawat, menewaskan dua pasien. Kamal yang setengah lumpuh terpaksa dievakuasi kembali ke dalam tenda plastik yang berdebu tanpa pasokan medis yang layak.
Satu bulan berselang, Juni 2025, ketika Rashad sedang mengurus administrasi medis ayahnya, sang adik yang berusia 27 tahun, Raji, sedang membantu ibunya menyalakan api untuk memasak makan siang di depan tenda pengungsian. Sebuah rudal taktis menghantam tubuh Raji secara langsung, tepat di depan mata sang ibu.
Di London, Saleh terbangun saat subuh oleh telepon dari Rashad yang menangis: “Kita kehilangan Raji.” Detik itu juga dunia Saleh runtuh, terutama ketika ia menyadari bahwa sehari sebelum kejadian, ia sempat mengabaikan satu panggilan telepon dari adik kecilnya itu, satu-satunya panggilan yang tidak ia jawab dalam kurun waktu dua tahun.
Materi penderitaan itu bahkan belum selesai setelah Raji tiada. Untuk sekadar memakamkan jasad adiknya secara layak di tanah Gaza yang penuh puing, keluarga Abu Shamala harus membayar biaya tanah makam yang sangat mahal kepada mafia lokal. Perang telah membuat biaya kematian sama mahalnya dengan biaya bertahan hidup.
Sang ibu, Reem, jatuh dalam depresi berat dengan gejala tremor fisik kronis. Namun, seperti yang dikatakan Rashad, di bawah atap terpal Gaza, “Kami tidak punya waktu untuk meratap.” Saban pagi, urusan mencari seteguk air bersih dan segenggam gandum instan selalu mengalahkan duka terdalam sekalipun.
Di London, Saleh kini memandang bayangannya sendiri dengan asing. Dampak psikologis akibat sindrom rasa bersalah sebagai penyintas (survivor’s guilt) membuatnya kehilangan jam tidur dan mengalami kerusakan rahang karena kerap menggertakkan gigi menahan stres saat terlelap.
“Saya tahu orang yang berdiri di depan cermin ini adalah saya,” ujar Saleh kepada The New York Times. “Tapi wajah ini sudah berubah sepenuhnya.”
Wabah Kelinci Tanah di Mawasi
Jika The New York Times menyoroti aspek finansial dan psikologis individual, laporan harian Financial Times yang ditulis jurnalis Heba Saleh memotret kehancuran ekologis di kamp-kamp pengungsian Gaza melalui artikel investigatif “The Rodent Plague Terrorizing Gaza”.
Hancurnya 80 persen infrastruktur pengolahan limbah dan sistem pipa air bersih berdasarkan data PBB telah mengubah wilayah pengungsian padat di Mawasi menjadi surga bagi perkembangbiakan hama. Sampah medis dan domestik yang membusuk bercampur dengan luapan air selokan menciptakan mutasi populasi tikus dan serangga dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Malik Shanbari, seorang warga Palestina yang mengungsi bersama istri dan dua anaknya di Mawasi, menceritakan pengalamannya mengusir seekor qoridh (tikus tanah) raksasa yang menyusup ke dalam tenda tempat anak-anaknya tidur.
“Ukurannya sebesar kelinci dewasa,” kata Shanbari. Hewan pengerat bertubuh besar itu tidak hanya meneror anak-anak, tetapi juga merobek pakaian, merusak persediaan makanan yang serba terbatas, dan menggigit jemari bayi saat malam hari.
Lebih dari dua juta manusia kini dipaksa berjejal di sisa ruang geografi Gaza yang tidak sampai 40 persen dari luas total wilayah awal, setelah Israel menduduki sisa 60 persen lahan lainnya. Dr. Sally Saleh, Kepala Respons Darurat dari lembaga Medical Aid for Palestinians (MAP) Inggris, menegaskan bahwa ledakan populasi hama ini adalah konsekuensi biologis dari rusaknya sistem kesehatan lingkungan secara total.
Di kamp pengungsian Jabalia, utara Gaza, hancurnya sistem sanitasi memaksa warga menggali lubang tanah terbuka sebagai jamban bersama. Imran Abu Warda, bapak lima anak yang bertahan di sana, mencoba menertawakan takdirnya dengan sarkasme yang getir kepada Financial Times:
“Tikus-tikus dan nyamuk di sini sudah menjadi bagian dari keluarga kami. Kami sering bercanda, hewan-hewan ini sekarang hidup dan tumbuh besar bersama kami, persis seperti anak-anak kami sendiri.”
Dua potret dari dua media besar ini menegaskan satu hal: agresi di Gaza telah melahirkan model penjajahan baru yang tidak lagi membutuhkan peluru untuk mematikan perlawanan sebuah bangsa. Cukup dengan mengunci pintu perbatasan, membiarkan tikus merajalela, membiarkan harga telur meroket hingga ratusan dolar, dan membiarkan para korban membiayai kematian mereka sendiri dari bilik-bilik pengasingan di luar negeri.










