KHAN YOUNIS — Di atas hamparan pasir panas kawasan Mawasi, sebelah barat Kota Khan Younis, sebuah perlawanan sunyi sedang ditulis. Perlawanan ini tidak menggunakan mesiu, melainkan kapur tulis dan potongan kardus bekas.
Di tengah runtuhnya seluruh pilar peradaban akibat perang yang menggilas Jalur Gaza selama lebih dari dua tahun, sekelompok guru perempuan penyintas pengungsian meluncurkan sebuah oase literasi darurat dengan nama yang sarat makna, Gerakan “Iqra”.
Laporan berkala dari koresponden Al-Jazeera Mubasher, Ola Abu Moammar, langsung dari episentrum pengungsian Mawasi, memperlihatkan lanskap sosial yang menggetarkan. Di bawah atap tenda terpal yang pengap dan digelimangi debu, anak-anak Gaza duduk bersila, bahu-membahu dengan ibu dan nenek mereka. Mereka tidak sedang mengantre jatah sup atau air bersih, melainkan sedang mengeja kembali huruf-huruf alfabet yang sempat terhapus dari ingatan mereka akibat trauma panjang.
Merebut Kembali Aksara yang Dirampas Perang
Mustafa Zahir, konseptor sekaligus motor penggerak utama gerakan ini, menegaskan bahwa “Iqra” lahir sebagai dekret darurat atas fenomena amnesia literasi yang menghantui generasi muda Gaza.
“Ini bukan sekadar proyek sekolah minggu. Ini adalah upaya penyelamatan darurat atas putusnya generasi (generational amnesia). Banyak anak di kamp ini yang kehilangan kemampuan dasar membaca dan menulis akibat fase pengungsian yang brutal dan destruktif,” papar Mustafa.
Kondisi kelas darurat ini bergerak jauh di bawah standar kelayakan kemanusiaan. Tidak ada meja kayu, tidak ada jajaran kursi besi, bahkan pensil dan buku tulis merupakan barang mewah yang harus dibagi satu untuk tiga anak.
Mereka terpaksa belajar di dalam tenda dengan suhu ekstrem, menyengat bak oven di siang hari dan menusuk tulang saat malam tiba. Namun, bagi komunitas pengungsi ini, mempertahankan selembar papan tulis di dalam tenda adalah salah satu bentuk shumud (keteguhan iman) yang paling nyata.
Mengajar dengan Metode Primitif-Interaktif
Di sudut lingkaran belajar yang beralas tikar lusuh, Najah Awad, salah satu guru sukarelawan, tampak telaten memperagakan potongan kertas berbentuk huruf. Ketiadaan alat peraga modern memaksa Najah memutar otak, merancang metode pengajaran berbasis aktivitas sensorik dan permainan interaktif guna mengembalikan fokus anak-anak yang terdistorsi suara desing drone di langit.
“Tantangan terbesar kami setiap pagi adalah ruang yang teramat sempit, gelombang murid baru yang terus membeludak, dan nol logistik. Namun, melihat sorot mata para ibu yang setia menemani anaknya mengeja huruf, ada energi moral yang membuat kami menolak untuk berhenti mengajar,” kata Najah.
Simbiosis Tiga Generasi di Bawah Satu Tenda
Uniknya, ruang kelas “Iqra” tidak hanya diisi oleh anak-anak usia sekolah dasar. Tenda terpal ini bertransformasi menjadi ruang pertemuan tiga generasi. Perempuan-perempuan lanjut usia terlihat duduk berdesakan, menyimak setiap dikte yang diberikan guru.
Salah satunya adalah Ummu Muhammad Al-Ujaily. Kendati perang telah merenggut sebagian besar anggota keluarganya dan menyisakan duka yang mendalam, nenek paruh baya ini menolak sisa umurnya dihabiskan dalam ratapan.
“Bagi saya, belajar adalah urusan hidup, agama, dan cara kami membangun masa depan dari titik nol. Kami hanya ingin perang jahanam ini selesai, agar kami bisa merasakan hidup stabil seperti bangsa-bangsa lain di dunia,” ucap Ummu Muhammad lirih namun tegas.
Di sebelahnya, Ummu Taysir, seorang ibu yang ikut mengaji, menambahkan bahwa misinya berada di tenda ini adalah menjadi penopang psikologis bagi anak-anaknya. “Pendidikan anak-anak kami telah dicuri selama bertahun-tahun. Kami butuh dunia melihat bahwa guru dan murid di sini bertaruh nyawa demi sebutir ilmu,” cetusnya.
“Aku Sudah Bisa Mengeja Huruf Ba”
Dampak psikologis dari gerakan ini langsung tercermin pada wajah anak-anak pengungsi. Nagham, bocah perempuan berusia enam tahun, tersenyum bangga memperlihatkan coretan tangan di kertas kumalnya. “Aku sudah tahu huruf dan kata sekarang. Aku sudah bisa membaca. Gara-gara perang, dulu aku tidak bisa lulus TK,” tuturnya polos.
Sementara itu, Uswah, siswi lainnya, dengan khusyuk melantunkan bait-bait Qa’idah Nuraniyah (metode klasik membaca Al-Qur’an) sambil berharap suatu hari nanti ada dermawan yang mengirimkan meja belajar untuk kelasnya. Kebahagiaan serupa juga meluap dari lisan Louay, bocah kecil yang dengan bangga berteriak kepada sang ibu, “Ibu, hari ini aku sudah lulus belajar huruf Ba!”
Gerakan “Iqra” di Khan Younis hanyalah satu dari ratusan riak perlawanan lokal yang bertebaran di sepanjang Jalur Gaza. Ketika ratusan gedung sekolah telah dikonversi menjadi puing beton oleh serangan udara dan sebagian lainnya dipaksakan menjadi barak pengungsian yang kumuh, para guru perempuan ini menolak tunduk pada skenario pembodohan massal (educide).
Di atas pasir Mawasi, mereka membuktikan bahwa selama terpal masih bisa ditegakkan dan kapur masih bisa digoreskan, masa depan Palestina tidak akan pernah bisa dihapus dari ruang sejarah.










