KHAN YOUNIS – Sambil memeluk panci aluminium kosong yang mulai penyok, seorang bocah perempuan berdiri terpaku di sudut kamp pengungsian Al-Mawasi, Khan Younis barat, Jalur Gaza bagian selatan, Selasa (9/6/2026). Di depannya, lautan manusia saling sikut dan berdesakan di bawah terik matahari yang membakar. Mereka tidak sedang mengantre bantuan pakaian atau obat-obatan, melainkan sedang bertaruh nasib demi sesendok nasi.

Horor kelaparan massal (famine) yang sempat mereda kini resmi kembali mencengkeram kamp-kamp pengungsian di Gaza selatan. Pemandangan memilukan ini kembali masif setelah dapur umum raksasa milik lembaga kemanusiaan global, World Central Kitchen (WCK), terpaksa menghentikan total operasionalnya di wilayah tersebut. Berhentinya pasokan makanan dari WCK seketika memutus urat nadi pangan bagi puluhan ribu keluarga pengungsi yang selama ini menggantungkan hidup dari dapur tersebut.

Dalam rekaman lensa mata wartawan lapangan Al Jazeera Mubasher, Jamal Adwan, suasana di Khan Younis hari-hari ini persis seperti masa-masa tergelap agresi militer setahun lalu. Sejak fajar menyingsing, ribuan pria, wanita, hingga anak-anak bertubuh kurus telah berbaris membentuk barisan mengular di depan “Takiya”, dapur swadaya komunitas lokal yang kini menjadi benteng pertahanan terakhir mereka melawan busung lapar.

Pasar yang Tak Lagi Terjangkau

Bagi mayoritas pengungsi, Takiya bukan lagi sekadar alternatif, melainkan satu-satunya cara untuk bertahan hidup. Ambruknya roda ekonomi Gaza membuat harga-harga barang pokok di pasar meroket ke tingkat yang tidak masuk akal. Di sisi lain, blokade perbatasan yang masih ketat membuat pasokan barang konsumsi nyaris lumpuh.

Namun, kapasitas Takiya lokal ini sangat terbatas. Ketika panci-panci besar mulai dibuka, jumlah makanan yang tersedia berbanding terbalik dengan ribuan perut yang kelaparan. Desak-desakan tak terhindarkan. Banyak kepala keluarga yang terpaksa pulang dengan tangan hampa dan air mata berurai.

Di tengah kegaduhan itu, seorang bocah perempuan lain bernama Hala, tampak keluar dari kerumunan dengan wajah lesu. Panci kecil di tangannya tetap kosong. Di usianya yang masih sangat muda, Hala memikul tanggung jawab besar untuk memberi makan tujuh anggota keluarganya.

“Kami tidak punya uang sama sekali untuk beli makanan di pasar. Bahkan kalaupun kami punya sedikit bahan makanan, kami tidak punya gas atau kayu bakar untuk memasaknya,” bisik Hala lirih dengan bibir yang pecah-pecah akibat dehidrasi.

Saat ditanya apa impian terbesarnya hari ini, bocah itu menjawab pendek dengan tatapan kosong, “Saya hanya ingin perang ini benar-benar selesai.”

Menyuapi Sembilan Anak dengan Angan-Angan

Krisis ini juga memukul telak para ibu yang harus memutar otak di dalam tenda plastik mereka. Seorang ibu pengungsi menceritakan bagaimana ia harus menghidupi sembilan orang anaknya, sekaligus merawat suaminya yang sedang mengidap kanker stadium lanjut di tengah keterbatasan obat.

Bagi ibu ini, mendapatkan makanan dari Takiya adalah pertempuran hidup dan mati setiap harinya. Porsi kecil yang ia dapatkan sering kali tidak cukup untuk dibagi rata kepada sepuluh anggota keluarganya.

“Kalau makanannya tidak cukup, kami terpaksa mengganjal perut hanya dengan beberapa lembar roti kering, atau memasak sedikit beras sisa kalau memang ada. Sering kali anak-anak saya menangis karena lapar sebelum tidur,” tuturnya dengan suara parau.

“Saat mereka bertanya, ‘Apakah malam ini kita makan, Ibu?’, saya tidak punya jawaban. Saya hanya bisa memeluk mereka dan membisikkan kata-kata penghibur agar mereka tetap memelihara harapan bahwa esok hari situasi akan membaik. Tapi jujur, saya sendiri tidak tahu sampai kapan kami bisa bertahan seperti ini,” lanjutnya.

Berhentinya operasional World Central Kitchen, yang diperparah dengan masih ketatnya pembatasan pintu masuk bantuan oleh otoritas Israel, kini resmi menciptakan bencana kemanusiaan baru di dalam kamp pengungsian. Takiya-takiya lokal yang dikelola relawan dengan dana swadaya kini sudah berada di titik nadir akibat kehabisan bahan baku.

Jika dunia internasional tetap memilih bungkam dan membiarkan jalur logistik pangan diblokade, maka pemandangan anak-anak gaza yang memeluk panci kosong di Khan Younis hari ini akan segera berubah menjadi laporan kematian massal akibat kelaparan dalam beberapa minggu ke depan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here