GAZA – Kehancuran yang melanda sektor pertanian di Jalur Gaza saat ini bukan lagi sekadar dampak ikutan dari sebuah perang. Di mata para pakar, perusakan masif terhadap ladang, kebun, dan sumber pangan lokal ini adalah bagian dari strategi terstruktur. Sebuah taktik senyap yang dirancang untuk menciptakan kelaparan massal sekaligus mengunci warga Gaza dalam ketergantungan abadi pada bantuan internasional.
Potret getir ini terekam jelas di kawasan Sheikh Ejlin, Kota Gaza. Melalui bidikan lensa jurnalis Al Jazeera, Ghazi Al-Aloul, seorang mazar (petani) bernama Abu Faris memperlihatkan foto-foto di ponselnya. Layarnya menampilkan lembaran kenangan masa lalu: hamparan hijau perkebunan anggur yang rimbun, rimbunnya pohon tin, serta aneka sayur musimannya yang dulu ranum.
“Dulu, Sheikh Ejlin ini surga hijau tempat warga Gaza mencari buah segar,” kenang Abu Faris lirih.
Kini, semua keindahan itu menguap. Operasi buldoser militer Israel menyulap tanah subur tersebut menjadi padang pasir yang tandus. Ribuan keluarga yang menggantungkan hidup dan isi piring mereka dari tanah ini seketika kehilangan pegangan.
Meski tanah mereka sudah hancur lebur, tekad para petani lokal belum mati. Bagi mereka, kembali mencangkul dan menanam di atas tanah yang rusak bukan lagi sekadar urusan mencari uang, melainkan cara paling terhormat untuk bertahan dan melawan balik kepunahan.
Petani lain, Abu Muhammad, menceritakan betapa beratnya memulihkan kebun anggur dan tin yang telah telanjur digilas. “Kami kesulitan setengah mati hanya untuk mencari dan mengalirkan air bersih ke lahan. Tapi kami tidak mau berhenti. Kami rindu melihat pohon-pohon ini kembali berbuah,” ucapnya optimis.
Skenario Kelaparan: 94 Persen Lahan Tani Rata dengan Tanah
Perjuangan para petani ini membentur tembok tebal bernama blokade. Data dari Kementerian Pertanian di Gaza menyebutkan, pasokan pupuk, benih, pestisida, hingga suku cadang mesin pertanian sengaja ditahan atau diperlambat masuknya di pos-pos pemeriksaan Israel.
Akibatnya fatal. Saat ini, luas lahan yang masih bisa ditanami di Gaza menyusut drastis, menyisakan kurang dari 15% dari kapasitas normalnya. Selain karena langkanya modal bertani dan hancurnya sumber air irigasi, nyawa para petani pun taruhannya. Mereka kerap kali ditembaki langsung oleh penembak jitu atau artileri saat sedang menggarap ladang sendiri.
Sebenarnya, upaya menjauhkan petani dari tanah mereka sudah dimulai sejak blokade total diterapkan tahun 2007. Lahan-lahan subur yang berada di dekat pagar pembatas—yang secara historis merupakan keranjang pangan utama Gaza—terus dijadikan zona merah yang terlarang untuk diakses.
Kini, perang menyempurnakan kehancuran itu. Kantor Media Pemerintah di Gaza merilis data yang bikin geleng-geleng kepala: Israel telah menghancurkan lebih dari 94% lahan pertanian dari total luas sekitar 178 ribu dunam. Dampaknya, produksi pangan lokal terjun bebas dari 405 ribu ton per tahun menjadi hanya tersisa sekitar 28 ribu ton saja.
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) bahkan mengeluarkan estimasi yang lebih miris: ruang terbuka yang layak ditanami di Gaza kini menciut hingga di bawah 5%. Sebagian besar lahan sisanya telah rusak permanen atau berada di zona maut yang mustahil dijangkau menurut laporan UNRWA.
Dibuat Kelaparan Berjemaah demi Ketergantungan
Melihat skala kerusakan ini, Dr. Fadel Al-Zoubi, pakar ketahanan pangan sekaligus Penasihat Kebijakan Regional FAO, menegaskan bahwa fenomena ini bukanlah collateral damage atau imbas tidak sengaja dari pertempuran.
“Ini adalah serangan sengaja yang membidik langsung ke jantung sistem ketahanan pangan di Jalur Gaza,” tegas Al-Zoubi.
Merujuk pada data satelit PBB, Al-Zoubi memaparkan potret kehancuran yang sistematis: 87% lahan pertanian rusak, 87% sumur bor tani hancur, dan 80% rumah kaca (greenhouse) runtuh. Sektor yang tadinya menghidupi dan memberi makan 560 ribu jiwa di Gaza kini dibuat lumpuh total.
Pola penghancurannya pun sangat rapi. Yang disasar adalah seluruh rantai produksi: mulai dari sumur air, pipa irigasi, gudang penyimpanan hasil panen, peternakan, hingga pohon-pohonan purba.
Tercatat sekitar 3,8 juta hingga 4 juta pohon produktif telah ditumbangkan. Di dalamnya termasuk 1,6 million pohon zaitun. Menumbangkan pohon zaitun adalah pukulan paling telak, karena pohon ini membutuhkan waktu puluhan tahun untuk bisa tumbuh besar dan menghasilkan minyak kembali.
Menurut Al-Zoubi, dampak jangka panjang dari taktik bumi hangus ini jauh lebih mengerikan dibanding kerugian angka ekonomi. Ini adalah upaya “mengeringkan nadi kehidupan” warga agar mereka tidak punya pilihan selain mengemis pada bantuan pangan internasional. Lewat cara inilah ketergantungan pangan atau food dependency sengaja diciptakan.
Dunia Mulai Lelah Berdonasi
Ironisnya, ketika para petani berdarah-darah ingin bangkit, dunia internasional justru mulai menunjukkan gejala “lelah mendonor”. FAO mengaku telah merilis seruan darurat untuk menggalang dana sebesar 75 juta Dolar AS demi menyuplai benih, pakan ternak, dan alat irigasi bagi petani Gaza.
Namun, apa daya, dana yang terkumpul hingga detik ini belum menyentuh angka 10% dari target. Al-Zoubi menilai mundurnya prioritas para donor internasional ini disebabkan oleh munculnya rentetan krisis global baru di belahan dunia lain, membuat nasib perut warga Gaza kian tersisih dari papan atas agenda kemanusiaan dunia.
Di tengah impitan dana, kelangkaan pupuk, dan bayang-bayang mesin perang yang siap menggilas kapan saja, para petani Gaza tetap kembali ke ladang mereka setiap pagi. Di antara sisa-sisa akar pohon zaitun yang tumbang dan sumur-sumur yang hancur, mereka menanam kembali benih-benih baru—sebuah simbol perlawanan paling sunyi dari manusia-manusia yang menolak mati kelaparan di tanah mereka sendiri.










