AL-QUDS – Rencana sejumlah kelompok di Israel untuk meloloskan rancangan undang-undang (RUU) pembatasan suara azan di Al-Quds dan masjid-masjid Palestina memantik reaksi keras. Imam sekaligus Khatib Masjid Al-Aqsa, Syekh Ikrima Sabri, menegaskan, langkah tersebut hanyalah babak baru dari rangkaian upaya serupa yang ujung-ujungnya selalu patah di tengah jalan.

Bagi warga Palestina, azan bukan sekadar panggilan salat, melainkan hak beragama yang fundamental. Sheikh Ekrima memastikan, umat Muslim di kota suci tersebut tidak akan membiarkan pihak mana pun mengintervensi urusan ibadah mereka.

“Rancangan undang-undang ini bukan yang pertama, dan jelas bukan yang terakhir,” ujar Sheikh Ekrima dalam wawancara khusus bersama Al Jazeera, Rabu malam (3/6/2026).

Ketua Dewan Islam Tertinggi di Yerusalem ini membeberkan bahwa kelompok ekstremis Israel setidaknya sudah empat kali mencoba meloloskan aturan serupa dalam beberapa bulan terakhir. “Dan ini adalah percobaan kelima mereka. Semuanya gagal,” tambahnya.

Hak Mutlak yang Berkumandang Sejak Era Sahabat Nabi

Sheikh Ekrima menegaskan bahwa azan adalah hak melekat bagi setiap Muslim. Berdosa hukumnya jika ada otoritas yang mencoba mendikte bagaimana dan kapan panggilan ibadah itu boleh dikumandangkan, baik dari atas menara masjid maupun dari atap-atap rumah warga.

“Kami tidak pernah mencampuri urusan ibadah agama lain, baik Kristen maupun Yahudi. Jadi, otoritas Israel atau partai-partai ekstremis itu sama sekali tidak punya hak untuk mengutak-atik syiar Islam di Al-Aqsa dan masjid lainnya,” tegasnya lantang.

Secara historis, Yerusalem dan azan adalah dua hal yang tak bisa dipisahkan. Gema takbir dan syahadat sudah mengudara di langit kota ini selama lebih dari 15 abad, sejak pertama kali dikumandangkan oleh sahabat Nabi, Bilal bin Rabah, di hadapan Khalifah Umar bin Khattab.

Menurut Sheikh Ekrima, alasan mendasar mengapa upaya pembungkaman azan ini selalu gagal adalah karena keteguhan warga Yerusalem (Maqdisi) yang menolak berkompromi soal hak syariat. Ia menilai, agenda asli di balik RUU ini sebenarnya adalah pengikisan identitas Islam demi memaksakan status Yahudi (Yudaisasi) secara penuh di Yerusalem.

Belakangan, situasi psikologis kelompok kanan jauh di Israel memang sedang terusik. Atmosfer religius yang kental selama Idul Adha lalu (mulai dari gema takbir yang bersahut-sahutan sejak hari Arafah hingga hari Tasyrik) rupanya membuat kelompok-kelompok radikal Israel meradang.

“Mereka melihat eksistensi Muslim dan warga Palestina di kota ini dengan kacamata fanatisme yang sempit dan perasaan merasa lebih superior,” cetus Syekh Ikrima.

Kontradiksi Logika: Azan Dianggap Bising, Jet Tempur Dianggap Biasa?

Menanggapi argumen para pendukung RUU yang mengklaim suara azan sebagai “polusi suara” atau mengganggu ketertiban, Sheikh Ekrima melontarkan kritik menohok yang membalikkan logika tersebut.

“Bagaimana bisa suara azan dituduh mengganggu, sementara desing peluru, gemuruh tank, dan jet tempur serta roket yang mondar-mandir di langit tidak mereka anggap sebagai gangguan?” tanyanya retoris.

Ia justru menuding balik kelompok ekstremis Israel yang saban hari menodai kesucian kompleks Al-Aqsa. Saat melakukan penggerebekan (isytiham), kelompok-kelompok ini tak jarang menyanyi, menari, dan membuat kegaduhan di area halaman masjid. Belum lagi yel-yel rasis dan ofensif yang mereka teriakkan dalam pawai tahunan Flag March di jalanan Yerusalem. Bagi Sheikh Ekrima, ini adalah upaya telanjang untuk memutarbalikkan fakta.

Ogah Berharap pada Dunia Internasional

Ketika ditanya soal peran global, Sheikh Ekrima menjawabnya dengan realistis. Warga Palestina, katanya, sudah lama tidak menaruh harapan pada apa yang disebut sebagai “dukungan internasional.”

Pengalaman pahit selama berpuluh-puluh tahun di bawah pendudukan membuktikan bahwa kecaman tertulis atau sikap politik dari luar negeri jarang sekali berdampak nyata di lapangan. Kekuatan utama Palestina hari ini, menurutnya, ada pada ketabahan (sumud) warga yang memilih bertahan dan menjaga tanah serta tempat suci mereka dengan tangan sendiri.

“Umat Muslim di Al-Quds tidak akan membiarkan syiar azan ini diusik atau dimanipulasi. Kami akan terus mengumandangkannya di Masjid Al-Aqsa dan seluruh pelosok kota, tanpa batas dan tanpa intervensi,” pungkasnya menutup pembicaraan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here