KOTA GAZA – Subuh baru saja pecah di Distrik Rimal, Kota Gaza. Puluhan ribu warga berbondong-bondong keluar dari tenda-tenda plastik dan reruntuhan beton, melangkah sunyi menuju tanah lapang serta sisa-sisa pelataran masjid yang hancur dihantam bom. Tak ada baju baru yang bersih, tak ada aroma ketupat atau gulai daging. Untuk tahun ketiga berturut-turut, takbir Idul Adha di Jalur Gaza bergema bukan sebagai pengiring sukacita, melainkan sebagai elegi dari sebuah wilayah yang dikondisikan untuk pelan-pelan mati.
Keriuhan pasar menjelang hari raya telah lama lenyap. Tempat-tempat hiburan anak-anak kini rata dengan tanah, bersalin rupa menjadi gundukan batu dan besi berkarat. Di tengah kepulan debu, siluet beberapa milisi perlawanan Palestina tampak berjaga di sudut-sudut area salat—sebuah pengingat keras bahwa gencatan senjata di atas kertas tak pernah benar-benar mendarat di lapangan.
Di sebuah musala darurat di Rimal, ratusan orang duduk bersila di atas tikar seadanya. Khotbah Idul Adha pagi itu bergaung berat. Sang imam, dengan suara bergetar melalui pengeras suara bertenaga baterai, mengingatkan jemaah tentang serangan udara beberapa jam sebelum malam takbiran yang merontokkan sebuah apartemen di barat kota. “Kurban kita hari ini adalah ketabahan,” ujar sang imam. Ia meminta warga yang tersisa untuk saling menguatkan, mengunjungi kerabat yang terluka, dan mendatangi keluarga para syuhada.
Komoditas Elite: Ketika Domba Setara Harga Mobil
Idul Adha tanpa hewan kurban adalah anomali terbesar dalam tradisi Islam, namun di Gaza, itulah realitasnya. Blokade ketat yang menahan pasokan ternak hidup selama bertahun-tahun telah memicu inflasi gila-gilaan. Membeli hewan kurban di Gaza hari ini membutuhkan dana yang sanggup menghidupi satu keluarga selama setahun penuh.
“Dulu, sebelum perang, kami sibuk memilih domba terbaik, membelikan baju baru untuk anak-anak, dan merencanakan kunjungan keluarga,” kata Abu Al-Abd Al-Yaqoubi, seorang warga lokal, saat ditemui usai salat. “Sekarang? Semua energi kami habis hanya untuk memikirkan bagaimana caranya mendapatkan air bersih dan tepung terigu esok hari.”
Krisis Pasokan: Anatomi Kelangkaan Hewan Kurban di Gaza
1.Penyetopan Impor Total:Dampak Embargo Jangka Panjang.
Otoritas Israel menutup pintu perbatasan untuk ternak hidup, membuat angka pasokan impor jatuh ke titik nol.
2.Meroketnya Harga Sisa Ternak:Hukum Pasar yang Rusak.
Minimnya populasi ternak yang selamat dari pengeboman membuat harga hewan lokal melambung di luar nalar sehat.
3.Intervensi Lembaga Filantropi:Ketergantungan Total.
Ritual penyembelihan bergeser dari ibadah personal warga menjadi proyek amal terbatas yang didanai lembaga swadaya luar negeri.
Dapur Data: Menurut pengakuan para pedagang ternak yang tersisa, harga seekor kharaf (domba) berukuran sedang kini menembus angka fantastis: US$ 5.000 (sekitar Rp 80 juta). Angka yang mustahil dijangkau oleh populasi yang 90 persennya kini hidup di bawah garis kemiskinan ekstrem akibat perang.
Anomali di Sudut Restoran: Hanya Empat Ekor Tebu
Tontonan langka sempat memicu kehebohan kecil di pusat Kota Gaza. Beberapa ekor kambing jantan tampak diikat di halaman sebuah restoran lokal. Pemandangan itu begitu ganjil sampai-sampai puluhan anak, perempuan, dan lelaki dewasa berkerumun hanya untuk melihat, memotret, atau sekadar menyentuh bulu hewan-hewan tersebut. Bagi anak-anak Gaza di bawah pengungsian, melihat kambing hidup kini sudah seperti melihat satwa langka di kebun binatang.
“Semua ini bukan milik warga lokal,” kata Jamal Al-Nadi, pemilik restoran sekaligus pedagang ternak. “Kami hanya menjagal 4 ekor tays (kambing jantan) hari ini. Semuanya dibeli oleh lembaga amal internasional dari luar Palestina untuk dibagikan dagingnya kepada keluarga miskin.”
[INFRASTRUKTUR KURBAN GAZA 2026]
Total Hewan Dijagal di Restoran Pusat Kota: 4 Ekor Kambing Jantan
Status Kepemilikan : Proyek Amal Internasional
Target Distribusi : Ribuan Keluarga Pengungsi
Di dekat lokasi penjagalan yang sepi itu, Mamdouh Al-Ashi berdiri merangkul pundak anak perempuannya, Abrar. Lelaki itu sengaja membawa putrinya ke sana demi memancing sedikit senyum di wajah bocah tersebut. “Menonton kambing disembelih sekarang jadi hiburan luar biasa bagi anak-anak di sini,” ujar Al-Ashi dengan senyum pahit. Sudah tiga tahun ia absen berkurban. “Rasanya berat secara batin. Ini bukan cuma soal kehilangan tradisi sosial, tapi hilangnya martabat kami sebagai muslim yang taat.”
Abrar, yang kehilangan suaminya dalam serangan udara tahun lalu, menatap nanar ke arah kerumunan kecil itu. “Dulu rumah kami ramai, keluarga berkumpul, daging kurban digantung di halaman,” kenangnya. “Perang menghapus semuanya. Sekarang kami hanya bisa menonton kambing milik orang lain dari jauh.”
Lebaran di Sheikh Radwan: Memeluk Batu Nisan
Jika di belahan dunia lain Idul Adha dirayakan dengan mengunjungi rumah sanak saudara, di Gaza, rute silaturahmi dialihkan menuju pemakaman. Segera setelah jemaah membubarkan diri dari musala darurat, ribuan orang bergerak menuju Pemakaman Sheikh Radwan di utara Kota Gaza.
Tempat peristirahatan terakhir itu kini padat sesak. Tak ada lagi koridor berjarak atau estetika tata ruang makam; puluhan ribu jenazah baru yang gugur selama perang terpaksa dikubur berdesakan, berlapis, atau disisipkan di sela-sela makam lama karena keterbatasan lahan.
[KRISIS RUANG KEMATIAN: PEMAKAMAN SHEIKH RADWAN]
Lahan Makam Lama ──> Ditumpuk Lapang ──> Puluhan Ribu Jenazah Baru (Syuhada Perang)
Di sana-sini, para ibu dan anak perempuan duduk di atas tanah pembatas makam. Ada yang melantunkan ayat suci Al-Quran dengan nada lirih, ada yang menaburkan kelopak bunga liar, dan tidak sedikit yang berbicara sendiri di depan batu nisan, seolah-olah sang kekasih yang berada di dalam tanah sedang mendengarkan keluh kesah mereka.
Di sudut baris kuburan baru, Iman Abu Sultan duduk bersimpuh di dekat nisan putranya, Ahmad. Pemuda itu adalah anak laki-laki pertamanya yang lahir setelah empat anak perempuan—simbol “fakahat al-bait” atau sukacita pertama di rumah mereka—sebelum sebuah bom merenggut nyawanya pada Agustus 2025.
“Semua hal di rumah masih berbau Ahmad. Kursinya, piringnya, cara dia tersenyum saat lebaran,” kata Iman dengan mata kering, tipe mata yang tampaknya sudah kehabisan air mata untuk menangis. Baginya, makna Idul Adha telah terkubur bersama jasad anak sulungnya. “Orang-orang bilang waktu akan menyembuhkan luka. Mereka keliru. Setiap kali takbiran bergema, jantung saya rasanya seperti diremas kembali. Inilah lebaran kami sekarang: mendatangi mereka yang pergi, bukan merayakan mereka yang ada.”
Matahari kian tinggi di langit Gaza, menghangatkan tenda-tenda pengungsian yang mulai pengap. Beberapa keluarga mulai melangkah pulang meninggalkan areal pemakaman, namun Iman tetap bergeming di samping gundukan tanah anaknya. Gaza malam ini tidak akan menyalakan api panggangan daging kurban; mereka hanya menyalakan lilin kecil di dalam tenda, merawat ingatan tentang mereka yang syahid sebelum sempat mencicipi arti kedamaian.










