JAKARTA – Di tengah kepungan arus modernitas yang seringkali menjebak generasi muda dalam sekat individualisme, urgensi pendidikan karakter berbasis spiritualitas menjadi kian nyata. Menanggapi fenomena tersebut, tim Pengabdian Masyarakat dari Universitas Bina Sarana Informatika (BSI) menginisiasi langkah konkret di SMPN 26 Jakarta melalui program edukasi bertajuk “Internalisasi Nilai Kemanusiaan dalam Perspektif Islam”.
Program ini menjadi wadah untuk mentransfer wawasan akademis. Ini juga menjadi ikhtiar untuk menghidupkan kembali ruh hablumminannas (hubungan baik antar-sesama manusia) di lingkungan sekolah.
Tak Hanya Pintar, tapi Peduli
Fenomena siswa dengan prestasi akademik mentereng namun kering akan empati menjadi kegelisahan tersendiri di dunia pendidikan saat ini. Pendidikan Agama Islam (PAI) dipandang memiliki instrumen lengkap untuk menjawab tantangan tersebut.
Dalam perspektif Islam, kesalehan seorang Muslim tidak hanya diukur dari sujudnya kepada Sang Khalik (hablumminallah), tetapi juga dari sejauh mana ia bermanfaat bagi sesamanya. Hal ini selaras dengan pesan dalam QS. Al-Anfal ayat 9 dan QS. Al-Mumtahanah ayat 8 yang menekankan pentingnya solidaritas dan keadilan sosial tanpa memandang latar belakang.
“Manusia memiliki potensi besar untuk berkembang secara sadar dan bertanggung jawab. Melalui pendekatan humanistik, kita ingin mengikis sifat egoisme dan sikap sewenang-wenang pada diri siswa,” ujar salah satu representasi tim pengabdi, merujuk pada konsep pengembangan potensi manusia yang digagas Abraham Maslow dan Carl Rogers.
Istigosah sebagai Fondasi Spiritual
Kegiatan dimulai dengan suasana khidmat melalui istigosah bersama. Lantunan doa yang dipandu oleh narasumber ahli ini bertujuan membasuh aspek spiritual siswa sebelum mereka menerima materi edukasi. Selepas itu, dialog interaktif pun mengalir. Para siswa diajak menyelami konsep einfuhlung atau empati, sebuah kemampuan untuk merasakan detak kesedihan atau beban orang lain seolah dialami sendiri.
Interaksi sosial di sekolah, menurut teori konstruksi sosial Peter L. Berger, bukanlah sesuatu yang terjadi secara alami begitu saja, melainkan dibentuk melalui pembiasaan terus-menerus. Di sinilah SMPN 26 Jakarta memosisikan diri sebagai ekosistem yang sehat bagi pertumbuhan empati siswa.
Tantangan di Era Digital
Meski disambut antusias, perjalanan menanamkan nilai kemanusiaan ini bukan tanpa kerikil. Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) yang dilakukan tim menemukan bahwa keterbatasan waktu dan perbedaan karakter individu siswa menjadi tantangan tersendiri. Namun, ancaman terbesar justru datang dari luar pagar sekolah, yakni derasnya arus media sosial yang kerap memicu sikap pasif dalam komunikasi langsung serta budaya individualisme yang kian menguat.
Meski demikian, dukungan penuh dari pihak sekolah memberikan optimisme baru. Program ini berpeluang besar untuk menjadi model pembinaan karakter berkelanjutan, tidak hanya di satu sekolah, tapi juga sebagai referensi bagi institusi pendidikan lainnya.
Kontribusi Nyata untuk Generasi Masa Depan
Melalui edukasi ini, para siswa diharapkan tidak hanya cakap menghafal teori agama, tetapi mampu mengejawantahkannya dalam perilaku nyata, Ymenolong teman yang kesulitan, menghargai perbedaan, dan memiliki kepekaan sosial yang tajam.
Bagi Universitas BSI, program ini merupakan bentuk kontribusi nyata dalam mencetak generasi muda yang seimbang. Sebuah generasi yang cerdas secara intelektual, namun tetap memiliki hati yang bergetar saat melihat ketidakadilan, serta tangan yang ringan untuk mengulurkan bantuan. Sebab, pada akhirnya, inti dari pendidikan adalah memanusiakan manusia.










