Setelah empat dekade mendekam di lubang gelap penjara rezim Suriah Bashar al-Assad (yang telah digulingkan), Walid Barakat akhirnya menghirup udara bebas. Namun, kebebasan itu terasa hambar. Tanpa kartu identitas, tanpa paspor, dan tanpa pengakuan negara, pria asal Al-Quds ini kini terjebak dalam “penjara” baru: ketiadaan identitas.
Walid Ayub Barakat (65) tak pernah menyangka bahwa musuh terbesarnya setelah bebas dari penjara Bashar al-Assad bukanlah algojo, melainkan birokrasi. Setelah 43 tahun hilang dalam labirin sel keamanan Suriah, pria kelahiran Yerusalem ini mendapati dirinya menjadi “manusia tanpa nama” di Yordania.
“Ini adalah penjara jenis lain,” tutur Barakat saat ditemui tim Al Jazeera. Ia kini menghabiskan hari-harinya terkurung di dalam rumah. Bukan karena perintah sipir, tapi karena ketakutan. Tanpa selembar pun dokumen pembuktian diri, ia cemas setiap kali berpapasan dengan patroli keamanan.
Bagi Barakat, statusnya saat ini adalah “kematian sipil”. Namanya terhapus dari catatan resmi Yordania karena ia ditangkap bertahun-tahun sebelum sistem nomor identitas nasional (NIK) diberlakukan di sana. Kini, ia tak punya akses kesehatan, tak bisa menyewa rumah atas namanya sendiri, bahkan tak bisa membeli sekadar kartu SIM ponsel.
“Identitas adalah martabat manusia,” ucapnya lirih. “Saya hanya ingin hidup sebagai manusia yang punya nama dan identitas. Bahkan jika saya mati nanti, saya ingin ada akta kematian yang mencantumkan nama saya.”
Warisan Luka dari “Cabang Khatib”
Tubuh Barakat adalah peta penderitaan. Empat puluh tiga tahun berpindah dari satu sel ke sel lain, ia membawa oleh-oleh permanen dari tangan para penyiksa. Mata kirinya buta, rahangnya hancur, dan ia kehilangan seluruh giginya akibat siksaan selama interogasi.
Ia mengenang “Cabang Khatib”—salah satu pusat penahanan paling angker di Damaskus—sebagai neraka di bumi. “Di sana, mereka menguliti punggung saya, dari leher hingga ke bawah,” kenangnya. Siksaan itu dilakukan terus-menerus demi memeras pengakuan palsu atas kejahatan yang tak pernah ia lakukan.
Meski sudah satu tahun empat bulan bebas, trauma itu belum pergi. Barakat sering terbangun di tengah malam dengan rasa ngeri yang mencekam, seolah-olah bayangan algojo masih berdiri di sudut kamarnya.
Cucu yang Lebih Tua dari Ingatan
Salah satu momen paling menyesakkan adalah ketika ia bertemu kembali dengan keluarganya. Barakat meninggalkan Yordania 43 tahun lalu, saat putri kecilnya baru berusia dua bulan.
Ketika ia pulang, bayi merah itu telah bertransformasi menjadi seorang ibu dengan anak-anak yang sudah beranjak dewasa. Selama 24 tahun pertama masa penahanannya, keluarga Barakat bahkan tidak tahu apakah ia masih bernapas atau sudah menjadi kerangka di kuburan massal.
Kini, impian Barakat sederhana namun terasa mustahil tanpa paspor: ia ingin menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci. Namun, mimpinya terbentur kenyataan pahit. Jangankan terbang ke luar negeri, untuk masuk ke rumah sakit guna mengobati luka-luka lamanya saja ia tertolak karena ketiadaan dokumen.










