JENEWA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melontarkan desakan keras kepada otoritas Israel untuk segera membuka keran distribusi obat-obatan dan pasokan medis dasar ke Jalur Gaza tanpa penundaan. Desakan ini muncul di tengah kondisi sistem kesehatan Gaza yang lumpuh total akibat blokade berlapis yang kian mencekik dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menegaskan bahwa pemulihan layanan kesehatan skala besar di wilayah kantong tersebut mustahil dilakukan selama akses logistik masih disandera. Melalui pernyataannya di platform X, Tedros menyoroti betapa daruratnya situasi di lapangan, di mana hak warga untuk mendapatkan pengobatan dasar telah dirampas oleh tembok-tembol birokrasi dan militer.

“Kebutuhan kesehatan di seluruh Gaza sangatlah masif. Kami mendesak penghapusan hambatan birokrasi terhadap obat-obatan esensial dan pencabutan pembatasan akses masuk,” ujar Tedros tegas.

Membangun di Atas Puing Kehancuran

WHO melaporkan bahwa pihaknya baru saja mendukung pendirian pusat kesehatan keluarga baru di Gaza Utara. Wilayah ini merupakan salah satu titik paling kritis di mana layanan medis hampir mustahil ditemukan, membuat ribuan warga sipil kehilangan akses terhadap pengobatan paling mendasar sekalipun.

Kehadiran pusat kesehatan ini diharapkan bisa memangkas jarak antara pasien dan layanan medis. Namun, Tedros mengingatkan bahwa gedung hanyalah cangkang kosong jika stok obat-obatan dan peralatan medis tetap tertahan di pintu perbatasan. “Tanpa pasokan yang berkelanjutan, pusat kesehatan ini tidak akan bisa menjawab besarnya beban penderitaan warga,” tambahnya.

Genosida Melalui Blokade

Realitas di Gaza saat ini adalah sisa-sisa kehancuran dari perang pemusnahan yang meletus sejak 7 Oktober 2023. Meski kesepakatan gencatan senjata telah dicapai setelah dua tahun agresi brutal yang didukung Amerika Serikat, nyatanya “perang” belum benar-benar usai bagi warga Gaza.

Agresi tersebut telah meninggalkan luka permanen: lebih dari 72 ribu warga Palestina syahid dan 172 ribu lainnya luka-luka. Namun, kematian kini mengintai melalui cara lain, yakni kelaparan dan ketiadaan obat-obatan.

Dari total 2,4 juta jiwa penduduk Gaza, sebanyak 1,5 juta orang kini berstatus tunawisma. Mereka bertahan hidup di tenda-tenda darurat yang tidak layak, tanpa jaminan sanitasi maupun nutrisi.

Israel, yang telah memblokade Gaza sejak 2007, kini menggunakan bantuan kemanusiaan sebagai senjata politik. Penahanan bahan pangan, tenda pengungsian, hingga alat bedah esensial menciptakan bencana kemanusiaan yang sengaja dipelihara. Bagi WHO, membiarkan obat-obatan masuk bukan lagi sekadar urusan logistik, melainkan ujian bagi sisa-sisa rasa kemanusiaan dunia yang masih tertinggal.


Sumber: Al Jazeera / Anadolu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here