AL-QUDS- Ambisi Israel di bawah Benjamin Netanyahu untuk mengosongkan Jalur Gaza dari penduduk aslinya bukan lagi sekadar isu burung. Laporan terbaru dari harian Israel, Haaretz, mengungkap manuver senyap Caroline Glick, Penasihat Urusan Internasional Netanyahu, yang mencoba melobi sejumlah negara untuk menampung warga Palestina yang terusir dari Gaza.
Targetnya tak main-main: mulai dari wilayah pecahan Somaliland hingga Republik Demokratik Kongo. Meski “gerilya” diplomatik ini disebut-sebut menemui jalan buntu, langkah ini menunjukkan betapa seriusnya upaya sistematis Israel untuk melakukan pembersihan demografis di Gaza.
Manuver di Balik Layar
Menurut laporan Haaretz, Netanyahu menugaskan Glick secara khusus pada Februari 2025 lalu. Misi utamanya cuma satu: mendorong skema pemindahan paksa warga Palestina dari Jalur Gaza. Glick dikabarkan langsung bergerak mendekati otoritas di Somaliland—wilayah separatis di Tanduk Afrika—serta pemerintah Kongo. Namun, upaya itu hingga kini dilaporkan nihil hasil.
Tak hanya ke Afrika, Glick juga “menjajakan” ide ini ke pejabat Kedutaan Besar Amerika Serikat di Israel. Langkah ini diduga kuat berkaitan erat dengan proposal kontroversial Donald Trump, “Gaza Riviera”.
Apa itu ‘Gaza Riviera’?
Istilah “Gaza Riviera” mendadak viral setelah Trump melontarkannya pada Februari 2025 lalu. Idenya terdengar seperti proyek properti mewah: menyulap Jalur Gaza menjadi resor wisata kelas dunia dan pusat ekonomi eksklusif. Namun, ada harga mahal yang harus dibayar: penduduk asli Gaza harus dipindahkan ke negara ketiga di bawah label “migrasi sukarela”.
Istilah “sukarela” ini pun dikritik keras oleh banyak pihak sebagai eufemisme yang menyesatkan. Kenyataannya, Israel telah menjadikan Gaza sebagai “neraka di bumi” melalui pengepungan total, penghancuran infrastruktur, hingga kelaparan massal yang memaksa warga tak punya pilihan selain pergi demi bertahan hidup.
Profil Caroline Glick: Sang Ideolog Kanan
Siapa sebenarnya Caroline Glick? Penasihat Netanyahu ini bukan orang baru di lingkaran sayap kanan radikal Israel. Lahir di Houston, AS, dan besar di Chicago, Glick pindah ke Israel pada 1991 dan langsung bergabung dengan militer (IDF) sebagai perwira selama lima tahun.
Sebelum masuk ke lingkaran kekuasaan, ia dikenal sebagai jurnalis dan kolumnis tajam yang sering meragukan data demografi Palestina. Lewat bukunya, The Israeli Solution: A One-State Plan for Peace in the Middle East (2014), ia secara terbuka mengampanyekan solusi satu negara yang didominasi Israel.
Realita Pahit di Lapangan
Di tengah lobi-lobi elite tersebut, kondisi 2,4 juta jiwa di Gaza kian mengenaskan. Sejak Maret 2025, Pemerintah Israel bahkan secara resmi membentuk “Kantor Migrasi Sukarela” di bawah Kementerian Pertahanan. Tugasnya? Memberikan insentif dan fasilitas bagi warga Gaza yang mau angkat kaki secara permanen.
Pengepungan yang terjadi sejak 2007, ditambah dua tahun perang yang menghancurkan 90 persen pemukiman, telah membuat 1,5 juta orang kini hidup tanpa atap. Meski secara teknis ada kesepakatan gencatan senjata, blokade bantuan medis dan pangan yang masih ketat seolah menjadi “pesan tak tertulis” dari Israel: pergi atau mati perlahan.
Otoritas Palestina dan Hamas telah berulang kali mengecam skema ini sebagai kejahatan kemanusiaan. Sementara itu, negara-negara Arab secara tegas menolak menjadi penampung dari proyek pengusiran massal tersebut.
Hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari kantor Netanyahu mengenai apakah Glick masih terus mengetuk pintu negara-negara lain untuk melanjutkan agenda pemindahan paksa ini.










