MADRID – Jagat internasional membara. Aksi premanisme laut yang dilakukan militer Israel terhadap kapal-kapal kemanusiaan Global Sumud Flotilla di perairan internasional dekat Yunani memicu gelombang kecaman global yang dahsyat. Tak sekadar mengecam, Spanyol langsung mengambil langkah konkret dengan memanggil diplomat senior Israel di Madrid guna meminta pertanggungjawaban.

Berdasarkan laporan yang dihimpun pada Kamis (1/5), Qatar, Turki, hingga sejumlah negara Eropa, serta PBB dan Hamas, menyatakan satu suara: Israel telah melakukan pelanggaran hukum internasional yang sangat telanjang. Aksi pencegatan ini dianggap sebagai “pirasi” atau perompakan modern yang mencoreng keamanan navigasi dunia.

Kementerian Luar Negeri Qatar dalam pernyataan resminya menegaskan bahwa serangan terhadap armada sipil ini adalah perpanjangan dari blokade zalim atas Gaza.

“Pendekatan pendudukan Israel yang mengepung rakyat Palestina dengan menutup pintu perlintasan, menyerang konvoi bantuan, dan menjadikan makanan sebagai senjata adalah upaya sistematis untuk memperparah tragedi kemanusiaan,” tulis pernyataan tersebut.

Spanyol Menindak, Turki Mengecam

Suhu diplomatik di Madrid memanas. Spanyol tak tinggal diam mengetahui sekitar 30 warganya berada di dalam armada tersebut. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, segera memanggil Kuasa Usaha Israel, Dana Erlich, ke kantornya. Spanyol mengecam keras penahanan armada tersebut dan menuntut keselamatan warganya dijamin sepenuhnya sesuai hukum internasional.

Setali tiga uang, Turki melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Oncu Keceli, mengungkapkan koordinasi intensif antara Menlu Hakan Fidan dan mitranya dari Spanyol. “Intervensi ilegal Israel di perairan internasional Cretan ini membahayakan nyawa warga sipil dari berbagai negara. Masyarakat dunia harus mengambil sikap tegas melawan tindakan melanggar hukum ini,” tegas Keceli.

Kepala Komunikasi Kepresidenan Turki, Burhanuddin Duran, bahkan lebih tajam menyebut serangan ini sebagai “aksi pembajakan yang mencerminkan hilangnya nilai-nilai kemanusiaan.” Menurutnya, menargetkan inisiatif sipil yang didasari nurani murni bukan hanya menyerang bantuan, tapi ancaman bagi nilai kemanusiaan bersama.

‘Apartheid Tanpa Batas’

Pernyataan paling menusuk datang dari Pelapor Khusus PBB untuk Hak Asasi Manusia di wilayah Palestina, Francesca Albanese. Melalui akun media sosialnya, ia menyebut peristiwa ini harus menjadi alarm yang “mengejutkan” Eropa.

“Bagaimana mungkin Israel diizinkan menyerang dan menyita kapal di perairan internasional dekat pantai Yunani/Eropa?” gugat Albanese. Ia menutup pesannya dengan diksi yang sangat kuat: “Apartheid tanpa batas.” Sebuah sindiran tajam atas keangkuhan Israel yang merasa hukum internasional tidak berlaku bagi mereka.

Sementara itu, Italia dan Jerman dalam pernyataan bersama menyatakan keprihatinan mendalam atas penahanan kapal-kapal yang mengangkut warga negara mereka. Roma dan Berlin menuntut penghormatan penuh terhadap hukum humaniter internasional dan meminta Israel menghindari tindakan yang tidak bertanggung jawab.

Kronologi Pencegatan: 21 Kapal Disita

Pada Kamis dini hari, angkatan laut Israel melakukan penyergapan di perairan internasional Laut Mediterania. Sebanyak 21 kapal dari total armada disita secara paksa. Militer Israel dilaporkan menahan sekitar 175 aktivis dari 39 negara dan mulai memindahkan mereka ke daratan Israel untuk proses deportasi atau penahanan lebih lanjut.

Inisiatif “Misi Musim Semi 2026” ini sebenarnya membawa misi mulia: menembus blokade Gaza yang telah berlangsung sejak 2007 dan menyalurkan bantuan bagi 2,4 juta jiwa yang hidup dalam reruntuhan. Ini adalah upaya kedua setelah percobaan serupa pada September 2025 yang juga berakhir dengan serangan militer Israel.

Kondisi Gaza saat ini adalah “paru-paru yang nyaris berhenti bernapas”. Perang yang pecah sejak Oktober 2023 telah merenggut lebih dari 72 ribu martir dan melukai 172 ribu lainnya. Meski gencatan senjata sempat tercapai pada Oktober 2025, Israel terus mencekik pasokan bahan bakar dan obat-obatan, menjadikan bantuan dari laut sebagai harapan terakhir yang kini pun berusaha dipadamkan.


Sumber: Al Jazeera / Anadolu / Laporan Koresponden Internasional

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here