RAMALLAH – Di balik tembok tinggi Penjara Damoun, di wilayah utara Israel, sebuah krisis kemanusiaan sedang memuncak dalam senyap. Data terbaru dari Klub Tahanan Palestina (Palestinian Prisoners Club) menunjukkan lonjakan jumlah tahanan perempuan Palestina menjadi 90 orang sepanjang bulan ini. Ada pola perlakuan yang sistematis: kelaparan paksa, kekerasan fisik, hingga pelecehan melalui prosedur penggeledahan telanjang.
Komposisi para tahanan di Damoun mencerminkan tindakan sapu bersih yang mengkhawatirkan. Di antara mereka terdapat dua anak di bawah umur, seorang ibu hamil yang memasuki usia kandungan tiga bulan, serta dua pasien kanker yang membutuhkan perawatan medis mendesak. Namun, yang paling menonjol secara politik adalah keberadaan 25 tahanan administratif, mereka yang dijebloskan ke sel tanpa dakwaan resmi maupun proses peradilan.
Siasat “Hasutan” dan Sandera Keluarga
Terdapat pola penangkapan menunjukkan bahwa mayoritas perempuan ini ditahan dengan dalih “hasutan” (incitement). Sejak genderang perang bertabuh pada Oktober 2023, jumlah total perempuan yang sempat masuk ke dalam sistem tahanan Israel melampaui angka 700 orang. Beberapa dilepaskan, namun sisanya terjebak dalam limbo hukum.
Pola penahanan ini tidak hanya menyasar aktivis. Klub Tahanan Palestina mencatat adanya praktik penahanan perempuan sebagai “sandera” untuk menekan anggota keluarga laki-laki mereka yang sedang diburu militer.
“Ini adalah salah satu periode paling berdarah dan kelam bagi perempuan Palestina. Pelanggaran yang terjadi mencakup kekerasan fisik hingga seksual,” tulis lembaga tersebut dalam pernyataannya.
Statistik Penjara yang Membengkak
Per April 2026, total penduduk Palestina yang mendekam di penjara-penjara Israel telah menembus angka 9.600 orang. Di dalamnya termasuk 350 anak-anak yang terenggut masa sekolahnya. Lonjakan ini sebanding lurus dengan intensitas agresi di Gaza yang telah menelan lebih dari 72.000 korban jiwa.
Namun, pengawasan internasional terhadap kondisi di dalam penjara hampir nihil. Laporan tentang penggeledahan telanjang yang merendahkan martabat dan isolasi mandiri yang berkepanjangan menjadi kesaksian rutin yang keluar dari balik jeruji. Bagi para pegiat hak asasi, ini bukan lagi sekadar penegakan hukum, melainkan bentuk hukuman kolektif yang menyasar kelompok paling rentan.
Dapur Data: Profil Tahanan Perempuan di Penjara Damoun (April 2026)
| Kategori Tahanan | Jumlah / Detail |
| Total Tahanan Perempuan | 90 orang |
| Tahanan Administratif | 25 orang (Tanpa dakwaan/sidang) |
| Anak di Bawah Umur | 2 orang |
| Kondisi Medis Kritis | 1 Hamil, 2 Pasien Kanker |
| Profesi Teridentifikasi | 3 Jurnalis |
| Tahanan Pra-Perang |










