KHAN YOUNIS – Telepon di genggaman Muhammad bergetar. Layarnya menampilkan nama sang ayah, Ismail al-Haddad, pria yang telah lenyap selama 814 hari. Selama dua detik, Muhammad terpaku. Apakah ini akhir dari penantian panjang?

Harapan itu segera rontok. Di seberang sana, bukan suara ayahnya yang terdengar, melainkan suara berat seorang asing. “Kami menemukan ponsel ini di saku celana pada jenazah yang sudah membusuk. Datanglah ke RS Nasser,” ujar suara itu. Muhammad baru saja menerima konfirmasi kematian melalui kartu SIM yang dipindahkan ke perangkat lain.

Di sebuah liang darurat dekat Bundaran Abu Ala, pakaian yang membungkus tulang-belulang ditemukan oleh seorang pengungsi. Di saku celana itu, sebuah identitas plastik masih terbaca jelas: Ismail al-Haddad. Sang ayah, yang menghilang sejak 23 Januari 2024 saat mencoba membujuk anaknya mengungsi, akhirnya pulang sebagai kerangka.

Statistik dalam Kegelapan

Kasus keluarga Haddad hanyalah satu dari ribuan fragmen yang menutup buku penantiannya. Namun bagi ribuan keluarga lain di Gaza, bab “misteri” masih terbuka lebar. Berdasarkan data Pusat Palestina untuk Orang Hilang dan Hilang Paksa, diperkirakan ada 7.000 hingga 8.000 orang yang nasibnya masih mengambang di zona abu-abu.

Nada Abu Aita, Direktur Pusat tersebut, menyebutkan bahwa status “hilang” di Gaza saat ini adalah kategori hukum yang paling rentan dimanipulasi. “Kami telah mendokumentasikan 3.000 hingga 4.000 kasus secara resmi, tapi belum ada satu pun yang bisa diputuskan nasibnya secara final,” ujarnya, dikutip Al Jazeera.

Masalahnya sistemik. Hukum Humaniter Internasional mensyaratkan bukti fisik jenazah atau konfirmasi penahanan untuk mengubah status seseorang. Di Gaza, kedua syarat itu sengaja dikaburkan. Israel, hingga laporan ini disusun, masih enggan membuka daftar tahanan di penjara-penjara mereka, meskipun komitmen itu sempat disebut dalam draf gencatan senjata.

[Tabel: Pemetaan Angka Kehilangan (Estimasi April 2026)]

KategoriPerkiraan JumlahStatus Lapangan
Tertimbun Puing± 8.500 jiwaTerjebak di bawah gedung 5-10 lantai.
Hilang Paksa/Detensi± 3.000 jiwaLokasi terakhir: Checkpoint & Garis Kuning.
Berhasil Dievakuasi1.500 jiwaBaru dievakuasi dalam 5 bulan terakhir.
Telah Didaftar Resmi4.000 kasusMenunggu sinkronisasi data internasional.

Antara Puing dan Penjara

Misteri ini kian rumit karena adanya tumpang tindih antara kematian dan penahanan. Belal al-Sharif sempat mengira ayah dan saudaranya ditahan di penjara Israel setelah nama mereka muncul di daftar tak resmi. Namun, harapan itu pupus saat nama serupa yang dibebaskan ternyata orang lain.

Saksi mata tetangga akhirnya mengonfirmasi: keduanya berada di dalam gedung lima lantai yang luluh lantak di Falouja saat serangan udara terjadi. Tanpa alat berat, gedung itu kini menjadi nisan permanen. Sang ibu kini hanya bisa berkunjung ke onggokan beton itu, memperlakukannya sebagai makam tanpa nama.

Penyusutan Data dan Kendala Lapangan

Mahmoud Basal, juru bicara Pertahanan Sipil, mengakui adanya disparitas angka. Pada awal agresi, laporan warga menyebut angka 10.000 hilang. Kini, setelah 1.500 jenazah dievakuasi, masih ada lubang besar sebesar 8.500 jiwa di bawah reruntuhan.

Mengapa pendataan begitu kacau?

  1. Mobilitas Pengungsi: Banyak keluarga yang melapor lalu mengungsi lagi, memutus komunikasi dengan petugas data.
  2. Ketiadaan Alat Berat: Evakuasi seringkali berhenti di permukaan karena keterbatasan ekskavator.
  3. Penghilangan Jejak: Banyak jenazah di jalanan yang dimangsa hewan atau dikubur tergesa-gesa oleh orang asing tanpa penanda.

Istri yang Digantung Nasibnya

Di sisi lain, ada kategori “hilang di balik jeruji”. Israa al-Arair adalah salah satu perempuan yang hidup dalam limbo psikologis. Suaminya hilang sejak 7 Oktober. Ia terjepit antara mendoakan keselamatan suaminya sebagai tawanan atau membacakan Yasin sebagai janda.

“Saya sesak setiap kali orang memanggil saya janda. Saya tidak tahu status saya sendiri,” ucapnya getir. Suara anaknya yang kelaparan menanyakan sang ayah kian memperdalam luka tersebut.

Upaya Membangun “Bank Data Nasional”

Pertahanan Sipil dan lembaga HAM kini mulai bergerak lebih taktis. Mereka sedang menyusun formulir standar untuk membangun basis data nasional orang hilang. Tujuannya jelas: mendesak Komite PBB untuk Penghilangan Paksa agar mengintervensi Tel Aviv.

Gaza saat ini sedang menghadapi risiko yang sama dengan Irak atau Suriah, di mana ribuan file orang hilang perlahan terlupakan seiring waktu. Jika dunia internasional tetap membiarkan Israel bungkam soal daftar tahanan dan menghalangi alat berat masuk, Gaza tidak hanya akan menjadi kuburan massal, tapi juga museum besar bagi orang-orang yang “dihapuskan” dari sejarah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here