Peristiwa penembakan yang menyebabkan seorang pemuda Palestina, Alaa Subeih (28), syahid di Desa Tayasir, timur Tubas, Tepi Barat, kembali membuka tabir eskalasi kekerasan di kawasan itu. Insiden ini bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari rangkaian panjang serangan yang kian intens dalam beberapa bulan terakhir.
Militer Israel mengakui pelaku penembakan adalah seorang tentara yang sedang cuti. Pengakuan ini menimbulkan pertanyaan serius: sejauh mana batas antara tentara dan pemukim di lapangan? Dalam banyak kasus, warga Palestina menyebut kekerasan datang dari dua arah (seragam militer dan pakaian sipil) yang sulit dibedakan di titik-titik permukiman.
Alaa ditembak saat hendak menuju lahan pertanian keluarganya. Hingga kini, jenazahnya masih ditahan dan belum diserahkan. Ayahnya, Khaled Subeih, mengatakan keluarga belum bisa menguburkannya secara layak. Sepupunya, Fares, menyebut Alaa seperti pemuda lain di desa itu, turun menjaga tanah mereka dari serangan pemukim.
Lahan Subur di Bawah Tekanan
Serangan yang menewaskan Alaa bukan hal baru bagi para petani di kawasan “Al-Safah” di Tayasir. Mereka menghadapi intimidasi hampir setiap hari—mulai dari pengrusakan properti hingga pembakaran rumah. Salah satu yang terdampak adalah keluarga Al-Faqir, yang rumahnya dibakar, serta sejumlah petani lain yang mengalami kekerasan serupa.
Anan Daramah berdiri di tengah kebunnya yang luas, sekitar 120 dunam, memandangi pohon-pohon aprikot, persik, lemon, tin, dan zaitun yang ia rawat bertahun-tahun. Lahan itu dulunya hanya padang penggembalaan, lalu ia ubah menjadi sumber pangan yang menopang lebih dari 20 keluarga.
Namun, kerja panjang itu kini berada di bawah ancaman. Meski lahannya berada di wilayah “A” (yang secara administratif berada di bawah kendali Palestina) serangan tetap terjadi.
Perjanjian Oslo II pada 1995 memang membagi Tepi Barat ke dalam tiga zona. Wilayah “A” seharusnya di bawah kontrol Palestina, “B” di bawah kontrol sipil Palestina dan keamanan Israel, sementara “C” sepenuhnya dikuasai Israel dan mencakup sekitar 60 persen wilayah. Namun di lapangan, batas itu kerap tak berarti.
Serangan yang Kian Terbuka
Bentuk serangan terhadap petani tak lagi sebatas perusakan tanaman. Anan menceritakan, dalam satu pekan terakhir, kelompok pemukim menyerang mereka secara langsung. Ia dipukuli hingga tangannya patah, sementara rumah tetangga dan kendaraannya dibakar.
“Seminggu lalu mereka datang, memukul kami, menghancurkan tulang saya, lalu membakar rumah dan mobil,” katanya.
Situasi memburuk sejak tiga bulan terakhir, setelah pemukim mendirikan pos ilegal di dalam desa, di atas lahan milik warga. Meski sempat dibongkar setelah protes, upaya mendirikan pos baru terus berulang, termasuk di wilayah Al-Aqaba. Dalam beberapa kasus, sumber air juga diambil alih dan tenda-tenda didirikan sebagai awal pendudukan.
Di tengah tekanan itu, Anan tetap bertahan. “Kami membangun tanah ini dari nol. Kami tidak akan pergi,” ujarnya.
Pengusiran yang Terjadi Perlahan
Kisah Anan hanya satu potongan dari gambaran lebih luas di Lembah Yordan bagian utara dan wilayah timur Tubas. Tak jauh dari kebunnya, rumah milik Ali Al-Faqir kini tinggal abu setelah dibakar pemukim.
Api tidak hanya menghanguskan bangunan, tetapi juga barang-barang pribadi, termasuk tas dan buku sekolah anak-anaknya. Keluarga besar berjumlah 16 orang itu terpaksa berpencar mencari tempat aman. Ali sendiri memilih tinggal, menjaga sisa yang ada.
Ia mengaku hanya menerima satu tenda sebagai bantuan darurat, meski sejumlah pihak internasional dan lokal telah mendokumentasikan kerusakan yang dialaminya. Namun ia tetap ingin kembali, karena anak-anaknya masih bersekolah di desa itu dan tidak punya alternatif lain.
Ini bukan kali pertama Ali terusir. Setahun lalu, ia dan keluarganya dipaksa meninggalkan wilayah Al-Malih di utara Lembah Yordan. Kini, situasi serupa terulang di Tayasir.
“Dulu mereka bilang ini wilayah ‘C’. Sekarang kami di wilayah ‘A’, tapi serangannya sama,” katanya.
Menyempitnya Ruang Hidup
Kepala Dewan Desa Tayasir, Hani Abu Ali, menyebut kawasan Al-Safah sebagai salah satu wilayah pertanian terpenting. Namun kini, area itu dikepung pos-pos pemukim yang terus berkembang.
Jarak antara pos dan permukiman warga bahkan tidak sampai 200 meter. Akibatnya, ratusan dunam lahan pertanian dan rumah kaca berada dalam ancaman langsung.
Para petani kesulitan mengakses lahan mereka, baik untuk memanen maupun merawat tanaman. Tidak hanya itu, pemukim juga disebut mengambil alih sumber daya, termasuk menyambungkan jaringan air dan listrik mereka ke fasilitas milik warga Palestina.
“Warga melihat sendiri sumber daya mereka diambil untuk mendukung pos ilegal,” kata Abu Ali.
Tekanan Hukum dan Realitas Lapangan
Upaya melawan ekspansi ini terus dilakukan, baik melalui jalur hukum maupun koordinasi dengan otoritas terkait. Pihak desa mengaku mendapat janji bahwa pos pemukiman terbaru akan dibongkar, meski realisasinya belum jelas.
Abu Ali menyebut perjuangan ini berjalan di dua jalur: hukum dan lapangan. Ia juga mengungkap adanya perpindahan penduduk, terutama dari komunitas Badui, akibat tekanan yang terus meningkat.
Ia mendesak pemerintah Palestina memperkuat infrastruktur di wilayah terpencil (membangun jalan pertanian dan jaringan listrik) sebagai langkah mempertahankan keberadaan warga di tanah mereka.
Ancaman terhadap Masa Depan Wilayah
Peneliti isu pemukiman di Lembah Yordan, Abdel Nasser Makki, melihat apa yang terjadi di Tayasir sebagai bagian dari strategi lebih besar. Ia menyebutnya sebagai “pemukiman berbasis penggembalaan”, yang bertujuan mendorong warga Palestina pergi melalui tekanan harian.
Wilayah Lembah Yordan sendiri mencakup lebih dari 1.000 kilometer persegi dan memiliki nilai strategis tinggi, baik dari sisi pertanian maupun sumber air. Kawasan seperti Tayasir menjadi kunci bagi masa depan wilayah tersebut.
Menurut Makki, kontrol atas kawasan ini berarti menguasai “lumbung pangan” Tepi Barat. Dengan menjadikannya zona militer tertutup, kawasan konservasi, atau pos pemukiman, peluang terbentuknya kedaulatan Palestina di masa depan makin tergerus.
Ia juga menilai bahwa sejak Oktober 2023, batas administratif praktis diabaikan. Wilayah yang seharusnya berada di bawah kontrol Palestina tetap menjadi sasaran operasi militer dan serangan pemukim.
Jika situasi ini berlanjut, Makki memperingatkan potensi “pengusiran paksa” yang terjadi secara perlahan, melalui tekanan ekonomi, keamanan, dan sosial yang membuat warga tidak punya pilihan selain pergi.
Data yang Menguatkan
Lembah Yordan mencakup sekitar 30 persen wilayah Tepi Barat dan menjadi salah satu area paling strategis sekaligus paling tertekan oleh ekspansi pemukiman.
Data dari Otoritas Perlawanan Tembok dan Pemukiman Palestina mencatat, hingga 2025, lebih dari 90 persen wilayah itu telah berada di bawah kendali Israel melalui berbagai kebijakan militer dan penyitaan lahan.
Sepanjang tahun lalu, tercatat 23.827 insiden kekerasan oleh militer Israel dan pemukim, angka tertinggi dalam satu tahun. Dampaknya, setidaknya 13 komunitas Badui dengan total 197 keluarga atau sekitar 1.090 orang terpaksa meninggalkan tempat tinggal mereka.
Sumber: Al Jazeera










