Upaya menembus blokade Gaza kembali digerakkan lewat jalur sipil internasional. Sejumlah relawan dan tokoh publik dari Indonesia mulai diberangkatkan untuk bergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2026, yang dirancang membawa bantuan sekaligus menekan perhatian global terhadap krisis di wilayah tersebut.
Delegasi ini berada di bawah koordinasi Global Peace Convoy Indonesia (GPCI). Keberangkatan dilakukan bertahap. Wanda Hamidah lebih dulu bertolak pada Senin (6/4/2026). Gelombang berikutnya diisi oleh Koordinator GPCI Maimon Herawati, Dewan Pengarah GPCI Muhammad Husein, serta aktivis Chiki Fawzi, Shafawi, Adhin Abdul Hakim, dan Gandi.
Menurut Maimon Herawati, misi tahun ini disiapkan dengan pendekatan yang lebih terstruktur. Proses pengadaan kapal dan koordinasi internasional, kata dia, sudah dimulai sekitar dua bulan sebelum keberangkatan, lebih panjang dibandingkan pengalaman sebelumnya yang serba singkat.
“Kalau sebelumnya waktu persiapan kurang dari satu bulan, sekarang kami sudah melakukan seleksi kapal dan pembayaran sejak awal,” ujar Maimon.
Dia menyebut, perencanaan yang lebih matang diharapkan bisa meminimalkan hambatan teknis saat misi berlangsung.
Rombongan dijadwalkan berkumpul di Barcelona, yang menjadi salah satu titik konsolidasi internasional sebelum pelayaran dimulai. Di kota ini, para peserta akan mengikuti pertemuan lintas negara pada 10 April, sebelum peluncuran kapal yang direncanakan berlangsung dua hari setelahnya.

Di tengah rangkaian persiapan, para peserta juga menekankan pentingnya dukungan publik. Marsha Chikita Fawzi meminta masyarakat Indonesia ikut mendoakan kelancaran misi tersebut. Ia menegaskan, partisipasi mereka bukan sekadar perjalanan simbolik, melainkan upaya menjaga sorotan dunia terhadap situasi di Gaza.
“Ini bukan tentang kami, tapi tentang mereka yang ada di Gaza. Kami ingin perhatian dunia tidak berpaling,” ujarnya.
Pernyataan senada disampaikan Adhin Abdul Hakim. Ia melihat misi ini sebagai gerakan kemanusiaan yang melampaui batas identitas, termasuk agama.
“Ini soal kemanusiaan. Kami berharap masyarakat Indonesia ikut menyuarakan agar dunia mendengar,” katanya.










