Di Gaza, kehadiran komunitas Kristen telah berlangsung lebih dari dua ribu tahun. Namun tahun ini, Paskah kembali datang tanpa perayaan. Bukan karena tradisi ditinggalkan, melainkan karena kondisi yang tak memungkinkan.

Fouad Ayad, 31 tahun, mencoba mencari telur di pasar pada Minggu lalu. Bukan untuk kemewahan, tetapi demi memenuhi harapan anak-anaknya yang terbiasa menghias telur Paskah setiap tahun. Ia tidak menemukan satu pun telur di seluruh wilayah Gaza.

Fouad kini tinggal di pengungsian setelah rumahnya di dekat Rumah Sakit Anak Al-Rantisi, Gaza barat, hancur akibat serangan. Ia mengenang, sebelum perang, perayaan Paskah selalu diisi makan bersama dan menghias telur bersama anak-anak, bahkan anak-anak tetangga Muslim ikut merayakan.

“Itu dulu,” katanya. “Sekarang, tidak ada daging, tidak ada makan bersama. Kami hanya berdoa.”

Gereja Keluarga Kudus, tempat ia biasa beribadah, beberapa kali menjadi sasaran serangan. Ia mengaku kehilangan tiga kerabat di sana. Dalam serangan lain, lebih dari 20 warga Kristen dilaporkan syahid.

Jumlah jemaat yang hadir dalam misa Paskah tahun ini juga menurun tajam. Banyak anggota komunitas telah meninggalkan Gaza. Fouad menegaskan, mereka yang tersisa tetap memilih bertahan. “Kami tetap berdoa. Tapi kami menolak merayakan karena para syuhada,” ujarnya.

Data terbaru menunjukkan jumlah umat Kristen di Gaza kini kurang dari seribu orang. Bahkan sebelum perang, komunitas ini sudah tergolong kecil. Sejak Oktober 2023, sebagian dari mereka menjadi korban dalam serangan yang menghantam rumah dan gereja.

Mereka menjadi bagian dari lebih dari 72 ribu warga Palestina yang syahid sejak agresi dimulai. Sejumlah badan internasional dan organisasi HAM menyebut situasi di Gaza sebagai genosida.

Di tengah keterbatasan, perayaan keagamaan berubah menjadi ruang bertahan. Listrik, air, dan makanan semakin sulit diperoleh. Bahkan telur (bagian penting dalam tradisi Paskah) tidak tersedia.

Pembatasan yang diberlakukan Israel selama bertahun-tahun terhadap arus barang masuk dan keluar Gaza semakin diperketat selama perang. Meski sempat diumumkan gencatan senjata, tekanan terhadap wilayah ini masih berlangsung. Lebih dari dua juta warga hidup dalam kondisi pengungsian.

Elias Al-Jalda, warga Tel Al-Hawa, Gaza, juga mengalami hal serupa. Rumahnya hancur, memaksanya mengungsi bersama keluarganya. Ia sempat berlindung di Gereja Keluarga Kudus sebelum akhirnya menyewa tempat tinggal sementara.

Ia memilih tetap di Gaza utara, berbeda dengan banyak warga lain yang mengungsi ke selatan. “Saya kehilangan teman, tetangga, dan kerabat,” katanya. “Banyak yang syahid saat mencoba tetap dekat dengan rumah dan iman mereka.”

Menurut Elias, Paskah sebelumnya identik dengan kunjungan keluarga, hidangan khas, dan tradisi berbagi. Kini, semua itu hilang. “Tidak ada telur, tidak ada tempat hiburan untuk anak-anak. Bahkan listrik masih jadi masalah besar,” ujarnya.

Cerita lain datang dari Amal Al-Masri, 74 tahun. Ia telah tiga kali mengungsi sejak rumahnya di kawasan Al-Rimal dihantam serangan. Dua tahun terakhir ia habiskan di Gaza selatan tanpa merayakan hari besar keagamaan.

“Bahkan saat Natal, tidak ada perayaan sama sekali,” katanya. “Kami berdoa tanpa kursi, hanya duduk di atas alas seadanya.”

Ia mencoba mempertahankan tradisi sederhana tahun ini, namun banyak yang tak lagi bisa dilakukan. “Saya mencari telur ke mana-mana. Tidak ada satu pun,” ujarnya.

Pembatasan juga berdampak pada akses ibadah di luar Gaza. Selama dua tahun terakhir, umat Kristen tidak dapat melakukan perjalanan ke Kota Tua Al-Quds untuk menghadiri misa di Gereja Makam Kudus.

Pekan lalu, otoritas Israel sempat melarang Patriark Latin Al-Quds, Pierbattista Pizzaballa, memasuki gereja tersebut sebelum akhirnya membatalkan larangan setelah tekanan internasional.

Di saat yang sama, Masjid Al-Aqsa juga ditutup bagi umat Muslim sejak pecahnya konflik regional terbaru.

Bagi Fouad, pengalaman hari itu merangkum situasi yang lebih luas. Ia memulai harinya dengan mencari telur untuk anak-anaknya, dan mengakhirinya tanpa hasil.

“Kami bagian dari tanah ini. Kami merasakan apa yang dirasakan semua orang di Gaza,” katanya. “Apa pun agama atau latar belakangnya, semua warga Palestina menjadi sasaran.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here