Serangan terbaru Iran ke wilayah tengah Israel menandai eskalasi baru dalam pola serangan. Tidak lagi terfokus pada satu titik sasaran, rudal yang digunakan kali ini menyebarkan daya hancur ke area luas, menjangkau kawasan perkotaan padat penduduk.
Menurut laporan jurnalis Al Jazeera di Palestina, Walid Al-Omari, sirene peringatan berbunyi di wilayah yang membentang dari Tel Aviv Raya hingga pesisir, mencakup area dari lereng barat Tepi Barat sampai kota Netanya di utara, termasuk kawasan Bandara Ben Gurion.
Cakupan peringatan yang luas itu memberi petunjuk tentang jenis serangan yang digunakan. Bukan lagi serangan presisi ke target tertentu, melainkan pola serangan area (area bombardment) yang meningkatkan risiko terhadap warga sipil dan infrastruktur.
Pecahan Menyebar Meski Rudal Dicegat
Otoritas Israel mengonfirmasi jatuhnya pecahan rudal klaster di sejumlah titik, termasuk Bnei Brak dan Petah Tikva. Sedikitnya sepuluh lokasi dilaporkan terdampak, dengan kerusakan pada bangunan dan kebakaran kendaraan.
Data awal sempat menyebut tidak ada korban. Namun, seiring masuknya tim penyelamat ke lokasi, jumlah korban luka dilaporkan meningkat menjadi sembilan orang.
Al-Omari menjelaskan, rudal yang mengarah ke Tel Aviv memang berhasil dicegat sebagian. Tapi intersepsi itu tidak sepenuhnya menghentikan ancaman. Muatan rudal tetap terlepas di udara dan menyebar ke berbagai arah.
“Begitu rudal pecah, baik karena meledak sendiri atau dihantam sistem pertahanan, puluhan bom kecil langsung tersebar,” ujarnya.
Cara Kerja Rudal Klaster
Rudal klaster bekerja dengan prinsip penyebaran. Alih-alih menghantam satu titik, rudal ini membawa sejumlah submunisi yang dilepaskan di udara. Setelah terpisah, bom-bom kecil itu jatuh secara acak ke area luas.
Radius sebarannya bisa mencapai diameter sekitar 10 kilometer. Itu sebabnya satu rudal saja bisa memicu dampak di banyak lokasi sekaligus.
Jenisnya pun beragam. Ada yang membawa tiga hingga empat hulu ledak besar, masing-masing berbobot sekitar 100 kilogram. Ada pula yang membawa puluhan bom kecil dengan daya ledak lebih rendah, tetapi menyebar lebih luas.
Varian lain bahkan dapat membawa hingga 80 submunisi, menjadikannya mendekati pola “pemboman area”. Dalam skenario ini, satu serangan bisa menjangkau banyak titik dalam waktu hampir bersamaan.
Tantangan bagi Sistem Pertahanan
Karakteristik ini menjadi tantangan serius bagi sistem pertahanan udara Israel. Meski memiliki lapisan pertahanan seperti Iron Dome, David’s Sling, hingga Arrow, sistem tersebut dirancang untuk mencegat rudal utama—bukan puluhan bom kecil yang menyebar setelahnya.
Artinya, sekalipun rudal berhasil dihancurkan di udara, ancaman belum sepenuhnya hilang. Submunisi tetap bisa jatuh dan meledak di darat.
Gambar dari sejumlah lokasi, terutama di Bnei Brak, menunjukkan kendaraan terbakar dan bangunan rusak. Kerusakan itu diduga kuat berasal dari ledakan submunisi, bukan sekadar serpihan biasa.
Media Israel juga melaporkan pola kerusakan serupa: mobil hangus dan bangunan terdampak akibat jatuhnya bom kecil yang berubah menjadi titik ledakan baru saat menyentuh tanah.
Risiko Lebih Besar di Kawasan Padat
Bnei Brak menjadi salah satu titik yang paling disorot. Kota ini dikenal sebagai kawasan dengan kepadatan tinggi, dihuni lebih dari 270 ribu penduduk. Dalam konteks ini, penyebaran bom kecil di area semacam itu berpotensi menimbulkan dampak berlipat, baik dari sisi korban maupun kerusakan.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan Israel mencatat lebih dari 6.100 orang telah dirawat di rumah sakit sejak konflik meningkat, dengan lebih dari seratus di antaranya masih menjalani perawatan.
Dengan pola serangan seperti ini, garis pemisah antara target militer dan area sipil semakin kabur. Dan itu berarti, setiap intersepsi yang tidak sempurna berpotensi berubah menjadi ancaman baru di darat.










