Pagi Idul Fitri di Al-Quds berlangsung dalam suasana yang tak biasa. Aparat Israel menutup akses menuju Masjid Al-Aqsa dan mencegah warga Palestina menunaikan salat Id di kawasan Bab al-Amud, salah satu pintu utama menuju Kota Tua.
Sejak pagi, polisi Israel disiagakan dalam jumlah besar. Barikade dipasang, akses diperketat. Warga yang mencoba mendekat dipaksa berhenti di titik-titik pemeriksaan. Sebagian mencoba bertahan di sekitar gerbang, berharap bisa tetap mendekat, meski peluangnya kian kecil.
Ketegangan meningkat ketika aparat menembakkan gas air mata ke arah warga di kawasan Bab al-Sahira. Saat itu, sejumlah jemaah berusaha mencapai Al-Aqsa untuk menunaikan salat Id, atau setidaknya mendekat ke pelatarannya. Upaya itu berujung pembubaran paksa.
Al-Aqsa Tetap Tertutup
Di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa, takbir tetap berkumandang. Namun salat Id tidak digelar. Untuk hari ke-21 berturut-turut, kawasan itu masih ditutup oleh otoritas Israel.
Penutupan ini menjadi yang pertama dalam skala dan durasi seperti ini sejak Al-Aqsa diduduki pada 1967. Sebuah preseden yang memperlihatkan perubahan pola pembatasan terhadap akses ibadah di salah satu situs paling sensitif di kawasan.
Bagi banyak warga Palestina, situasi ini bukan sekadar pembatasan keamanan. Ini adalah pembatasan terhadap ruang ibadah yang selama ini menjadi pusat kehidupan spiritual mereka.
Seruan Bertahan
Di tengah pembatasan itu, seruan untuk tetap mendatangi Al-Aqsa terus menguat. Sejumlah kelompok dan tokoh masyarakat mengajak warga untuk mendekat sejauh mungkin ke kawasan masjid dan bertahan di titik-titik terdekat sebagai bentuk kehadiran.
Seruan itu mencerminkan satu hal: upaya menjaga keterikatan dengan Al-Aqsa, meski akses fisiknya dibatasi.
Di luar gerbang, takbir terdengar bersahut-sahutan. Tidak ada saf yang rapi, tidak ada khutbah yang utuh. Yang tersisa adalah kerumunan yang tercerai, dan keinginan yang sama, menjalankan ibadah di tempat yang kini sulit dijangkau.
Idul Fitri di Al-Quds tahun ini tidak berlangsung seperti biasanya. Ia hadir dalam bentuk pembatasan, pembubaran, dan penolakan. Namun di tengah itu, suara takbir tetap terdengar, sebagai penanda bahwa upaya untuk beribadah belum sepenuhnya padam.










