Rabu pagi (18/3/), sebuah tenda pengungsi di kawasan Al-Mawasi, barat Khan Younis, menjadi sasaran serangan pesawat nirawak Israel. Satu warga Palestina syahid, satu lainnya mengalami luka-luka.

Sumber medis menyebut, korban dibawa ke Rumah Sakit Nasser. Di waktu yang hampir bersamaan, artileri Israel menggempur wilayah timur Kota Gaza. Tembakan dari kendaraan militer yang ditempatkan di sisi timur terdengar beruntun. Dari arah laut, kapal perang Israel turut melepaskan peluru dan tembakan senapan mesin ke garis pantai.

Rangkaian serangan ini berlangsung di tengah gencatan senjata yang secara formal telah berlaku sejak 10 Oktober 2025. Namun di lapangan, jeda itu terasa semu. Data menunjukkan, sejak kesepakatan itu berjalan, sedikitnya 673 warga Palestina syahid dan 1.799 lainnya terluka.

Jika ditarik lebih jauh, sejak agresi dimulai pada Oktober 2023, lebih dari 72 ribu warga Palestina telah syahid, dan sekitar 172 ribu lainnya mengalami luka-luka. Infrastruktur sipil dan kawasan permukiman porak-poranda, menyisakan reruntuhan yang hingga kini belum sempat dipulihkan.

Penangkapan Massal di Tepi Barat

Sementara itu, di Tepi Barat, tekanan mengambil bentuk lain. Aparat Israel menggelar operasi penangkapan di Kota Qalqilya dan sejumlah wilayah sekitarnya, menyasar sedikitnya 16 perempuan Palestina.

Sumber lokal menyebut, mayoritas dari mereka adalah istri tahanan (baik yang masih dipenjara maupun yang telah dibebaskan) serta ibu dari para syahid. Penggerebekan dilakukan di sejumlah kawasan, termasuk Azzun, Kafr Thulth, dan Saniriya.

Dua perempuan dilaporkan sempat ditahan sebelum akhirnya dibebaskan setelah pemeriksaan lapangan. Namun operasi serupa terus berlangsung hampir setiap hari, dengan pola yang semakin luas.

Tekanan di Dua Front

Data Palestina mencatat, sejak Oktober 2023, serangan tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat telah menyebabkan 1.132 warga syahid, sekitar 11.700 lainnya luka-luka, dan hampir 22 ribu orang ditangkap.

Di saat yang sama, pembongkaran rumah, pengusiran warga, dan perluasan permukiman ilegal terus berjalan, termasuk di wilayah Al-Quds.

Apa yang terjadi hari ini memperlihatkan satu pola yang kian jelas: tekanan berlangsung di dua front sekaligus. Di Gaza, serangan militer terus menyasar, bahkan hingga ke tenda-tenda pengungsian. Di Tepi Barat, operasi penangkapan dan penggerebekan memperluas lingkaran tekanan hingga ke ruang keluarga.

Di antara angka-angka itu, ada kisah yang tak selalu tercatat: keluarga yang kehilangan, perempuan yang ditangkap, dan anak-anak yang tumbuh dalam bayang-bayang ketidakpastian. Gencatan senjata, dalam realitas ini, terasa seperti jeda yang tak pernah benar-benar ada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here