Persediaan medis di Jalur Gaza semakin menipis seiring terbatasnya akses bantuan kemanusiaan yang masuk ke wilayah tersebut. Sejumlah perlengkapan dasar, seperti kain kasa dan jarum suntik, bahkan dilaporkan sudah habis.
Peringatan ini disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Lembaga kesehatan global itu menyebut sistem layanan medis di Gaza kini berada dalam kondisi yang sangat genting.
Direktur regional WHO untuk kawasan Timur Tengah, Hanan Balkhy, mengatakan persediaan obat-obatan penting dan perlengkapan medis kritis semakin menipis.
“Stok obat esensial, perlengkapan penanganan trauma, serta bahan habis pakai untuk operasi berada pada tingkat yang sangat kritis. Kekurangan bahan bakar juga terus membatasi operasional rumah sakit. Situasinya sangat sulit, dan kami hampir kehabisan apa pun yang tersisa,” kata Balkhy, mengutip informasi dari Kementerian Kesehatan Gaza.
Bantuan Terhambat
Balkhy menjelaskan WHO telah mengirimkan sejumlah pasokan medis serta bahan bakar pada 3–4 Maret. Namun, sebagian bantuan tersebut belum dapat masuk ke Gaza.
Beberapa truk bantuan masih tertahan di El Arish, Mesir, sehingga distribusinya ke Gaza tertunda.
Menurut dia, kebutuhan bantuan harian di Gaza jauh lebih besar dibandingkan jumlah yang saat ini diizinkan masuk.
“Kita berbicara tentang kebutuhan maksimal 600 truk per hari, sementara yang masuk hanya sekitar 200 truk. Jumlah itu jelas tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan di Gaza,” ujar Balkhy.
WHO juga mendesak agar lebih banyak bahan bakar diizinkan masuk. Tanpa pasokan energi yang memadai, rumah sakit di Gaza kesulitan mempertahankan layanan medis dasar.
Rumah Sakit Kewalahan
Krisis tersebut semakin terasa karena separuh dari 36 rumah sakit di Gaza saat ini tidak lagi beroperasi.
Fasilitas kesehatan yang masih bertahan pun bekerja dalam tekanan berat. Banyak rumah sakit kesulitan mempertahankan layanan penting seperti operasi, dialisis bagi pasien gagal ginjal, hingga perawatan intensif.
Sementara itu, pada 3 Maret, badan militer Israel yang mengatur akses keluar-masuk Gaza mengumumkan pembukaan kembali Penyeberangan Kerem Shalom untuk bantuan kemanusiaan secara bertahap.
Sebelumnya, beberapa titik penyeberangan ditutup dengan alasan ancaman serangan rudal dari Iran, menyusul serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap negara tersebut pada pekan lalu.
Ribuan Pasien Menunggu Evakuasi
Di sisi lain, Perlintasan Rafah menuju Mesir (yang selama ini menjadi jalur keluar utama bagi warga Gaza) masih tetap ditutup.
Akibatnya, proses evakuasi medis terhenti. Saat ini sekitar 18 ribu orang, termasuk anak-anak yang terluka dan pasien dengan penyakit kronis, masih menunggu kesempatan untuk keluar dari Gaza demi mendapatkan perawatan yang lebih memadai.
Bagi banyak keluarga di Gaza, waktu kini menjadi musuh yang paling sunyi: setiap hari tanpa akses obat dan perawatan berarti satu langkah lebih dekat pada tragedi yang seharusnya bisa dicegah.










