—Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), secara resmi mengumumkan partisipasi Indonesia dalam Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dalam pertemuan di Hotel Bidakara, Jakarta. Forum ini dihadiri wakil MUI (Majelis Ulama Indonesia), tokoh-tokoh nasional, perwakilan NGO. GPCI menegaskan solidaritas terhadap Palestina merupakan tanggung jawab kemanusiaan dan moral bangsa Indonesia.

“GPCI berencana mengirimkan 100 truk bantuan untuk konvoi darat, partisipasi dalam konvoi laut, dukungan respons medis darurat, advokasi hukum internasional, serta mobilisasi solidaritas publik nasional. Ini bentuk dari komitmen pada konstitusi, bahwa bangsa Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina,” ujar Dr. Maimon Herawati, M.Litt. selaku Koordinator Dewan Pengarah GPCI, saat mempresentasikan GSF 2.0 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Dalam forum internasional, gerakan ini akan bersinergi dengan berbagai aktor global dan political impact di Brussel, termasuk jaringan internasional yang mendorong akuntabilitas hukum melalui mekanisme seperti International Court of Justice. Misi ini tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga terstruktur dalam tiga pilar utama: konvoi darat, konvoi laut, dan advokasi hukum internasional.

Misi GSF berjalan dengan prinsip non-kekerasan, independen dari kepentingan rezim manapun, serta patuh pada hukum internasional dengan transparansi dan akuntabilitas sebagai landasan utama.

Partisipasi dalam GSF dilakukan melalui tiga tahap: registrasi global melalui website resmi, seleksi nasional oleh GPCI dan Dewan Pengarah, serta seleksi internasional melalui Steering Committee Global, di mana koordinator GPCI, Dr. Maimon Herawati, turut di dalamnya.Partisipan

Partisipan tematik meliputi tenaga medis, jurnalis, teknisi, kru kapal, tim legal, pendidik, dokumentaris, hingga relawan umum. GPCI mendorong masyarakat Indonesia untuk mendaftar dan mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing.

Selain partisipasi global, GPCI membangun gerakan nasional yang masif di dalam negeri. Konvoi laut Indonesia direncanakan dimulai dari Labuan Bajo dan bergerak melalui Lombok, Surabaya, Jakarta, Pangkal Pinang, hingga Dumai sebelum bergabung dengan konvoi internasional.

Sepanjang perjalanan kapal phinisi, aksi solidaritas daerah peduli Palestina akan digiatkan dari berbagai lapis masyarakat dan pemerintah. GPCI bekerja sama dengan berbagai elemen masyarakat menyelenggarakan sidang rakyat, gelar budaya pesisir untuk Palestina, konsolidasi ulama dan masyarakat, serta petisi kain panjang Nusantara sebagai simbol dukungan kolektif.

Gerakan ini sebagai pesan kepada dunia bahwa Indonesia tidak diam. “Walaupun peserta konvoi laut dobrak blokade Gaza mungkin hanya 30 orang, seluruh wilayah Indonesia bangkit dan mengumumkan kepada dunia, bahwa bangsa Indonesia bangsa yang tahu membalas budi. Indonesia punya hutang budi ke Palestina dalam dulu mendapatkan kemerdekaannya. Bangsa Indonesia membalas budi itu. Bangsa Indonesia bersama Palestina sampai Palestina merdeka,” kata anggota SC GSF yang juga koordinator GPCI, Dr. Maimon Herawati, M.Litt.

GPCI mengajak seluruh elemen bangsa (masyarakat sipil, tokoh agama, akademisi, seniman, mahasiswa, dan pemerintah daerah) untuk terlibat aktif dalam gerakan ini.

GPCI percaya gerakan ini bukan hanya misi bantuan, tetapi momentum nyata untuk menunjukkan solidaritas dan komitmen moral bangsa Indonesia terhadap Palestina. Menuju peluncuran resmi GSF pada 12 April 2026, GPCI menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk berdiri bersama rakyat Palestina, memperkuat narasi kemerdekaan mereka, dan mengambil peran nyata dalam membela hak dan martabat Palestina.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here