Menteri Keuangan Israel yang dikenal berhaluan kanan ekstrem, Bezalel Smotrich, kembali melontarkan pernyataan kontroversial. Pada Senin, ia menegaskan bahwa Israel pada akhirnya akan menduduki penuh Jalur Gaza dan membangun permukiman Yahudi di wilayah tersebut, meski kesepakatan gencatan senjata telah mengakhiri lebih dari dua tahun agresi yang meluluhlantakkan kawasan terkepung itu.

Dalam wawancara dengan radio Israel, Smotrich menegaskan bahwa target menghancurkan Hamas belum pernah ditanggalkan. Ia menyebut pemerintah Israel “memberi kesempatan” kepada Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menyelesaikan persoalan tersebut dengan caranya sendiri. Namun, jika upaya itu gagal, kata Smotrich, tentara Israel akan bergerak dengan “legitimasi internasional dan dukungan Amerika.”

Pernyataan itu sekaligus mengisyaratkan arah kebijakan yang lebih agresif. Ketua Partai Zionisme Religius tersebut menyebut militer Israel tengah menyiapkan skenario lanjutan apabila Hamas tidak menyerahkan senjata. “Segera akan ada ultimatum,” ujarnya, terkait penyerahan seluruh persenjataan, markas, dan jaringan terowongan. Jika tidak dipenuhi, Israel, menurutnya, akan memperoleh pembenaran untuk bertindak sepihak.

Operasi di Rafah

Di lapangan, militer Israel mengumumkan bahwa Brigade Ketujuh telah menyelesaikan operasi selama tiga bulan di Rafah, selatan Gaza. Tentara mengklaim telah menghancurkan 8,5 kilometer terowongan dan terlibat baku tembak langsung dengan puluhan pejuang selama penyisiran berlangsung.

Dalam pernyataannya, militer juga mengklaim menggagalkan upaya infiltrasi enam pejuang ke arah satu pos militer dan “menetralisasi” mereka. Tiga lainnya disebut gugur dalam serangan ke mulut terowongan, sementara enam jasad ditemukan di dalamnya. Wakil komandan Brigade Ketujuh menyatakan bahwa dalam beberapa bulan terakhir pasukan beralih dari operasi ofensif ke misi pertahanan aktif di Rafah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here