KOTA GAZA — Di antara puing-puing beton dan bangunan yang porak-poranda, warga tetap memadati area bekas Masjid Salah al-Din al-Ayyubi di kawasan Al-Zaytoun, timur Kota Gaza, untuk menunaikan Shalat Jumat pertama pada bulan suci Ramadan.

Seorang pria berjalan melewati bangunan yang dindingnya dipenuhi lubang dan bekas kerusakan, membawa perlengkapan seadanya. Di belakangnya, tumpukan puing menjadi lanskap yang kini akrab bagi warga setempat.

Sepanjang jalan di sekitar masjid, reruntuhan bangunan bertumpuk, menyisakan kerangka beton yang terbuka. Meski demikian, aktivitas warga tetap berlangsung. Sebuah tenda darurat berdiri di tepi jalan, menjadi tempat berteduh sekaligus ruang aktivitas di tengah keterbatasan.

Di atas bongkahan beton, seorang anak berdiri memandangi sekitar. Tatapannya merekam situasi yang membentuk hari-harinya, puing bangunan, debu, dan sisa-sisa struktur yang roboh.

Saat memasuki waktu shalat, puluhan warga mulai membentangkan sajadah di pelataran terbuka yang tersisa. Dengan latar bangunan masjid yang rusak, saf-saf dibentuk rapi. Mereka bersujud bersama, merundukkan kepala di atas sajadah yang digelar di tanah berdebu.

Ekspresi khusyuk tampak di wajah para jamaah. Sejumlah pria duduk bersila menanti khutbah, sementara yang lain menundukkan kepala dalam doa. Di antara mereka, anak-anak turut hadir, duduk berdampingan dengan orang tua.

Barisan jamaah rukuk dan sujud serempak, membentuk saf panjang yang kontras dengan reruntuhan di sekelilingnya. Sajadah berwarna-warni membentang di atas tanah, menjadi penanda ruang ibadah sementara.

Seorang ayah duduk bersama dua anaknya di atas sajadah. Mereka menanti dimulainya salat, dengan latar bangunan yang dindingnya berlubang dan atap yang runtuh.

Dari sudut pandang yang lebih tinggi, barisan jamaah terlihat membentuk saf memanjang di ruang terbuka, diapit puing dan sisa bangunan. Meski masjid tak lagi berdiri utuh, ibadah tetap dilaksanakan.

Di tengah kehancuran fisik, Jumat pertama Ramadan di kawasan Al-Zaytoun tetap diisi dengan doa dan kebersamaan, memperlihatkan keteguhan warga dalam menjalankan ibadah di ruang yang tersisa.










