Seorang perempuan Palestina berusia 80 tahun terluka setelah diserang pemukim Israel di wilayah Masafer Yatta, selatan Hebron, Kamis malam. Di waktu yang hampir bersamaan, tentara Israel melakukan serangkaian penggerebekan di sejumlah kota di Tepi Barat, memicu bentrokan dan menyebabkan puluhan warga mengalami sesak napas akibat gas air mata.

Aktivis pemantau pelanggaran di selatan Tepi Barat, Osama Makhamra, mengatakan sekelompok pemukim menyerang Khirbet Ghuwein. Dalam serangan itu, Mariam Salim al-Hawamdeh dipukul dengan tongkat hingga terluka dan dilarikan ke rumah sakit setempat.

Kantor berita resmi Palestina melaporkan, dua warga (Khalil Ismail al-Adra dan Hamza Mohammad al-Adra) ditangkap setelah pemukim bersenjata menyerang para penggembala di wilayah yang sama. Saksi menyebut para pemukim melepaskan ternak ke lahan milik warga sebelum pasukan Israel masuk dan melakukan penangkapan.

Di Dura, barat Hebron, tentara Israel melepaskan peluru dan gas air mata, menahan serta memperlakukan sejumlah warga secara kasar, serta memaksa beberapa toko tutup. Penggerebekan serupa terjadi di Husan, barat Bethlehem, dan di al-Khadr, dengan tembakan peluru tajam dan gas air mata. Di Beita, selatan Nablus, bentrokan pecah setelah warga menghadang serangan pemukim. Sementara di Jenin, seorang pemuda ditangkap.

Sejak perang di Gaza meletus, kekerasan di Tepi Barat meningkat tajam, mulai dari penembakan, penangkapan massal, pengusiran, hingga ekspansi permukiman. Data resmi Palestina mencatat sedikitnya 1.112 warga tewas, sekitar 11.500 terluka, dan lebih dari 22 ribu orang ditangkap dalam periode tersebut. Banyak pihak Palestina menilai eskalasi ini sebagai bagian dari langkah sistematis menuju aneksasi de facto Tepi Barat.

Di sisi lain, Klub Tahanan Palestina melaporkan jumlah perempuan Palestina yang dipenjara Israel meningkat menjadi 66 orang, termasuk tiga anak perempuan. Sepuluh perempuan, salah satunya anak di bawah umur, ditangkap dalam beberapa hari terakhir. Tuduhan yang paling sering digunakan adalah “penghasutan melalui media sosial”.

Sejak perang Gaza dimulai, lebih dari 680 perempuan ditangkap, angka yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya. Mayoritas ditahan di Penjara Damon, Israel utara, sementara lainnya berada di pusat interogasi.

Menurut organisasi tersebut, para tahanan perempuan menghadapi kondisi yang disebut “tragis”: pembatasan makanan, kekerasan, pelecehan, larangan kunjungan keluarga, hingga dugaan penggeledahan telanjang dan penelantaran medis. Praktik-praktik itu dinilai sebagai bagian dari pola pelanggaran sistematis terhadap hak-hak tahanan.

Per 5 Februari, jumlah total warga Palestina yang ditahan di penjara Israel dilaporkan melampaui 9.300 orang, termasuk sekitar 350 anak. Angka-angka ini memperlihatkan satu pola yang menguat: di luar sorotan utama perang Gaza, tekanan dan kekerasan di Tepi Barat terus bergerak, senyap, tetapi konsisten.

Sumber: Anadolu Agency

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here