Kekerasan bersenjata kembali menyasar anak-anak Palestina. Seorang bocah berusia 15 tahun ditembak peluru tajam oleh pasukan pendudukan Israel di Al-Quds yang diduduki, sementara di waktu hampir bersamaan, operasi militer skala luas digelar di berbagai kota dan desa di Tepi Barat, meninggalkan jejak luka, penangkapan massal, dan teror berkepanjangan bagi warga sipil.

Pemerintah Provinsi Al-Quds melaporkan, bocah tersebut ditembak di al-Eizariya, sebelah timur Al-Quds, setelah unit khusus Israel yang menyamar menggunakan kendaraan sipil melepaskan tembakan ke arah sekelompok anak dan remaja di dekat Tembok Pemisah, kawasan al-Qanathir.

Korban, warga Abu Dis, terkena tembakan di bagian bawah tubuhnya dan mengalami pendarahan hebat. Otoritas setempat menyebut kondisinya kritis.

Alih-alih memberi pertolongan, pasukan Israel justru menutup akses medis. Selama lebih dari satu jam, ambulans dan warga dilarang mendekati korban. Area kejadian dipagari ketat hingga akhirnya tim Bulan Sabit Merah Palestina diizinkan masuk untuk memberikan pertolongan pertama dan mengevakuasi korban ke rumah sakit. Penundaan yang berpotensi mematikan.

Penangkapan Massal dan Luka Tembak di Tepi Barat

Di Tepi Barat yang diduduki, eskalasi berlangsung paralel. Pasukan Israel menangkap 21 warga Palestina dalam penggerebekan besar-besaran di Azzun, timur Qalqilya. Seluruh akses keluar-masuk kota ditutup, rumah-rumah digeledah, properti dirusak, dan warga ditahan untuk interogasi lapangan.

Di al-Bireh, pasukan Israel dikerahkan di sekitar Kamp Pengungsi al-Am’ari, menembakkan peluru tajam dan suar penerangan, tanpa laporan korban, sebuah pola intimidasi bersenjata yang kerap berulang.

Sementara itu di Hebron, seorang pemuda berusia 20 tahun terluka akibat serpihan peluru tajam di tangan dan kaki saat pasukan Israel menyerbu kota Sa’ir, timur laut Hebron. Di Sa’ir dan Beit Ummar, gas air mata ditembakkan secara intens, menyebabkan sejumlah warga sesak napas. Saksi mata menyebut seorang pemuda dipukuli, sementara toko-toko dipaksa tutup.

Di wilayah Masafer Yatta, selatan Hebron, seorang warga Khurbat Jinba ditangkap setelah rumah-rumah warga diserbu dan granat kejut dilemparkan ke area permukiman.

Penangkapan juga terjadi di Salfit, dua warga Deir Ballut (termasuk kepala desa) ditahan saat pasukan Israel menggerebek wilayah barat desa. Di Jenin, rumah-rumah di kawasan timur kota digeledah, tiga pemuda dan dua anak ditahan, sementara identitas warga diperiksa secara massal.

Gereja Angkat Suara

Di tengah gelombang kekerasan ini, suara peringatan datang dari otoritas keagamaan. Patriark Al-Quds dan seluruh Palestina serta Yordania untuk Gereja Ortodoks Yunani, Theophilos III, memperingatkan lonjakan serangan pemukim Israel di Tepi Barat.

Dalam pertemuannya dengan para konsul jenderal dan diplomat asing, Theophilos menyoroti ekspansi permukiman ilegal serta pembatasan kebebasan beribadah di Al-Quds, seraya mendesak aksi internasional yang nyata untuk melindungi warga sipil dan menjamin akses ke tempat-tempat suci.

Ia menegaskan, harga kemanusiaan dari kebijakan pendudukan kian tak tertanggungkan, terutama bagi rakyat Palestina, termasuk di Gaza yang masih dibekap kehancuran.

Pola Kekerasan yang Terus Menanjak

Sejak dimulainya perang genosida di Gaza pada 8 Oktober 2023, Israel secara konsisten meningkatkan agresinya di Tepi Barat dan Al-Quds Timur, melalui pembunuhan, penangkapan, pengusiran paksa, dan perluasan permukiman.

Data resmi menunjukkan, sedikitnya 1.112 warga Palestina syahid, sekitar 11.500 lainnya terluka, dan lebih dari 21.000 orang ditangkap. Angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah penanda normalisasi kekerasan di wilayah pendudukan, yang terus berlangsung di bawah sorotan dunia, tanpa konsekuensi yang sepadan.

Sumber: Al Jazeera, Associated Press, media Palestina

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here