Penahanan dokter Palestina Husam Abu Safiya tidak berdiri sendiri. Ia dibarengi kampanye sistematis yang dirancang untuk meruntuhkan reputasinya sebagai tenaga medis dan membingkainya sebagai aktor militer. Verifikasi digital Al Jazeera menunjukkan bagaimana media Israel dan jejaring propaganda global bekerja membangun legitimasi atas penahanan tersebut.
Pola ini berulang sejak agresi ke Gaza dimulai. Media Israel, dengan sokongan sejumlah platform Barat berhaluan kanan, memainkan peran kunci dalam mengaburkan garis antara sipil dan kombatan. Korban diredefinisi sebagai tersangka. Warga sipil yang seharusnya dilindungi hukum humaniter internasional diposisikan sebagai target yang sah untuk dikriminalisasi.
Pemicu kampanye terhadap Abu Safiya berawal dari sebuah artikel New York Post. Media itu mengklaim seorang dokter di Gaza (yang pernah mengkritik Israel lewat opini) memiliki pangkat militer di Hamas. Tuduhan tersebut hanya bertumpu pada satu foto lama yang memperlihatkan Abu Safiya mengenakan seragam resmi saat menghadiri sebuah seminar publik.
Judul artikel menyajikan klaim itu sebagai fakta final. Namun isi laporannya nihil bukti langsung. Tidak ada dokumen, tidak ada konfirmasi independen. Artikel tersebut hanya mengutip keterangan dari sebuah lembaga pemantau asal Israel tanpa verifikasi silang.

Dalam hitungan jam, unggahan promosi artikel itu menembus jutaan tayangan dan mendominasi percakapan digital. Sejumlah akun propaganda Israel yang telah lama teridentifikasi ikut mengerek jangkauannya.
Amplifikasi dan Hasutan Terkoordinasi
Narasi itu tak berhenti sebagai artikel tunggal. Ia berkembang menjadi kampanye digital berskala luas. Puluhan akun Israel (resmi dan tidak resmi) secara serempak mendaur ulang klaim serupa untuk memperluas jangkauan dan menegaskan label yang sama.
Dua organisasi yang kerap menyerang lembaga internasional pendukung Palestina, NGO Monitor dan UN Watch, berada di barisan depan. Narasi itu lalu diangkat ke level resmi oleh akun pejabat Israel, termasuk Danny Danon, perwakilan Israel di PBB, serta Oren Marmorstein, juru bicara Kementerian Luar Negeri Israel.
Membongkar Rangka Tuduhan
Hasil verifikasi menunjukkan fondasi kampanye itu rapuh. Foto yang dijadikan dasar tuduhan diunggah pada 28 Desember 2016 oleh halaman Layanan Medis Gaza, lembaga sipil yang bekerja di bawah koordinasi Kementerian Kesehatan Palestina dan menangani ambulans serta layanan medis darurat.
Layanan Medis Gaza bukan sayap militer. Ia adalah institusi kemanusiaan terbuka, dengan mandat dan aktivitas yang terdokumentasi jelas di platform resminya.
Penelusuran lebih lanjut juga membantah klaim soal “pangkat” militer. Istilah yang digunakan New York Post untuk mengaitkan Abu Safiya dengan Hamas tidak dikenal dalam struktur organisasi tersebut. Sayap militer Hamas tidak menggunakan sistem kepangkatan formal. Dalam pernyataan resminya, mereka hanya menyebut posisi kepemimpinan tanpa atribut pangkat.
Analisis pola interaksi media sosial menguatkan dugaan adanya kampanye terkoordinasi. Frasa, label, dan tuduhan yang sama didaur ulang secara masif sebelum beralih ke fase hasutan terbuka, ditandai dengan keterlibatan pejabat dan organisasi lobi Israel.
Sekitar 14 bulan setelah penangkapannya, Abu Safiya masih ditahan dalam kondisi yang dilaporkan memprihatinkan. Pelapor Khusus PBB untuk wilayah Palestina yang diduduki, Francesca Albanese, berulang kali menyerukan pembebasannya. Ia juga mendesak komunitas medis internasional memutus kerja sama dengan institusi Israel sebagai protes atas penghancuran sistematis layanan kesehatan di Gaza.
Sumber: Media sosial










